Thursday, August 18, 2016

Pernikahan Impian?


Akhirnya saya menulis tentang 'pernikahan' juga. Setelah beberapa waktu terakhir begitu sibuk menyiapkan apa pun yang tentu pernah disiapkan oleh banyak orang (catering, dekorasi, dst). Jadi, bukan cerita itu yang ingin saya tuliskan.

Saya ingin merekam kembali; sebenarnya, seperti apa sih pernikahan impian yang pernah saya bangun dulu?
Pada suatu hari di masa saya lagi jatuh cinta-jatuh cintanya pada cinta pertama, saya pernah main ke pantai di wilayah Gunung Kidul. Seperti gadis-gadis lain yang sedang jatuh cinta, bayangan tentang si doi selalu muncul ke mana pun saya pergi. Tentu saya pernah berkhayal menikah dengannya. Saya membayangkan bagaimana jika ia berhadapan dengan ayah saya, mengucapkan ijab qabul, pakaian yang dikenakannya kala itu, hingga khayalan tak logis tentang liburan bersamanya setelah halal.

Jujur saja, saya pernah menjadi seorang anak ingusan yang bercita-cita memiliki pernikahan indah di masa muda. Tanpa pacaran, lalu bisa secepatnya terikat dalam satu tali yang sah. Yah, sebagaimana anak-anak muda sekarang juga, lah.

Karena itu, sepulang dari pantai saya dan seorang sahabat pernah bermimpi membawa suami kami masing-masing untuk double date di pinggir laut. Kami akan membangun dua tenda, menggelar sajadah dan salat berjamaah dengan suara debur ombak. Lalu kami menyalami tangan suami masing-masing, berjemur, dan tertawa dalam kebahagiaan.

Bayangan itu indah, sangat indah.
Sampai akhirnya saya merasakan patah hati untuk yang pertama kalinya.

Maka khayalan pernikahan itu mulai memudar. Saya mulai menyadari bahwa tidak ada pria sempurna seperti yang benar-benar kita inginkan di dunia ini. Pada masa patah hati itu, saya bahkan bertekad tak mau jatuh cinta lagi. Sampai ada orang yang benar-benar meminang saya. Alasannya sederhana; supaya saya tak perlu berharap apa-apa kecuali pada orang yang sangat serius mencintai saya.

Dan bayangan itu kembali patah!

Ternyata, saya jatuh cinta pada seseorang yang jauh dari kata sempurna, pun dalam soal meminang.  Saya mulai tak bisa melogikakan bagaimana mungkin jatuh cinta pada lelaki yang lebih muda (meski hanya 8 bulan)? Bagaimana mungkin bisa menikah cepat dengan lelaki yang angkatan kuliahnya beda satu tahun di bawah saya? Bagaimana mungkin minta dipinang semuda mungkin oleh orang yang saat itu masih jadi mahasiswa dan belum bekerja?

Tentu ia memiliki segudang kelemahan yang selama saya mengenalnya juga membuat kecewa. Tapi, pernikahan impian itu mulai bergeser menjadi satu titik tumpu: apa pun yang telah ditetapkan Tuhan pada saya.

Saya memang belum pernah menjalani hari-hari dalam pernikahan. 3 tahun terakhir pun, keinginan menikah muda sudah tak lagi ada di pikiran saya. Banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang meyakini saya bahwa menikah tidaklah seindah yang sering dipamerkan orang. Menikah itu harus realistis dan logis.

Khitbah (Malang, 10 Juli 2016) / Photo by: Dawai Waduda

Kenyataannya, saya sempat merasa stres dengan semua persiapan pernikahan. Saya sering bertengkar dengan dia, sering terpikir hal-hal aneh yang tidak masuk akal, sering nggak terima, merasa nggak siap, takut kebebasan selama ini terenggut dan takut tidak bahagia.

Apalagi, kakek saya pernah berpesan pada mama. "Menikah itu seperti gunung, dari jauh terlihat indah, tapi dari dekat ternyata terjal dan berbatu!".

Tapi beginilah cara Tuhan bekerja menata hamba-hambanya. Seringnya tidak sesuai dengan khayalan kita, tapi justru akhirnya kita sadar bahwa inilah jalan paling indah yang bisa kita tempuh.

Yap. Saya tidak pernah membayangkan, lelaki yang saya cintai memperjuangkan saya sejak awal ia mengungkapkan perasaannya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa dia adalah sosok yang kuat menghadapi masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Tidak pernah terbesit dalam bayangan saya, mengidolakan seorang 'family man' yang selalu meluangkan waktunya untuk keluarga. Tidak pernah juga saya mengimpikan lelaki yang pekerja keras, cerdas dan perfeksionis soal apa pun; termasuk menata rumah tangga kami di masa depan.


Kisah pernikahan impian ini membawa saya pada kejutan-kejutan tak terkira. Akhirnya, saya tidak mau banyak berkhayal lagi. Saya harus bersyukur, berbahagia dengan semua takdir (motion sebab - akibat) yang telah ditetapkanNya, dan berjuang bersama mencari jalan menggapai impian bersama dia yang telah dipilihkan untuk saya.

Pernikahan impian saya sekarang? 

Saya hanya ingin mencintai Tuhan, hidup dan dia dengan sederhana.
Setulus-tulusnya.
Seindah yang kami bisa.

:)

2 comments:

  1. makna pernikahan impiannyaari keren

    mau nikah??? bingung cincin???
    cek aja web kami di https://dodolperak.com dan cincinkawingolda.com
    melayani pembuatan cincin dr bahan emas, perak dan palladium
    dengan harga terbaik dan hasil memuaskan

    ReplyDelete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.