Sunday, July 3, 2016

Hai, Generasi Komentator!


Kita kini sedang hidup dalam dunia di mana semua orang bebas berkomentar. Demokrasi yang dulu sudah diperjuangkan itu terus berkembang. Nggak hanya protes di depan gedung DPR saja, semua orang bisa saling menilai, komen, hujat lewat beragam aplikasi chat group, Facebook, Twitter, atau apa saja. Topiknya bisa apa saja. Bahkan curhat dan saling sindir dengan musuh bebuyutan atau saingan kerja atau bahkan bos sendiri, juga bisa.

Sepanjang saya bekerja menjadi editor berita artis, entah berapa kali sudah saya geleng-geleng dengan komentar netizen. Mungkin ratusan kali lebih, kali ya? Sebut saja kasus paling gampang yang terjadi pada Marshanda saat ia memutuskan melepas hijab. Atau Mulan Jameela yang punya banyak banget haters karena.., yah, kamu pasti tahu lah.

Saya tidak bisa menghitung berapa banyak komentar yang tertulis di sana. Yang menghujat banyak, yang membela juga lumayan, lebih banyak lagi yang bersuara dengan nada bijak. "Udahlah hidup orang nggak perlu diurus, saling hujat apa gunanya," tulis mereka.

Bukan cuma artis, pribadi kita di keseharian juga pasti memunculkan komentar dari banyak orang. Jangan sebut deh kalau pertanyaan soal nikah saat lebaran nanti. Hari ini kamu ngobrol dengan seorang teman baru aja, di depan teman lain juga bisa jadi bahan pembicaraan. "Ciye, cocok nih kayaknya, Mumpung jomblo, libas sana," kata mereka.

Seperti juga kalian, saya pun sering merasakan hal serupa. Bahkan nggak jarang orang bisa men-judge begitu saja keputusan atau sikap yang kita ambil sehari-hari. Mulai dari bilang kita sombong, terlalu murung, terlalu bahagia, baper atau stres. Semua bisa jadi bahan untuk memberikan komentar. Kadang komentar ini tidak dilayangkan langsung di depan kita, tapi jadi bahan pergunjingan. Ah, kalau bahas soal menggunjing, bisa-bisa tulisan saya ini nggak selesai-selesai.

Well, sebagai manusia biasa, seperti juga kalian, saya tentu kurang senang saat mengalaminya. Kadang saya tanya sama diri sendiri, apa saya juga bersih dari melakukan hal demikian? Jangan-jangan saya juga nggunjing orang, ngejudge orang, dan cuma bisa berkomentar.

Lalu....
Seperti biasa, Semesta memberikan satu lagi petunjukNya pada saya.

Ceritanya, beberapa waktu terakhir, saya keranjingan belajar dari sebuah situs kursus gratis di IndonesiaX.co.id. Awalnya saya cuma ingin belajar membuat video saja demi keperluan film. Selesai belajar langsung dari tim NET. TV, saya scrolling kursus lain hingga bertemu dengan kursus Self Driving dari Prof. Dr. Rhenald Kasali. Lalu.. pikiran saya kemudian berkecamuk sambil bergumam dalam hati, "Gila! Saya ngapain aja selama ini?!"

Yap. Saya sadar saya sedang berada di tengah generasi komentator. Kalau kata pak Rhenlad, generasi wacana. Di samping kanan kiri saya, semua orang bebas berkomentar. Jangankan soal mantan pacar atau gebetan, ada kasus bunuh diri saja semua orang HANYA bisa memberi komen, like, dan  paling jauh share di sosial media. Nggak bisa move on, nulis di sosmed. Mau move on, pencitraan di sosmed. Berdebat masalah puasa dan agama, cukup ngetwit dan semua bisa berubah. Yang tadinya teman bisa jadi musuh bebuyutan.

Padahal, apakah semua komentar itu mengubah keadaan?

TENTU TIDAK.

Sedihnya, generasi komentator ini tidak hanya bikin kehidupan kita jadi makin tidak damai.  Mereka (selanjutnya saya ganti dengan'kita') yang paling banyak komentar justru berpotensi jadi orang yang tidak bisa membawa hidup kita sendiri.

Kita terlatih untuk menjadi orang-orang yang hanya melihat, tidak berbuat apa-apa. Awalnya tidak berani bertindak dalam melihat suatu masalah. Tapi akhirnya yang terburuk, kita tak bisa mengambil tindakan untuk memutuskan kehidupan kita sendiri. Padahal dunia berjalan sangat cepat. Tidak ada waktu lama untuk berpikir dalam mengambil keputusan.

Prof Rhenald membagi generasi ini dengan sebutan Driver dan Passenger. Driver adalah mereka yang berani menggebrak dunia nyaman. Berhenti komen, dan melakukan tindakan. Salah? Tentu bukan masalah. Justru seorang Driver bisa menjadi seorang Driver karena berkali-kali melakukan kesalahan dalam hidupnya.

Lalu mereka yang Passenger, hanya bisa mencari posisi aman. Mereka suka komen dengan keputusan hidup yang kamu buat? Nggak masalah. Mereka memang tidak akan pernah salah karena tidak mengambil tindakan apa pun.

Jadi..
Ini surat cinta buat kalian yang suka dibully, dihujat dan di-judge atas apa pun yang kalian lakukan. Hanya ada satu catatan. Jangan menjadi sama seperti mereka. Berhenti berkomentar dan sok tahu dengan kehidupan orang lain. Jangan cuma bisa share meme atau pasang status sindiran saat ada masalah terjadi.

Ini bukan cuma soal 'haters gonna hate' atau gengsi-gengsian kamu versus para komentator itu. Ini soal masa depan kita semua. Soal kualitas hidup kita dan anak-anak kita nanti. Apa kita mau terus-terusan 'nempel' mencari posisi aman dengan teman atau pihak yang masa depannya juga belum pasti? Apa kita mau terus-terusan berharap dapat pasangan hidup kaya yang bisa menjamin kehidupan selama-lamanya? Apa kita masih berharap bisa bekerja santai dengan gaji besar padahal dunia sudah sebegini pesat dan cepat berubah?

Selama menjadi komentator, kita melatih diri sendiri untuk jadi penonton, bukan orang yang bergerak melakukan tindakan. Kita tidak pernah melatih diri jadi orang yang berani mengambil langkah dan risiko. Maka lama kelamaan, jangan heran jika di satu titik kita merasa stuck dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak ada cara lain, Kita harus jadi Driver dan memutuskan kehidupan kita sendiri. 

Dan kita tidak akan bisa menggapainya jika masih menjadi generasi komentator. Tentu ini juga pengingat buat diri saya sendiri. Mari sama-sama berbenah.. :)

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.