Saturday, December 12, 2015

Salah Jatuh Cinta


Pada suatu hari minggu. Dari kaca dapur di kantor, aku bisa melihat tanah dan rerumputan basah bekas hujan deras. Rintik air masih berjatuhan dan aku sendirian.

Aku mengaduk kopi hitam bercampur creamer dan sedikit gula. Aroma manisnya terasa jauh lebih sempurna karena suasana basah dan sepi. Aku masih mendengar suaramu di telepon. Aku tersenyum sambil berkaca-kaca membayangkan betapa sempurnanya jika kau ada di sini. Menikmati hujan dan kopi bersamaku.

Tidak. 

Tidak ada yang salah dari keadaan yang tengah kita jalani. Berkali-kali kau mengatakan bahwa ini adalah jalan terbaik dari Tuhan. Jalan yang paling tak terduga, sekaligus paling tepat untuk kita berdua. 

"Jadi, apa yang kamu katakan pada adikmu tentang cowok?" tanyamu, setelah aku bercerita bahwa adik-adikku sempat meminta nasehat. Mereka berdua masih single, dan bingung menghadapi beberapa pria yang mendekat. 

"Standar sih. Aku bilang, jangan buang waktu untuk lelaki yang tidak pantas. Baikkan diri sendiri sehingga pantas untuk lelaki hebat yang akan menjatuhkan pilihannya padamu," jawabku. Terdengar klise, idealis dan tidak sesuai dengan kenyataan, kan? Haha. 

Kamu lalu berdehem. Aku mengernyitkan kening. Aku punya perasaan bahwa kamu tidak setuju. 

"Menurut abang, mereka nggak boleh takut salah jatuh cinta," ungkapmu. 

Ah, lagi-lagi aku bingung dengan ucapanmu. Sama seperti beberapa tahun lalu. Saat itu aku menganggapmu tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Tapi sekarang jauh berbeda. Kamu selalu jenius, punya banyak pengetahuan dan perasaan tulus dalam mencintai siapa saja. Kamu selalu memiliki alasan jelas dan mengagumkan. Kali ini, napasku sedikit tercekat. Saat kamu mengatakan "jangan takut salah jatuh cinta". Apa maksudnya? 

***

Katamu, mereka harus berani. Dalam hidup yang panjang ini, mereka akan mengalami jatuh cinta pada orang atau dalam keadaan yang salah. Kalau mereka takut, mereka tak akan tau rasanya sakit hati karena harapan yang patah. Mereka akan jadi rapuh dan tak bisa menerima bahwa cinta itu tak tersampaikan pada pucuk harapannya. Bahwa rindu itu tak bisa terbayar dalam kebersamaan selamanya. 

Maka kamu menegaskan, mereka harus berani. Ada risiko dari perasaan berbunga-bunga yang menghampiri mereka. Ada luka yang akan mengikuti kangen menyengat itu. Kamu bilang, menemukan cinta sejati itu butuh pengorbanan dan usaha. Butuh kekuatan dan ketegasan meninggalkan cinta yang salah. Butuh keikhlasan yang lepas, selepas-lepasnya, saat mereka salah jatuh cinta. 

***

"Halo, ade masih di sana?" tanyamu karena lama aku terdiam. Mendengarkanmu.

Mataku yang sudah berkaca-kaca kemudian menumpahkan air mata. Hujan mulai turun agak deras lagi. Kopiku masih berasap. Aku tidak tahu harus berkata apa. Lagi-lagi, aku merasa berdosa karena jarang bersyukur kepada Tuhan sebab Dia telah mengirimkanmu untukku. 

"Iya, ade masih di sini," aku kehabisan kata-kata. 

"Besok kalau Dida sama Dawai tanya lagi, jawab aja begitu..." lanjutmu. Kamu masih tidak sadar aku tengah menangis. Tentu aku langsung meng-iya-kan saranmu. 

"Eh, abang. Abang emang pernah salah jatuh cinta?" tanyaku. 

Kamu hanya tertawa. Lalu menggodaku. Menanyakan balik, sambil menyindir pengalamanku salah jatuh cinta. Lalu kita membicarakan hal lain yang menyenangkan. Impian dan harapan. Hal-hal yang bisa kita rayakan. Kamu mengajakku untuk banyak berdoa, agar kita cepat disatukan dalam keadaan yang baik. 

Lalu kamu mengomel karena beberapa hal berantakan yang belum kubereskan. 
Menertawai dirimu sendiri yang masih sibuk sampai kehabisan waktu. 
Meyakinkan kita untuk tetap semangat dengan apapun yang terjadi. 
Mengingatkan agar banyak sembahyang dan mengaji. 
Mengungkapkan cinta padaku. 
Dan menutup telepon. 

Kemudian, ada perasaan hangat yang merasuk dalam hatiku. Aku tenang. Aku menyeruput kopiku di tengah hujan dan sepi. 

Aku tidak lagi takut salah. 

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.