Thursday, February 11, 2016

26: Berani Berharap, Berani Kecewa


Aku bukan pengingat yang baik. Tapi pada suatu memori, aku melihat diriku yang masih sangat kecil. Mengikatkan kain gendongan bayi untuk melilit perutku tepat di bagian tengahnya. Karena ikatan itu, aku jadi memakai sebuah rok sangat panjang hingga menyeret lantai.

Aku lalu berjalan melewati kursi-kursi ruang tamu nenek. Lalu memasuki kamar tante di dekatnya. Aku melihat diriku seperti seorang princess di depan kaca. Aku tersenyum sendiri, karena merasa mata dan senyumanku begitu cantik. Dalam hati aku berbicara; nanti, aku akan menggandeng seorang pangeran tampan di sini! 

Sejak kecil, entah kenapa mimpi-mimpi gila itu selalu mengikutiku. Aku mendapatkan bayangan itu dari mana saja. Dari film-film kartun, buku-buku cerita, atau sekedar dari melihat cara mama & ayah bicara pada orang lain. Kadang aku berkhayal jadi mereka. Kadang aku berkhayal jadi seorang pegawai bank yang sibuk di depan komputer. Kadang aku ingin jadi pramugari cantik yang melayani para penumpang di kanan & kiri. 

Impian itu terdampar lagi saat aku menonton film ADA APA DENGAN CINTA. Tiba-tiba saja aku berpikir, aku akan memiliki pacar yang begitu cool seperti Rangga. Aku akan jadi perempuan pintar dan ambisius seperti Cinta. Aku akan punya beberapa sahabat dekat yang begitu aku cintai seperti Maura, Karmen, atau yang lainnya. Aku akan ikut lomba menulis, memenangkannya, dan menerbitkan buku. Aku akan menjadi seorang editor di majalah terkenal! 

Sampai di titik ini, aku lalu berhenti sejenak. Apakah semudah itu kita membangun mimpi? Dari film dan hal-hal yang kita lihat setiap hari? 

***

Menggapai mimpi ternyata tidak semudah itu. Tidak bisa dengan perasaan sesombong itu. Tidak mungkin tercapai tanpa rasa kehilangan dan kecewa. 

Setelah mengkhayalkan sesuatu yang tinggi, aku begitu banyak merasa kecewa. Untuk soal menjadi seorang princess, aku pernah memiliki tubuh sangat gendut yang menurutku begitu buruk rupa untuk dilihat. Pakaianku lusuh, senyumku tidak cantik dan penuh beban, aku membawa suasana tak menyenangkan saat pergi ke mana saja. 

Dalam soal mendapatkan pangeran tampan, aku justru patah hati total. Aku akhirnya tahu, cintaku yang begitu tulus pada seorang Cinta Pertama ternyata harus kandas karena ternyata ia tak mencintaiku seperti cinta murniku padanya. Aku pernah terjatuh dari motor karena kebanyakan menangis saat memikirkan dia. Aku pernah muntah-muntah di kamar kos. Sampai aku berambisi: aku tidak akan lagi jatuh cinta

Dalam soal meraih mimpi, aku berkali-kali kecewa kalah dalam lomba-lomba. Aku berkali-kali diabaikan saat melamar diri bekerja di dunia editorial. Aku belum pernah berhasil menulis novel pertamaku. Aku pernah menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah kafe untuk mendesain blog yang sepi pembaca. 

Aku dan Cahya, bahkan pernah diusir oleh seorang tukang parkir karena kami tak punya uang untuk membayar jasanya. Kami berdua selalu menangis spontan jika menceritakannya secara lisan. :") 

*** 

Bermimpi ternyata tidak seindah itu. Bermimpi justru akan membuatmu sangat kecewa. Sangat putus asa. Sangat menyedihkan. 

Tapi, hari ini aku tak bisa mengelakkan rasa syukur yang berjuta-juta banyaknya. Dari kekecewaan itu, aku banyak belajar 'membayar' sesuatu yang ingin kita miliki. Saat proses membayar, kau harus mengeluarkannya dengan tulus dan tanpa beban. Kadang mungkin kau tak yakin, bahwa dengan 'membayar' kau akan mendapatkan apa yang kau mau. 

Hanya saja: tuluslah. Lepaskan dan beranilah kehilangan apapun itu yang kau keluarkan untuk membayar. Karena Semesta tidak pernah berdusta.

Seberapa besar yang kau 'bayar', kau akan mendapatkan yang setimpal. 

Hari ini, aku begitu bahagia karena Tuhan mengizinkanku masih hidup dan bisa menuliskan rasa syukur ini. Aku memang telah banyak merasa kecewa pada mimpi-mimpiku sendiri.

Tapi... 
Aku bisa merasa cantik tanpa harus berdandan sebagai seorang princess. 
Aku bisa mencintai dan dicintai tanpa harus bertemu seorang pangeran. 
Aku bisa menjalani hari-hari penuh perjuangan sebagai seorang penulis meski belum menerbitkan sebuah novel. 
Aku memiliki banyak sekali kakak, adik, teman, yang begitu mencintaiku setulus hati. 

Dan semoga, aku bisa menjalani yang di depan mata dengan setulus hati.
Aamiin.. :) 





1 comment:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.