Monday, January 25, 2016

Saya Tidak Bahagia Jadi Penulis


"Cari kerja yang sesuai passion, biar nggak kerasa capeknya."
Quote semacam itu sangat sering diperdengarkan pada generasi saya saat dulu baru lulus dari SMA. Saya pun memilih kuliah di jurusan yang sesuai dengan 'passion' itu; Sastra Indonesia. Saya suka menulis, itu sederhana. Setelah lulus, saya pun mencari pekerjaan dengan bidang yang sama. Lalu, apakah saya bahagia?

TIDAK. 
Masih jelas dalam ingatan saya saat kelas 6 SD. Waktu itu saya sangat mengagumi  kisah Cinta & Rangga di film ADA APA DENGAN CINTA. Entah kenapa sejak saat itu saya selalu membayangkan bisa tumbuh menjadi pembaca atau penulis puisi. Dan mendadak 'kesukaan menulis diary sejak kelas 2 SD' saya terjemahkan sendiri sebagai hobi sekaligus cita-cita masa depan saya. 

And here I am. Dalam jenjang karir pertama, saya bekerja sebagai seorang editor berita. Yap! Ini adalah pekerjaan yang benar-benar saya impikan sejak SD. Yang saya bayangkan ketika SMP. Yang saya usahakan saat SMA. Yang selalu saya rencanakan saat kuliah. 

Namun ternyata itu tidak serta merta membuat saya bahagia.

Lalu entah kenapa dalam kegamangan (yang banyak saya abaikan) itu, semesta membuat saya membaca sebuah novel dari Paulo Coelho. Kata-kata ini yang membuat saya ingin membelinya: 
"....Siapa yang akan berhasil mengenali mimpinya sendiri dan mewujudkannya, di antara sekian banyak mimpi yang bukan miliknya?" - Paulo Coelho
Saya bertanya-tanya; 
Apakah menjalani hidup seperti sekarang merupakan impian saya yang sebenarnya? 
Jangan-jangan ini mimpi milik orang lain yang saya akuisisi? 
Atau saya punya mimpi lain yang selama ini tidak saya ketahui? 

Well, entah setan mana yang merasuki saya. Beberapa saat setelah membaca beberapa halaman cerita Paulo Coelho itu saya menyadari bahwa mimpi yang saya bayangkan sejak kecil bukan mimpi dalam pemahaman saya selama ini. Seperti takdir, ia telah diciptakan sejak awal untuk kita. 

Saat saya lahir, saya tumbuh dengan diberi tanda-tanda semesta yang membuat saya menyukai kegiatan menulis. Saya digelisahkan. Saya didorong untuk semakin berenergi saat dipertemukan dengan film AADC & SOE HOK GIE yang mahasiswa sastra itu. Saat kuliah, saya didorong semesta untuk belajar lebih banyak menulis dan begaul dengan banyak orang. 

Hal yang sama terus terjadi sampai saya ada di ruangan ini. Saya menulis berita setiap hari. Mengolah setiap transkrip menjadi sebuah suguhan yang disukai pembaca. Lalu saya bisa menemukan jawabannya. Saya bukan tidak bahagia. Saya sedang DIDORONG oleh semesta menuju mimpi sejati saya. Takdir saya. 

Mungkin begitulah semesta bekerja. Ada takdir di depan sana yang terus memberi sinyal untuk didatangi sehingga hati kita begitu gelisah ingin bergerak ke arah sana. Saya bisa saja berobsesi menjadi seorang penulis novel terkenal yang karyanya diangkat menjadi film. Namun jika nyatanya bukan dari sana takdir memanggil saya, bagaimana pun, saya pasti akan terus gelisah. 

Ya. Saya tidak bahagia menjadi penulis (saja). Karena ada mimpi sejati yang memanggil jiwa saya untuk menyusulnya. Kemana takdir membawa saya? Tentu saya tidak tahu apa yang ada di depan sana. 

Yang pasti, di atas ketidak-bahagiaan itu, saya bahagia bisa menyadari bahwa saya sudah didorong oleh semesta sampai ke sini. Saya bahagia karena saya terus didorong ke tempat takdir sejati saya. Tentu menulis adalah passion saya. Tapi apa yang akan saya tulis selanjutnya? 

Semoga Semesta tetap mendorong saya. :)

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.