Saturday, September 26, 2015

[CERPEN] Ketika Kau Sulit Melupakan


Ini cerita tentang ingatan yang selalu aku temukan setiap mencium wangi kopi hitam panas. Seorang teman sangat menyukainya dan selalu memesan satu menu itu saja setiap nongkrong. Dari kopi pinggir jalan hingga kafe paling mewah di kota ini.

Pagi tadi, dia datang di hadapanku. Wajahnya resah seolah telah lupa caranya tersenyum. Ia mencopot kacamata kecilnya. Mengucek mata, lalu menghela napas. Aku hanya memandanginya. Aku tahu dia akan cerita tanpa aku tanya.

Seorang waiter cantik datang ke hadapan kami. "Permisi kak, mau pesan apa?," tanyanya.

Tak perlu menebak lagi, karena ia pasti ingin satu menu itu saja. Kopi hitam panas. Selepas si cantik waiter pergi, aku memajukan kursiku dan mendekat padanya.

"Dari mana?," aku memulai pembicaraan.Tanpa memakai kacamatanya lagi, ia melihatku beberapa detik tak berkedip. Lalu air matanya jatuh. Satu persatu tak bisa tertahan hingga isaknya mulai terdengar.

***

Galang. Begitu aku memanggilnya. Ia hanyalah teman biasa yang bertemu denganku karena sekelas di kampus. Dia pendiam, suka duduk di kursi paling belakang. Kami hanya bertukar nomor karena ingin saling mengabari soal tugas kuliah atau kegiatan kampus yang membosankan.

Waktu berjalan beberapa bulan sampai akhirnya semesta memberiku waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Suatu hari di bulan Desember, aku dan Galang bertemu di kantin Fakultas. Saat itu hujan sangat lebat. Kami terjebak dan tidak bisa berjalan menuju kelas. Kami sama-sama menunggunya sedikit reda agar tak basah kuyub saat masuk kelas.

"Kamu bisa minta tolong sms seorang teman buat titip absen kita?" akhirnya ia menyapaku setelah berbulan-bulan diam saja. Aku mengangguk. Lalu melakukan permintaannya.

Waktu berjalan lagi. Aku mulai sering makan siang bersamanya. Iya, hanya berdua saja. Entah kenapa dia selalu tak suka bergabung di keramaian dan aku tahu itu dengan sendirinya. Saat ia terlihat dan terdengar ingin makan siang bersamaku, aku selalu mencari alasan untuk tak bergabung dengan teman lain. Dan ia pun mulai sering menceritakan tentang sosok perempuan kepadaku.

Kau cukup tahu bahwa nama perempuan beruntung itu adalah Bintang. Galang pernah menunjukkan foto Bintang padaku. Senyumnya manis, punya lesung pipit, rambutnya pendek, matanya bulat dan auranya sangat menyenangkan.

Kata Galang, Bintang adalah seorang teman kecil yang tidak pernah punya status pacar dengannya. Semacam sahabat dari kecil sampai dewasa yang saling mengisi. Namun kisah mereka menjadi menyedihkan.

Suatu hari.
Sambil menghisap rokok dan memandang ke arah hujan dari kantin kampus, ia bercerita seperti ini.

"Saya memang nggak pernah meresmikan hubungan kami karena jujur aja ada perasaan dia nggak mungkin menolak. Saya terlalu menyukai dia. Saya nggak berani foto bareng. Saya hanya punya satu foto, itupun candid karena ada teman yang motret. Kami hanya keluar satu kali untuk nonton konser," suaranya tersendat tiba-tiba. Ia lalu merogoh dompet dan menunjukkan sebuah tiket bekas padaku. Aku hanya diam sambil terus mendengarkannya.

"Setelah itu, tepat setelah kami dapat pengumuman lulus SMA. Saya pulang duluan karena memang tak suka dengan pesta konvoi semacam itu. Bintang ikut dengan teman-teman. Malamnya saya sms Bintang, dia nggak balas. Lalu seorang teman lain memberi kabar dia kecelakaan saat konvoi. Malam itu juga saya ke RS. Dia sudah dioperasi dan koma. Saat itu yang saya pikirkan hanya ingin dia cepat sadar, dan saya akan bilang padanya kalau saya sangat menyayanginya," ceritanya terhenti lagi.

Entah kenapa sampai di titik itu mulai ada sesak di dada yang tidak aku mengerti. Tapi aku tidak mau dia berhenti cerita. "Lalu... dia selamat kan?" tanyaku sambil menahan napas.

Dia menghisap rokok lagi. Hujan mulai reda menjadi gerimis. Bau tanah bekas hujan lebat itu menambah sesak di dadaku.

"Sempat membaik di hari ke-empat. Saya ingat ibunya menelpon dan bilang kata dokter dia akan segera sadar. Saya langsung beli satu buket mawar merah buatnya. Saya sedikit lega. Tapi bunga itu hanya diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Sampai hari ke-sepuluh di RS. Lalu dia pergi".

***

Dua tahun berlalu sejak Galang menjadi teman baikku. Waktu pun mengantar kami sampai di kafe ini. Kopi hitam manisnya sudah datang. Ia mengusap air mata dengan tisu. "Saya habis dari makam. Saya masih saja menangis kalau melihat tempat itu. Entah sampai kapan," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Aku tersenyum. Sudah dua tahun berlalu. Entah berapa lama lagi aku harus diam. Hanya ingin mengungkapkan ini padanya:

Galang.
Ketika kau sulit melupakan. 
Aku. 
Akan menunggu hatimu menjadikanku tempat ingatan itu kau simpan. 

1 comment:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.