Thursday, February 4, 2016

Cinta Pertama


Dia punya kulit putih dan bersih. Matanya sipit. Memakai kacamata. Dulu aku melihatnya sebagai sosok cerdas. Aku mengaguminya.

Sangat mengaguminya...

***




***

Sunny... Sunny... 
Jantungku berdebar tiap ku ingat padamu... 

Saat itu tahun 2007. Setiap pulang ke asrama, suara-suara radio sering menyuarakan suara Bunga Citra Lestari di awal karirnya.  Tapi, aku sering memilih pulang terlambat. Berdiam diri di koridor sekolah saat semua orang sudah pulang. Aku tak mau mendengar lagu Sunny. Aku tak sanggup menahan sesak yang datang setiap ia diputar. 

Saat itu musim hujan. Haha, lagi-lagi hujan. Setiap bel pulang sekolah jam 3 sore berbunyi, aku lebih memilih berbelok ke masjid dan sembahyang. Setelahnya, aku kembali ke halaman sekolah. Seringnya masih ada beberapa anak-anak ekstra kulikuler atau pun berbagai organisasi yang mengadakan rapat. 

Tepat saat itu, aku selalu memilih berdiam diri di kelas. Sendirian. Barangkali aku sedang membaca novel Laskar Pelangi atau Edensor kala itu. Sesekali bayangan wajahmu yang berkacamata sekelebat menghantuiku. Sesak lagi. Dan aku akan terus berusaha membaca novelku lagi.

Sekitar pukul 16.30, suasana akan mulai sepi. Langit kian sore dan udara Jogja menjadi semakin dingin. Aku akan berhenti membaca novel dan keluar kelas. Aku akan duduk di koridor dengan keramik jadul berwarna merah di depan kelas. Aku melihat tanaman-tanaman kecil yang bergoyang diterpa angin. Di satu sisi, aku sangat merindukanmu. Tapi di sisi lain, sebagai seorang santri aku benci merasa jatuh cinta. 

Katanya, jatuh cinta itu salah. Jatuh cinta itu dosa. 

Maka sesaat kemudian aku akan mengalihkan pikiranku pada impian tentang masa depan. Di sekolah itu, aku diajari untuk memiliki banyak manfaat seumur hidupku. Aku pun mulai menerka-nerka, apakah pekerjaan yang aku punya saat dewasa nanti? Apa yang akan aku lakukan agar bisa menjadi semulia-mulianya manusia? Siapakah orang yang akan membersamai perjuanganku meraih mimpi? Ah, kembali lagi, khayalan itu masih tentang kamu.

***

Sunny... Sunny... 
Mengapa ada yang kurang saat kau tak ada...

Ada satu masa di mana aku rutin bertemu denganmu, wahai Cinta Pertama. Kau mungkin tidak pernah tahu, bahwa dalam setiap alasan rapat yang sering kami buat denganmu, aku menyimpan perasaan sangat bahagia. Aku akan melihatmu bicara dari jarak yang tidak bisa kuduga sebelumnya. Kadang kau sangat jauh di ujung sana, kadang suaramu nyaris tak terdengar karena banyak teman-teman lain yang bicara di antara jarak kita. 

Cinta Pertama, 
Akhirnya penantianku untuk berbincang dari dekat denganmu terwujud juga. Suatu hari, kau meminta agar kita bicara dalam sebuah ruangan. Tentu tidak berdua. Aku mengajak seorang teman perempuan agar kita tidak berduaan. Aku bahkan mengatur jarak agar tidak terlihat begitu gugup saat melihatmu bicara sedekat itu. Seandainya kau tahu, rasanya aku kehabisan napas dan hampir mati! 

Pada malam harinya, kau mengirim sebuah pesan singkat lewat handphone selundupan yang aku bawa. 

"Terima kasih buat diskusinya tadi. Kakak yakin kamu akan jadi penerus yang hebat. Met malam dan met tidur," aaaaak! Mengapa aku masih tak bisa melupakan detail pesan SMS-mu hingga sekarang?! 

*** 

Begitulah caraku mengagumimu, Cinta Pertama. Kau telah menjadi lamunan yang aku bawa setiap sore, saat duduk di koridor kelas yang sudah sepi. Bayang-bayangmu lah yang pertama kali ada dalam impian gila buatanku. Wajahmu lah yang kulihat saat aku menatap langit mendung atau pun cerah. Senyuman dan mata sipit di balik kacamata mu lah yang sangat ingin kulihat. Lagi dan lagi. 

Sampai akhirnya aku harus menerima, bahwa kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu. 

*** 

Tapi lihatlah wahai Cinta Pertama. Hari ini aku bahagia mengenangmu dan meresapi kebodohan diriku dalam perasaan jatuh cinta padamu. Betapa polosnya aku mengagumimu. Betapa lugunya cintaku yang tanpa alasan itu. 

Barangkali hanya dengan mencintaimu, aku jadi mengerti bahwa ketulusanku akan berbuah manis. Darimu aku tahu, bahwa semesta pasti akan membalas semua perasaan yang kita miliki dan beri.

Aku kira, ketulusan cintaku hanya layak dibalas oleh cintamu. Namun ternyata beginilah luasnya Semesta. Ada banyak cara Tuhan membalas ketulusan hati yang justru seringnya bukan dari jalan yang kita harapkan. 

Wahai cinta pertama. Terimakasih banyak. Karena dengan begitu tulus dan lugu mencintaimu, kini aku menemukan seorang belahan jiwa. Kini aku bisa mencintainya dengan luar biasa karena pernah mencintaimu. Aku bisa menghormatinya, karena aku pernah belajar menghormatimu. Dan entah kenapa, kadang aku merasa dia punya beberapa kemiripan denganmu. 

Hai cinta pertamaku. 
Hiduplah bahagia di sana. 
Jangan cepat menua. 
Jangan cepat putus asa. 


Malang, 4 Februari 2016 



7 comments:

  1. Mungkin aku telah membaca beberapa karya sastra, tapi tetap saja; tulisan dari mata-hati tetap lebih menyentuh, lebih indah, dari sekadar permainan mata-pena. (e.t.)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, profesor. Aku tahu itu kau. Jangan hanya tulis itu, beri juga aku cambukan agar menuliskan dari hati yang lebih dalam lagi. Aku merindukanmu, btw. :)

      Delete
  2. Replies
    1. Pastinya dong nenk. Belum ada dokumentasinya, jadi ditulis gini aja. Dulu mah ini super rahasia! Hahaha XD

      Delete
    2. Geleng-geleng denger cinta pertamamu wkwkw. Cinta pertamaku apa kabar yak?haha

      Delete
  3. Replies
    1. Makasih ya, sudah sering mampir ke sini. Semoga nggak bosan. :)

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.