Saturday, February 8, 2014

Gadis Pantai dan Cintanya Pramoedya

Kembali pada resolusi saya, one book one post. Saya mengaku mengalami fase tertentu yang membuat saya tidak bisa menuliskan ulasan-ulasan buku yang saya baca, langsung setelah saya membacanya. Dalam pembacaan dua buku terakhir --Gadis Pantai dan Sang Alkemis, tepat setelah menyelesaikajn halaman terakhir, saya mengalami fase blank dan tidak bisa mengomentari apapun yang ada dalam kedua novel tersebut. Saya tidak tahu, apakah ini wajar atau saya yang malas menulis. Tapi apapun itu, saya akan tetap menjalaninya. Saya akan tetap menjalankan rencana saya. Karena bagaimanapun, saya merasakan hal yang lain semenjak merencanakan membaca buku dan menuliskan ulasannya, yang membuat saya selalu terpaut pada fiksi. Semakin saya banyak membaca mereka, semakin dalam pemahaman saya tentang apa dan bagaimana fiksi kita.


Kembali pada novel Gadis Pantai.

Seorang teman, melalui akun twitternya, hadir di tab mention saya. Ia me-reply kicauan saya saat saya 'pamer' sedang baca novel Gadis Pantainya Pramoedya A. Toer. Ia mengatakan: siap-siap kecewa, dengan nada terkikik. Saat itu saya tahu apa yang dimaksudkannya. Memang cerita dalam novel ini sangat menarik, dan yang membuat kecewa; ceritanya tidak selesai. Lazimnya memang, membaca sebuah cerita menarik yang tidak selesai akan membawa kita pada rasa kecewa. Tapi saya merasakan hal yang berbeda. Saya justru tersenyum, dan mengicaukan doa untuk Pramoedya, semoga ia dirahmati oleh Tuhan.

Secara eksistensial, Gadis Pantai bercerita tentang seorang anak yang baru beranjak remaja, yang menghabiskan kehidupan masa kecilnya di pantai; menunggu bapaknya pulang dari berlayar mencari ikan, berlarian dengan bebas di atas pasir-pasir pantai, membantu ibunya memproduksi makanan-makanan khas laut yang akan diambil oleh suplier tertentu, hidup dalam keperkasaan alam dan lingkungan budaya yang jauh dari 'tata krama' khas orang-orang sejahtera pada zaman yang diceritakan.

Gadis Pantai lalu dibawa bapaknya untuk menjadi istri seorang priyayi Jawa, yang memiliki adat istiadat tertentu. Pramoedya lalu menyusun puzzle-puzzle cerita, yang semakin terbentuk, semain membawa kita pada kritiknya terhadap adat-istiadat tertentu masyarakat Jawa yang menurutnya tidak adil. Cerita ini memang tidak selesai, tapi hingga halamn terakhir novel Gadis Pantai, kita masih akan merasakan pembelaan Pramoedya pada 'kemanusiaan' dari manusia.

Namun di luar persoalan kritik Pramoedya, dan gaya penceritaan yang 'sangat Indonesia' darinya, saya menemukan rasa cinta dari Pram.

Dalam ulasan saya tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, saya sempat menuliskan; Bagi saya, Hamka dan Pram sama-sama berontak dan penuh cinta. Mungkin hal ini disebabkan pula oleh perubahan sudut pandang saya dalam melihat sebuah cerita fiksi. Ada mereka yang mengklasifikasikan sastra sebagai sastra serius dan sasra pop. Ada yang membaginya dalam cerita bagus dan tidak bagus. Mungkin ada juga pembagian-pembagian lain yang dilakukan para pembaca dalam memilih-milih mana cerita yang disuka, atau tidak. Tentu saja ini soal selera yang sangat subjektif. Tapi bagi saya sendiri, kini saya membagi cerita dalam ukuran; seberapa besar cerita itu menyiratkan rasa cinta dari penulisnya. Tentu saja hal ini tidak bisa dibagi dalam klasifikasi-klasifikasi. Soal cinta siapa yang mengerti? Cinta hanya bisa dirasakan.


Demikianlah kini saya memililah-milah karya-karya fiksi yang ingin saya baca atau tidak. Saya masih punya kepercayaan, bahwa tuisan yang dibuat dengan cinta akan memunculkan aura tertentu yang akan membuat kita menarik untuk membacanya.


Dan saya merasakan cinta yang besar dari Pramoedya untuk Indonesia, untuk kemanusiaan manusia Indonesia, untuk kemajuan bangsa besar yang kita cinta ini. Betapa dalam setiap novel Gadis Pantai ini, Pramoedya menempatkan sudut pandangnya pada seorang gadis desa yang lugu, yang harus berkemelut dengan kerumitan adat istiadat, yang tidak bisa dicerna oleh keluguan dan perasaannya yang sederhana.Selain itu, saya tidak merasa kecewa dengan cerita Gadis Pantai yang tidak selesai. Saya justru berbahagia dan merasa ketumpahan rasa cinta dari Pramoedya.


Maka setelah saya selesai membaca Gadis Pantai, saya mendapatkan pelajaran baru tentang memilih fiksi yang saya suka dan tidak suka. Yang sangat subjektif, tapi sekaligus yang membuat saya mengingkrarkan ingin selalu menulis dengan cinta. Tentu saja menulis dengan cinta itu berbeda dengan menuliskan tulisan tentang cinta. Kita bisa menulis apapun dengan rasa cinta, tapi kisah tentang cinta belum tentu ditulis dengan rasa cinta.


Sekian. Semoga bermanfaat. :)

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.