Monday, May 16, 2016

Sekelumit Cerita di Jogja & Puisi Sapardi Djoko Damono


Ke mana kalian mengisi waktu liburan long weekend minggu lalu?

Postingan ini barangkali cukup terlambat untuk menceritakan beberapa hal di minggu lalu. Namun, waktu tak pernah habis untuk menceritakan romantisnya Jogja seisinya. Iya kan?
Yap, saya pergi ke Jogja. Sengaja saya ingin berlama-lama di sana dengan tujuan utama untuk 'melambatkan waktu'. Kadang, saya merasa menjadi orang modern membuat waktu saya menjadi sangat sedikit dan berlangsung dengan cepat sekali. Saya pun ke Jogja dengan tekad bulat untuk membuat waktu melambat; saya tidak boleh buru-buru dan harus menikmati setiap detik di sana. 

Tekad saya berhasil 100%! Hanya 5 hari berada di kota penuh cerita itu, saya sudah merasa sebulan berada di sana. Saya datang ke tempat yang tidak banyak didatangi orang lain, menjalin cerita dengan banyak sekali teman lama, dan memilih untuk sering berlama-lama di rumah dan duduk dengan tenang. Entah pisang goreng, atau kopi atau teh yang menemani. Saya tak mau terlalu memikirkan itu.

Saat teman-teman bertanya dan mengajak janjian atau pergi ke mana, saya hanya punya dua kata kunci yaitu "tenang dan sederhana". Ya, saya rasa kedua hal itu yang bisa membuat saya bisa melambatkan waktu. Saya ingin menikmati ketenangan dan kesederhanaan, jauh dari hiruk pikuk kota.

5 hari di Jogja, sekali lagi, saya berhasil melambatkan waktu. Namun di sisi lain saya benar-benar merasa ditampar. Entah kenapa saya ingin mengumpat diri sendiri karena selama ini tak bisa berpikir atau bertingkah tenang dan sederhana. Ternyata, yang tenang dan sederhana itu bukan tempat-tempat yang bisa kita temui, atau pekerjaan yang kita kerjakan, atau teman-teman yang kita pilih.

Ketenangan dan kesederhaan ada dalam batin kita sendiri.

Maka saya mengingat sebuah puisi dari Sapardi Djoko Damono yang paling legendaris.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan 

kepada hujan yang menjadikannya tiada

Saya tak bisa mengelak lagi. Bagi saya, mencitai adalah perkara paling sulit dan kompleks saat dijalani. Tapi,  jika mencintai saja sebaiknya kita sederhanakan, mengapa kita harus merumitkan semua urusan? 

Selamat pagi.
Selamat ngopi.
Selamat menyederhakan apa pun yang ada di bumi... :)

1 comment:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.