Sunday, December 20, 2015

Doa di Tengah Hujan


Konon, hujan akan sering membawa memori-memori yang sudah tenggelam muncul kembali. Entah benar atau tidak, tapi aku ingin menuliskannya sebelum lupa. Pada suatu maghrib, aku sembahyang di tengah suara derasnya hujan dan petir yang menyambar. Tiba-tiba, sebuah ingatan datang.

Aku masih yakin bahwa saat itu juga bulan Desember. 6 tahun lalu. Gerimis yang tipis masih berjatuhan di gedung tempat satu-satunya kita bisa bertemu karena harus rapat setiap minggu. Kita berdua ada di sebuah mushalla. Kau di ujung depan dekat mimbar tempat nasehat-nasehat baik sering kita dengarkan. Aku di ujung belakang, bersedekap dengan perasaan yang entah bagaimana.

Kamu menjadi imam. Mengenakan kemeja dan celana hitam. Aku lupa surat apa yang kau baca dan seperti apa gayamu menyenandungkannya. Tapi aku bisa melihat sajadah hijau khas masjid-masjid di Jogja dengan jelas. Ditambah mukena parasit berwarna ungu yang kupakai. 

Ingatan itu terus berlanjut. Sehabis shalat, kita tak banyak bicara. Kamu keluar mushalla terlebih dulu dan menungguku di depan pintu. Mungkin saja saat itu kau sedang memandangku. Mungkin juga kau sedang melihat hujan sambil berdoa untuk kebaikan-kebaikan hidupmu. 

Aku selesai berdoa. Aku melipat mukena dan keluar menyusulmu. Saat mencari sandal, aku masih ingat kakimu sudah rapi dengan alas berwarna hijau tua. Lalu kita berjalan membahas beberapa bahan rapat yang membosankan. Saat itu aku hanya tertawa jika kau bercanda, atau merasa heran jika kau mengatakan hal-hal konyol.

***

"Halo, permaisuriku!" sapamu dalam sebuah pembicaraan di telepon. 

Dari jarak yang begitu jauh darimu, aku tersenyum geli. "Apa sih, panggil-panggil permaisuri?"

"Hehe. Kamu lagi dimana?"

"Di villa. Di sini pemandangannya bagus banget. Bisa lihat kota Batu penuh lampu kalau malam hari," jawabku singkat.

Seperti biasa, kamu lalu banyak berkhayal tentang masa depan kita. Kamu tidak bisa melihatnya. Aku sering senyum-senyum sendiri sambil mengamini semua keinginanmu. Lalu pembicaraan akan berakhir pada sebuah ucapan agar kita banyak berdoa.

"Jangan sampai lupa berdoa, ya, permaisuri," katamu.

Aku tersenyum lagi. Aku tidak tahu apa doamu saat menungguku keluar dari mushalla 6 tahun yang lalu. Tapi barangkali maghrib kala itu menjadi tanda bahwa kita tak boleh berhenti berdoa. Bahwa apapun yang diberikan Tuhan untuk kita, bisa jadi begitu dekat. Tak disangka-sangka. Yang kelihatannya tidak mungkin, menjadi hal paling indah untuk kita miliki.

Semoga kita bisa punya banyak waktu, untuk shalat bersama di tengah hujan di masa depan. Aku akan mencatat setiap surat yang kau baca. Aku akan merekam dengan lekat bagaimana gayamu menyenandungkannya. Lalu berdoa bersama ditengah hujan.

Aamiin.

Malang, 20 Desember 2015 
Nadibie





2 comments:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.