Saturday, October 15, 2016

Hal Paling Miris Dari Cerita Mario Teguh VS Kiswinar



Akhirnya saya 'yakin' menuliskan sesuatu tentang kisruh Mario Teguh dengan Kiswinar. Setelah lebih dari sebulan lamanya, nama sang motivator yang biasa dipuji dan menjadi panutan berbalik banyak dibicarakan orang. Tentu hal ini wajar, setelah 10 tahun lamanya Mario Teguh tampil berdiri menjadi seseorang yang sangat inspiratif dan dianggap sempurna, tiba-tiba diketahui merupakan orang yang punya masa lalu menyakitkan.


Mungkin teman-teman yang mengikuti semua sosial media saya sejak tahun 2008 sudah mengetahui bahwa saya juga sangat mengagumi sosok Mario Teguh. Bahkan dalam beberapa masa terpuruk, kata-kata Mario Teguh begitu kuat mempengaruhi saya untuk tetap berpikir positif. Sampai pada suatu titik, saya juga membuktikan kata-katanya. Yang mana tepatnya? BANYAK. Saya sampai terus menerus mempercayainya, stalking Twitter dan Instagram-nya, intensif menonton Youtube-nya tepat saat sebuah masalah atau rasa tidak nyaman itu datang.

Suatu hari, ada seseorang yang menceritakan pada saya perihal anak Mario Teguh selain Audrey dan Marco. Jauh sebelum ada akun Instagram Lambe Lamis dan berbagai akun lainnya. Saat itu, saya tidak mengelak. Saya katakan pada orang itu bahwa, yah, biarlah itu menjadi hal yang diurusnya sendiri. Saya pikir itu masalah keluarga yang berbeda ruang dengan energi positif yang ditebarkannya selama ini. Saya juga tidak pernah menyangka kabar itu akan meledak, sebesar ini, dan berimbas seluas ini.

Takdir yang membawa saya menjadi satu dari editorial team di media online, yang akhirnya mengharuskan saya menulis semua berita tentang Mario Teguh. Saat isu ini keluar, pertama kali saya merasa kasihan. Namun begitu Mario Teguh muncul di Kompas TV dan angkat bicara, saya mulai berpikir. Dua dan tiga kali. Tidak, Empat bahkan puluhan kali. Saya bertanya-tanya, apakah saya salah mengagumi Mario Teguh selama ini? Bahkan saya menganggap nasehatnya seperti suara orang tua sendiri.

Sejak hari kehadiran Mario Teguh di Kompas TV, pemberitaan semakin menjadi-jadi. Isu KDRT hingga perselingkuhan justru tersebar luas di mana-mana. Orang yang dulu pernah mengatakan 'hidup tak seindah kata-kata Mario Teguh' seolah mendapat kesempatan emas untuk menjelek-jelekkannya. Banyak pula yang awalnya kagum, lalu ragu-ragu seperti saya. Ada juga yang bahkan berbalik arah membencinya.

Tapi saya mengingat nasehat seorang Master yang lain, yang tidak kalah berpengaruhnya untuk  hidup saya.

"Yesterday is a history. Tomorrow is a mystery. And today... is a GIFT. That's why they call it 'present'," - Master Oogway - 

Dalam satu fase kehidupan, saya menyimpulkan bahwa apa pun yang terjadi pada diri kita, adalah karena kita sendiri. Even itu adalah masalah yang seolah dibawa oleh orang lain dalam kehidupan kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada benang merah dari efek kejadian tersebut yang berasal dari diri kita sendiri. Maka hal ini juga yang saya rasa 'kesalahan' Mario Teguh. Jika memang di masa lalu ia merasa Kiswinar bukan anaknya, kenapa ia melakukan pembiaran soal namanya pada akta kelahiran Kiswinar? Mengapa masalah ini tidak diselesaikan secara hukum di masa lalu dan dibiarkan menjadi bom waktu? Mengapa sebagai seorang lelaki, ia tak bisa membereskan masalah besar ini dan justru mendiamkannya hingga sekarang?

Namun di sisi lain, bukan itu hal yang paling membuat saya miris. Saya sudah lega dan memastikan bahwa Mario Teguh punya kesalahan, di luar apa pun hasil tes DNA mereka nantinya. Tapi entah kenapa saya tidak pernah nyaman melihat orang menghujat Mario Teguh dengan kalimat yang begitu nyinyir. Sama halnya seperti saya mendengar mereka menghujat Mulan Jameela: you know why.

Setelah kasus ini bergulir, saya masih sesekali melihat meme yang dibuat Mario Teguh di Instagram. Di tengah kekecewaan saya saat pihaknya sempat mengatakan tes DNA tidak lagi relevan, saya bertanya-tanya soal jasanya selama ini. Mengapa ia bisa selama 10 tahun di televisi? Apakah hanya saya yang mendapat inspirasi dan kekuatan dari ceramah yang sering ia berikan? Apakah hanya saya yang  sering membuka beragam motivasinya saat ada masalah yang menghampiri? Apakah hanya saya yang merasa dikuatkan dan dibuat selalu tersenyum?

Saya tahu masalah pahala adalah urusan Tuhan. Tapi jika boleh saya hitung, apa yang telah dibuat Mario Teguh untuk Indonesia bukan hal kecil. Entah seburuk apa pun masalahnya. Sehina apa pun masa lalunya. Karena itu, saya selalu terusik dengan semua budaya saling menghujat ini. Saya benar-benar jengah hingga sesekali ingin berhenti melihat media sosial. Ingin sesekali tidak mengetahui apa pun yang terjadi di luaran sana.

Menghina dan melontarkan kebencian hanya akan membawa kita dalam lubang yang justru lebih buruk dari sosok Mario Teguh. Kembali lagi, mengapa saya akhirnya yakin menulis postingan ini? Jawabannya ada di Instagram Joe Taslim tadi pagi. Aktor ganteng dan penuh prestasi ini mengunggah sesuatu yang menenangkan hati saya.

Foto kiriman Joe Taslim (@joe_taslim) pada


Joe tidak menuliskan secara lengkap siapa yang dimaksudkan olehnya. Tapi entah kenapa melihat gambar ini hati saya teriris. Kadang, kita semua begitu mudah menghina seseorang, tanpa mengerti apa yang sudah dilaluinya, dikorbankannya dan diberikannya. Maka saya mulai melihat semua ini dari prespektif yang berbeda.

Namun di luar itu semua, saya masih percaya seburuk apa pun keadaan yang dihadapi seorang manusia, itu adalah keadaan paling baik versi Tuhan. Tidak ada satu pun hal yang terjadi di dunia ini, di luar kehendakNya. Dan di luar kasih sayangNya. Be strong Mario Teguh. Be Brave, Kiswinar & ibu Aryani. Semoga semua berujung pada solusi terbaik. Aamiin!

Malang, 15 Oktober 2016
-Nadia Adibie- 

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.