Monday, January 20, 2014

Tidak Sekedar Cinta di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Takdir, barangkali serupa kereta yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dikendarai oleh masinis dan ditentukan oleh waktu. Kita menaikinya karena membeli sebuah tiket dan telah mempersiapkan diri, ke manapun tujuan kita, saat kita sudah berada dalam kereta maka nasib kita ditentuka oleh masinis, waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Terlebih saat kita menjadi seorang penumpang dalam sebuah pesawat, pun tiket sudah terbeli, nasib kita benar-benar ditentukan sang pilot, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Tapi takdir sedikit berbeda bagi seorang Zainuddin, tokoh utama dalam karya besar Hamka; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.