Monday, July 18, 2016

Takdir Menulis: 'Tersesat' di KapanLagi.com

Liputan pertama di KapanLagi bersama make-up artist Andi Soraya.
 / Foto: KapanLagi.com
Barangkali saya merupakan satu dari 'pemimpi gila' yang hingga saat ini begitu percaya pada takdir. Belajar banyak dari Paulo Coelho lewat Alchemist, entah mengapa mitos-mitos dalam novel tersebut sangat membuat saya yakin. Kata sang penulis, semua orang ketika masih muda mengetahui takdir mereka.

Ada dua jenis manusia, yang pertama mereka yang percaya pada takdir dan memenuhinya. Kedua, yang 'berhenti' di tengah jalan. Pemberhentian itu bisa dipengaruhi banyak hal. Tapi yang paling sering terjadi adalah saat seseorang dihadapkan pada pilihan lain untuk menjadi orang yang dihargai di lingkup sosial tertentu. Ia pura-pura melupakan takdirnya dan memilih menjadi seseorang yang terhormat dengan posisi atau pekerjaan lain.



Saya tidak mau jadi orang kedua. Karenanya, saya begitu yakin untuk mengejar mimpi dan menyingkirkan pikiran 'mapan dengan satu hal yang dipercaya masyarakat saat ini'. Bahkan karena itu juga saya mencintai calon suami saya saat ini, dan begitu yakin akan melangsungkan hidup dengannya. Dia meyakini impian saya, dia meyakini takdir saya, takdirnya dan (barangkali) takdir kami berdua.

Berawal dari sebuah postingan dua tahun lalu di Twitter, saya ingin mengabadikan sebuah cerita dalam tulisan ini. Tepat dua tahun lalu, 18 Juli 2014. Waktu itu hari Jumat. Malam harinya, saya mendapat sebuah kabar lewat email di mana saya dipanggil wawancara di website ternama KapanLagi.com. Barangkali banyak orang yang melihat 'kewajaran' dari pekerjaan ini. Saya memang lulusan Sastra Indonesia, saya hobi menulis sejak SD, dan saya pecinta novel hingga puisi.

Lebih dari itu, saya punya kisah tak terkira di balik pekerjaan ini.

Kebahagiaan saya mendapat sebuah harapan untuk menjadi penulis profesional. 18 Juli 2014. / Twitter/nadibie
Saya mengakui, sempat merasa sangat buruk saat belum mendapat pekerjaan ini. Saat itu saya berusaha menghasilkan uang dari berjualan online. Selama masa ini, saya terus berusaha tersenyum setiap hari. Saya tidak mau menyerah. Saya yakin jika berjuang sebaik-baiknya untuk pekerjaan jualan online ini, Tuhan akan memberi hadiah buat saya. Di tengah aktivitas ini, saya terus berusaha menulis. Bahkan cerpen saya pernah menjadi salah satu yang terpilih di buku antologi terbitan NulisBuku.com. Saat itu, saya tidak mampu membeli buku berisi cerpen saya sendiri. :')

Akhirnya takdir membawa saya di hari penting itu.

Tepat dua tahun lalu, di pagi hari, terjadi sebuah 'drama' di mana ayah saya begitu berat melepas saya untuk memenuhi panggilan interview di KapanLagi.com. Ia sempat mengungkapkan bahwa ia ingin menikahkan saya lebih dahulu baru bekerja. Saya memahami kekhawatirannya, tapi saya berusaha merayunya. Saya punya keyakinan menjadi penulis adalah takdir saya, dan inilah jalan pertama untuk memenuhi takdir itu. Ini pertama kalinya saya akan dibayar saat menulis. Saya bisa hidup dari sebuah pekerjaan yang sangat saya cintai.

Karena 'drama kecil' ini, saya harus mencari segala cara agar bisa berangkat wawancara. Saya diminta datang jam 10 pagi di Malang, tapi hingga jam 6 pagi saya masih di Sidoarjro dan belum mengantongi izin. Saya belum tahu apakah saya bisa mengejar waktu untuk interview di Malang dan mendapatkan pekerjaan ini.

Setelah ayah berangkat ke kantornya di Surabaya, saya yang memang sudah beberapa bulan tinggal di Sidoarjo mencari cara yang paling membuat ayah tenang untuk sampai di Malang. Saya menghubungi Manager yang akan mewawancara, dan meminta jadwal diundur hingga setelah salat Jumat. Padahal, saya belum tahu akan mencapainya dengan kendaraan apa.

Jam 7 pagi, saya sudah siap dan langsung bertandang ke stasiun Sidoarjo. Tepat waktu, ada kereta eksekutif yang bisa mengantar saya sampai di Malang sebelum salat Jumat dimulai. Saya dengan sigap membeli tiket. Saya belum tahu apa yang harus saya jawab saat interview nanti. Tangan saya gemetaran duduk di ruang tunggu stasiun kereta api. Saya membenahi dandanan berkali-kali. Saya bertanya, 'Tuhan, inikah takdir saya?'

Sepanjang perjalanan di kereta, saya tidak bisa menahan rasa gugup. Saya bingung mengapa saya bisa diwawancara menjadi seorang editor berita fashion? Apa yang saya pahami soal lifestyle? Sepanjang hidup, pencapaian saya dalam hal lifestyle hanya sekedar sukses berdiet OCD sekali.

Sampai di Malang, saya langsung menuju kantor KapanLagi. Pertama kali masuk ke sebuah ruangan meeting ber-AC, saya langsung mengagumi tempat ini. Dari pintu kaca ruangan itu, saya melihat sederet komputer berjejeran. Saya melihat banyak sekali orang seolah berkejaran dengan waktu dan suara keyboard yang berisik. Kelihatan sekali, mereka adalah orang-orang kreatif pilihan yang bisa membesarkan perusahaan konten ini.

Seperti Mike Wazowski yang mengagumi Monster Inc, kira-kira begitulah ekspresi saya saat itu. :p

Saya pun menjalani beberapa tes menulis dan wawancara lisan. Selama itu pula, dalam hati saya berpasrah atas apa pun yang Tuhan beri. Jika saya tidak diterima bekerja di sini, setidaknya ini adalah satu dari usaha terbaik saya. Menulis adalah cita-cita saya!

Hari Jumat itu menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi saya. Bersama semua kesulitan dan halangan yang menyertai saya, saya berhasil memenuhinya. Saya diterima. Saya lalu menulis banyak hal untuk website ini. Saya juga berkesempatan beberapa kali liputan dan bertemu dengan sederet artis. Saya mengetahui dunia hiburan yang sudah sejak lama ingin saya datangi karena satu dan beberapa alasan.

Dua tahun berlalu... 

Ternyata kisah OCD saya dibaca orang, diminati, bahkan diikuti. Tulisan saya dibaca jutaan orang setiap bulannya. Saya bisa memberi hadiah ulang tahun berupa tulisan untuk Ariel NOAH. Saya bertemu David NOAH tepat di malam kematian ayah Ariel, kemudian mengungkapkan kebijaksanaan sosok almarhum pada khalayak ramai. Saya bahkan membagi beberapa tutorial hijab untuk para muslimah lewat Vemale.com. Begitu banyak yang bisa saya lakukan di sini. Cita-cita saya untuk bermanfaat bagi banyak orang pun kian terpenuhi.

Belum lagi mendapat teman-teman yang hangat dan menyenangkan seperti keluarga. Jalan-jalan menelusuri sudut-sudut Malang. Belajar menjadi dewasa dan bijaksana melewati sebuah masalah. Belajar menghargai perbedaan dan mengenal dunia yang sebelumnya saya benar-benar buta.

Semua hal itu, tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Yap, di sinilah takdir 'menyesatkan' saya.

Saya tidak mungkin berhenti di sini. Ada impian besar yang harus saya gapai di depan sana. Selama dua tahun ini, beberapa kali saya merasa kehilangan diri sendiri. Saat saya bertanya, 'apakah jalan ini salah hingga saya tersesat seperti ini?', saya kembali mengingat cerita kerjasama Semesta saat saya sampai di sini. Semua mendukung saya. Bergerak demi membantu saya memenuhi takdir saya.

Maka saya ingin bisa bijaksana menanggapi kinerja Semesta dalam takdir saya. Ke mana saya melangkah setelah ini? Bagaimana kisahnya? Bagaimana pahit getirnya? Semua harus dijalani.

Semoga, sepuluh jari tangan ini masih bisa terus bergerak menebar manfaat untuk dunia. Memenuhi takdir yang sudah saya tahu sejak lama.

Aamiin..


Malang, 18 Juli 2016


1 comment:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.