Sunday, February 22, 2015

Menunggumu


Menunggu bukanlah hal yang baru untukku. Saat pertama kali aku memintamu untuk ikut perjalanan ke Ketep Pass, aku menantimu di gedung itu. Bangunan yang telah menjadikan kita sepasang kekasih, penuh cemburu, tawa, tangis dan kebimbangan ala anak muda lainnya.

Sejak saat kisah di gedung itu dimulai, banyak hal yang tak kusukai darimu. Begitu pula hal yang aku suka. Cara tertawamu, bicaramu, menangismu, bau badanmu saat belum mandi, gendut dan kurusnya kamu, marah dan cintamu.. Semua telah lekat. Telah membawaku dalam sebuah sekat yang dengan pasrah aku bahagia terjebak di dalamnya. 

Setiap ada kejadian-kejadian besar menimpa hidup dan hubungan kita, aku selalu ingin mengingat sebuah sore di pantai Depok. Berkali-kali aku telah menggambarkannya; aku dengan blus kuning dan kau dengan kaus putih lengan panjang. Lalu kita menikmati cakalang bakar ditambah dua buah kelapa muda. Kita tertawa mengkhayalkan masa depan yang belum kita tahu. Kita menatap langit yang penuh rahasia; kemanakah takdir akan membawa kita?

Itulah perjalanan kita yang pertama. Yang belum apa-apa.

***

Tiga tahun setelahnya, sebuket mawar putih menjadi saksi saat kau mengatakan akan segera menjemputku. Itulah hari terakhir sebelum kita terpisah oleh jarak yang (seharusnya) akan membuat hubungan  ini semakin rumit. Kita akan menjalani hari-hari dengan jarak yang tak dekat.

Tentu saja awalnya kita sering bertengkar. Kita sering bilang "putus" di telepon, bbm atau sms. Tapi seiring perjalanan waktu, inilah hal-hal rahasia yang tersembunyi di balik langit sore itu. Kita bertahan hingga hampir dua tahun setelah sebuket mawar putih menyakiskan kesedihan perpisahan kita.

Hari ini, kesedihan itu sudah tidak berarti lagi. Entah kenapa, jarak justru sangat mendewasakan. Seperti memberikan ruang di antara kita sebagai tempat untuk menanam benih-benih rasa yang baru. Ada yang membahagiakan dalam rindu. Ada yang mengharukan dalam doa-doa tiap harinya.

Apa artinya menunggu?

Telah lima tahun berjalan sejak kita mencoba membaca kisah rahasia di balik langit pantai sore itu. Aku hanya harus menunggumu sedikit lagi. Dengan perasaan yang berbeda. Dengan jiwa dan rasa yang jauh lebih dewasa.

Aku sering membaca novel cinta. Kadang aku ingin menjalani cerita romantis di dalamnya. Tapi aku tahu, denganmu, aku punya kisahku sendiri. Denganmu, aku punya impian besar yang tak tergambarkan. Hanya bersamamu, aku ingin hidup. 50 tahun. 100 tahun. Hingga keabadian yang kerap kita sebutkan di sela pembicaraan seru, dengan bonus pulsa telepon provider.

Aku cinta kamu. Hingga hari ini, aku masih jatuh cinta padamu. Berikan yang terbaik. Wujudkan mimpi yang kau gantungkan di langit. Aku akan menunggumu.

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.