Thursday, June 15, 2017

[Cerpen] Surat Untuk Kirana - Teaser


Assalamualaikum, Kirana.
Apa Kabar?

Aku menulis surat ini di bawah sebuah pohon rindang lapangan sekolah. Tempat pertama kali kita bertemu saat organisasi sekolahmu berkunjung ke mari. Aku melihatmu sungguh cantik sejak pertama kali kita bertemu. Dan juga.... sangat menyebalkan! Meski akhirnya aku tahu hal menyebalkan itu terjadi karena kau adalah gadis yang terlalu kritis, terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak mau. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada perempuan seperti kamu? Haha.


Anyways, aku mengirimkan surat ini karena sedang menggelisahkan sesuatu. Banyak sekali orang yang bilang, jangan hidup di masa lalu. Mereka selalu mengatakan bahwa masa depan adalah bagian sangat penting yang harus dipikirkan dan kita harus move on dari masa lalu. Namun akhir-akhir ini, aku tak bisa berhenti membayangkan masa kecilku, ibu dan bapakku, nenek dan kakekku, teman-teman kecilku, saat menemukanmu.

Kenapa aku merasa kamu bukan hanya masa depan buatku? Kamu justru sebuah memori yang muncul kembali di antara mereka. Mengingatmu seperti mengingat waktu-waktu lalu yang berharga tapi sudah terlupa.

Karena itu, ada rasa bahagia bercampur sesak yang selalu hadir dalam dadaku setiap mengingatmu. Seperti yang sudah kuceritakan, masa laluku tidak seindah itu. Tidak sebahagia masa kecilmu. Sambil tersenyum aku bisa membayangkan wajah protesmu menatapku.

Kau pasti ingin bilang, "kenapa perbedaan masa lalu kita harus jadi masalah untuk membangun masa depan?"

Ya. Maafkan aku Kirana. Aku tak sehebat kamu yang bisa terus-terusan berpikir optimis tentang kita. Aku dengan segudang persyaratan hidup yang kubuat sendiri, menjadi begitu rumit memikirkannya. Kirana, harus aku tegaskan sekali lagi, kalau kau adalah masa lalu juga buatku. Masa lalu yang entah kenapa selama ini hilang, dan baru datang.

Pada kenyataannya, aku yang terlalu pengecut untuk mengangankan masa depan denganmu. Begitu banyak rasa khawatir. Begitu banyak rasa tak yakin (pada diriku sendiri, bukan padamu). Bencilah aku Kirana jika itu yang kau mau. Tapi semoga pada setiap kata yang aku tuliskan di surat ini, kamu bisa merasakan ketulusan perasaanku. Bahwa aku mencintaimu. Dengan sejumput pengetahuan yang baru saja kita tahu. Dengan jutaan ilmu yang belum kita pelajari. Dengan waktu yang entah berdamai atau tidak dengan kita. Apakah dia akan mendukung kita atau tidak? Apakah dia akan membuat kita berhasil bersama atau justru membuat kita saling menjauh?

Tapi Kirana, aku benar-benar mencintaimu. Bagaimana ini?


Agustus 2006
Ditto

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.