Monday, February 29, 2016

[CERPEN] Hymne Perpisahan


Sisa-sisa senja masih menampakkan diri. Ada garis merah di langit sana, di belakangmu yang kini sedang berdiri di hadapanku. Aku sudah bisa mendengar nyanyian nyamuk yang mulai mengeluarkan suara bising di sekitar kita. Di perumahan kecil ini, di trotoar tempat kita sering duduk bersama, bertemu sambil melihat bintang gemintang malam hari; aku harus menerima kenyataan, aku harus melepasmu.

"Kamu sudah lama tahu kan, kalau ini pasti terjadi?" tanyamu. 

Aku masih tak mau menatap matamu. Aku memilih melihat sisa senja yang berupa garis merah itu. Tak ada yang salah, batinku. Kalau pun ada yang harus salah, maka itu adalah diriku sendiri. Aku tersenyum simpul. Mengangguk padamu. 

"Iya, aku sudah tahu," kataku. 

Sial! 
Aku tak mau berlama-lama diam seperti ini. 

"Emm... Jangan lupa pakai jaket kalau pergi malam hari, banyak-banyak makan buah dan sayur, jangan kebanyakan mie instan dan jangan sakit!" aku berpura-pura mengatakannya dalam nada yang ceria. 

Sedetik kemudian, air mataku tumpah. Aku membayangkan hari-hari di mana aku selalu mengingatkanmu membawa jaket, memaksamu makan sayur dan memarahimu saat kau sakit. Untung saja hari semakin gelap. Jadi, aku yakin kau tak melihatku menangis. 

"Haha. Aku kan udah kebal sama virus apa pun. Kamu juga baik-baik ya. Makasih buat semuanya. Aku nggak nyesel memutuskan pernah punya cerita denganmu," katamu. 

Ya. Hanya sesederhana itu. 

Aku lalu memutuskan untuk pulang. Aku berjalan kaki di jalan setapak sebuah perumahan di mana aku sering mencuri waktu untuk menemuimu. Di jalanan sepi ini, hanya ada beberapa lampu  temaram yang terpasang di halaman-halaman rumah. Aku meninggalkanmu di belakangku. Aku bisa mendengar suara pagar yang kau kunci dari dalam. Aku tak mau menoleh untuk melihatnya. 

Kata orang, kalau aku menoleh, tandanya aku belum mengikhlaskanmu. Tapi kenyataannya, menoleh atau tidak aku memang belum bisa begitu saja mengikhlaskanmu. Aku berjalan dengan tegar. Sesak, rindu dan sakit menjadi satu. Kau bilang kau tidak menyesali apa pun. Tapi aku menyesali beberapa hal. 

Aku menyesal belum memelukmu untuk terakhir kalinya. Aku menyesal belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Aku menyesal, mengapa aku memberanikan diri memelihara perasaan denganmu, sementara orang tua kita sama-sama tak mungkin saling menerima. Aku menyesal Doraemon tidak nyata. Aku menyesal tak sepintar tokoh-tokoh film pencipta penghenti waktu. 

Tapi, esok aku masih bisa menemui mu, kan? Kau tetap akan jadi orang paling nggak berpakaian rapi di kelas bahasa Inggris. Setidaknya, aku masih akan melihatmu, seminggu sekali, sampai satu semester ke depan. 

Mungkin di saat-saat itu, aku akan tersenyum dan bahagia bisa melihatmu. Aku akan senang saat kau menyapaku terlebih dulu, sebagai teman. Aku akan berpura-pura tidak melihatmu, meski kau akan selalu ada dalam pengawasan mataku. Aku akan menahan rasa khawatir kalau sewaktu-waktu melihatmu sakit. Mungkin aku juga akan sesekali memberikanmu bekal, dengan alasan aku terlalu banyak membawa makanan. Aku akan pura-pura lapar saat kau dan teman-temanmu mengajakku makan di kantin. 

Apa pun. 
Tentang kamu. 
Masih akan sangat membahagiakan untukku. 

YANG BERUBAH HANYA TAK LAGI KAU MILIKMU 
KAU HARUS PERCAYA KU T ETAP TEMAN BAIKMU 





No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.