Friday, February 7, 2014

[CERPEN] Cerita yang Tersimpan Antara Hujan dan Waktu



Ilustrasi gambar diambil dari sini
“Aku tak mau turun dulu. Aku akan menunggu sampai mereka baik-baik saja,” ucap Hujan merendahkan suaranya.

Waktu tersenyum. Hujan masih murung. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 “Turunlah. Dengan lembut..” kata Waktu.

  
***

Konon, Hujan dan Waktu adalah layaknya dua manusia yang saling mencintai. Entah siapa yang perempuan dan siapa yang lelaki di antara keduanya, karena memang tidak ada yang tahu. Tapi mereka selalu memiliki sifatnya masing-masing. Sifat yang jauh berbeda, tapi cukup kuat untuk saling mengisi dan memahami.

Hujan. Ia begitu lembut. Wajahnya sendu dan matanya tercipta teduh. Ia tumbuh dalam hati yang penuh cinta. Ia suka memaafkan, tersenyum dan bernyanyi. Ia selalu membawa sajuta kebahagiaan saat turun dari langit dan membasahi apapun yang berada di bumi. Ia menyukai tanah yang tidak lagi kering, daun serta bunga-bunga yang tidak lagi layu, atap-atap rumah atau perkantoran yang tidak lagi terasa panas, hingga halaman sekolah yang membuat banyak anak-anak kecil bermain air kegirangan atau hanya bisa berdiam di depan kelas untuk menunggunya reda. Hujan selalu berbahagia dengan apapun yang ia basahi. Baginya, banyak benda di bumi yang terlampau kering untuk berbahagia, terlalu lama merasa gelisah, bahkan terlalu berat untuk sekedar tersenyum kecil.

Sedangkan Waktu. Ia begitu tertib dan tidak pernah lalai memutar detiknya barang satu kalipun. Waktu tidak merasa berat melakukan pekerjaannya, karena ia telah diciptakan untuk selalu tepat. Ia justru senang melihat orang-orang sibuk bekerja mencari nafkah yang halal untuk keluarganya, melihat anak-anak kecil main di halaman sekolah atau belajar di dalam kelasnya, melihat ibu-ibu memasak untuk suami dan anak-anaknya, melihat siapapun yang terus bergerak demi kebaikan dirinya. Ia bersyukur telah terlahir sebagai Waktu, yang menentukan setiap jadwal, menjadi titik ukur dari awal dan akhir, menjadi saksi bagi setiap benda yang bergerak di muka bumi.

Tapi Waktu tidak pernah merasakan rindu, sampai ia bertemu dengan hujan. Padahal, Waktu  selalu tahu, bagaimana Hujan jatuh dari awan, terbawa angin yang sekian hembusan, lalu jatuh di daratan bumi. Ia juga tahu bagaimana setiap tetes Hujan hadir satu persatu ke atas rerumputan, lalu rerumputan tersenyum bahagia atas kehadirannya, sehingga bermekaranlah setiap bunga dan sapi-sapi kehausan mulai meminum air genangannya. Waktu juga mengerti kapan Hujan akan datang, karena diapun tahu kapan lautan menguap dan kapan uapan itu membuntuk awan yang lama-lama menjadi gelap. Tapi ia tetap merasakan rindu.

Waktu akhirnya tahu, bahwa ia telah jatuh cinta kepada hujan. Hujanpun demikian. Ia menyukai Waktu karena kegagahan dan ketegasannya. Hujan mengagumi konsistensi Waktu yang penuh. Hujan tahu, waktu adalah hal berharga di muka bumi, karena ia pernah mendengar seorang bos yang memarahi anak buahnya di bawah dua buah payung yang dijatuhinya.

“Kau tau penyebab kegagalan kita kali ini?! Kau tau, ha?!!” kata bos itu membentak.

“....” wajah anak buahnya begitu tegang. Ia tercekat merunduk, tak bisa berkata apa-apa.

“Kau tau, kita hampir saja berhasil mendapatkan tender itu! Seharusnya sekarang kontrak itu sudah ditandatangani! Tapi karena keteledoranmu, kemalasanmu, kecintaanamu pada perempuan itu, kita bangkrut! Modal kita habis! Kesempatan sudah tidak ada lagi! menuntutmupun aku tak mungkin karena tak bisa sewa pengacaraa!!” bos itu semakin menaikkan suaranya.

“Maaf, pak..” kata si anak buah nekat. Ia minta maaf sambil menutup kedua matanya rapat-rapat. Tangannya gemetar.

“Maaf gundulmu?!!!” sang bos rupanya tidak bisa lagi menahan emosi.

Plak!

Si bos memukul si anak buah sampai terjatuh. Sang bos tak memikirkan lagi nasib anak buahnya. Ia pergi begitu saja. Hujan masih terus membasahi luka kecil di bibir kiri si anak buah itu. Hujan sedih melihatya. Karena ia telah turun membasahi bumi sejak si anak buah masih di rumahnya, sebelum berangkat ke tempat rapatnya dengan si bos yang bangkrut itu.

Sebelum si anak buah berangkat, anak tunggalnya yang masih bayi tiba-tiba demam tinggi. Istrinya mengaduh dan panik, sedang ia tak punya uang untuk segera berangkat ke dokter. Hujanpun menyaksikan, bagaiamana istri dari si anak buah meraung-raung ingin bunuh diri karena terlampau lama hidup susah. Si anak buah susah payah menenangkan istrinya yang kalut dan anaknya yang juga tidak berhenti menangis karena demam.

Karena kekalutan itulah si anak buah terlambat datang ke tempat rapat, dan klien bosnya merasa kecewa sehingga membatalkan kontrak yang seharusnya menjadi satu-satunya pekerjaan untuk mendapatkan uang demi kesembuhan anaknya. Hujan sungguh kasihan dengan si anak buah ini. Hujan berpikir, si anak buah ini sungguh lelaki baik yang bertanggungjawab. Si bos dan istrinya hanya tidak memahami apa yang sedang diperjuangkannya saja.

Demikianlah, Hujan jadi tahu betapa perkasanya Waktu. Betapa Waktu benar-benar benda berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun. Sesekali Hujan pernah mendengar kabar, bahwa manusia tengah menciptakan mesin waktu. Tapi Hujan selalu ragu akan hal itu.

***

Hujan yang penyayang itu siang ini jadi murung. Ia masih di dalam sebuah awan dan melamun panjang; belum mau turun ke bumi. Semestinya ia turun pada waktu yang telah ditentukan oleh angin dan awan. Tapi tampaknya ia sedang tak mau turun.


“Masih mikirin si anak buah itu, ya?” tanya Waktu tiba-tiba.

Hujan sediki terperanjat karena terlalu asyik dengan lamunannya. Wajah Hujan murung. Ia hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Waktu.

“Kamu gak perlu sedih cuman karena laki-laki itu. Rasa kasihanmu tak akan membantunya. Ia harus menolong dirinya sendiri.”

Hujan tidak menjawab pertanyaan Waktu. Wajah murungnya masih bertahan, tak bisa disembunyikan.

“Sudahlah, tidak perlu terlalu memikirkan manusia. Mereka sering semena-mena terhadap kita..” gerutu Waktu tiba-tiba.

Hujan menoleh ke arah Waktu.

“Si anak buah itu memang sering mengusikku. Tapi bukan itu yang membuatku melamun!” Hujan menundukkan wajahnya.

Waktu hanya diam. Ia kini tahu Hujan bukan memikirkan si anak buah yang malang itu.

“Kita hanya melaksanakan tugas kita, Hujan. Hanya menjalani takdir yang sudah semestinya..” Waktu mencoba menenangkan Hujan.

“Lalu bagaimana dengan kebahagiaan yang hilang di antara dua anak muda yang baru saja bertemu? Kau mau bilang kita tak jahat pada mereka?!” Hujan tiba menjadi melankolis tiba-tiba.

“Tugasku tidak pernah berubah, Hujan. Aku selalu berjalan dengan ritme yang sama setiap harinya. Tidak pernah berubah. Bukan aku yang jahat. Kalau menurutmu aku jahat, salahkan saja Tuhan yang membuatku tak bisa berhenti atau mundur.”

Hujan merunduk.

“Harusnya kau turun hari ini, kan? Di dua kota berbeda, di kota masing-maing dari mereka berada?” Waktu kembali tenang.

Hujan mengangguk.

“Mengapa kau menahan dirimu untuk turun?”

“Keberadaanku akan membuat mereka menangis, dan aku tidak suka melihat orang menangis saat aku turun ke bumi. Ke dua kota itu.” Ucap Hujan datar.

Waktu tersenyum.

Mereka berdua kini diam saja. Ingatan mereka melayang pada dua anak muda yang telah terpisah bertahun-tahun lamanya, karena tak direstui orang tua keduanya untuk menikah dan bersatu selamanya. Dua anak muda ini tinggal di dua kota berbeda. Hujan dan Waktu sudah lama memperhatikan keduanya. Mereka adalah dua anak manusia yang saling mencintai dan berbicara lewat bahasa hati mereka.

Pernah suatu waktu si anak perempuan dijodohkan. Si anak perempuanpun sudah pasrah akan keputusan orang tuanya, meski hatinya berkata lain. Si anak perempuan hanya berdoa setiap harinya. Hingga satu minggu sebelum hari pernikahan, calon suami yang dipersiapkan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Semua orang iba pada si anak perempuan saat kejadian itu melanda. Tapi di hatinya, ia hanya tersenyum. Ia percaya pada suara hatinya, ia percaya laki-laki di kota lain yang telah terpisah dengannya bertahun-tahun itulah cinta sejatinya.

Satu minggu yang lalu, kedua anak muda itu dipertemukan secara tidak sengaja. Hujan dan Waktu sama-sama berada di sana, saat mereka bertemu. Di kota yang sama-sama tidak mereka duga. Di kota yang berbeda dari dua kota yang memisahkan dua anak muda itu. Mereka sangat bahagia, hingga tak banyak bicara. Mereka hanya saling menyapa, berdiam di sebuah taman, tanpa kata-kata. Tapi kedua hatinya tau mereka masih saling mencintai. Dan kedua hatinya juga tahu, mereka ingin bersatu. Bahkan rasanya mereka ingin menikah saat itu juga.

Tapi, waktu tidak pernah bisa berhenti. Mau tidak mau, saat waktunya tiba, mereka harus kembali ke kota masing-masing. Dan semenjak pertemuan singkat itu, hidup mereka berdua berubah.

Rasa rindu menyeruak di setiap sudut ruangan yang mereka tempati. Bayang-bayang pertemuan yang singkat itu tidak bisa mereka hindari. Rasa sesak di dada mereka membuat mereka tak bisa melakukan kegiatan yang biasanya mereka lalui setiap harinya. Matahari yang biasanya cerah menjadi panas menyiksa. Hujan yang biasanya membawa mereka pada doa-doa harapan tentang masa depan menjadi awan suram yang menyedihkan dan memilukan hati.

Hujan dan Waktu sama-sama tak tega melihatnya.

“Aku tak mau turun dulu. Aku akan menunggu sampai mereka baik-baik saja,” ucap Hujan merendahkan suaranya.

Waktu tersenyum lagi. “Kita juga sama seperti mereka, Hujan. Sama-sama ciptaan. Sama-sama menjalani takdir yang sudah ditentukan bagi kita. Sampai kapan kau akan menahan diri di awan-awan itu? Butiran air yang lain akan mengantri dan berdesakan di awan hitam. Jika sudah waktunya kau turun, turunlah.”

Hujan masih murung. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Suatu saat kita juga akan merasakan hal yang sama. Kita juga akan saling merindukan saat salah satu di antara kita tiba-tiba tiada. Dan aku memang harus terus berjalan, meski langkahku sendiri terasa berat. Tapi, ringan ataupun berat langkah itu, sesungguhnya aku –sang Waktu, tidak pernah sekalipun berjalan dengan ritme lebih cepat atau lambat.” Waktu membelai rambut Hujan dengan lembut.

Hujan masih merundukkan wajahnya. Ia sedih sekali.

“Turunlah. Dengan lembut.” Lanjut Waktu. “Sentuhlah hati mereka berdua. Katakan pada hati mereka, bahwa kita menyaksikan cinta yang ada di hati mereka berdua. Meski terpisah, suatu saat, ketika Tuhan sudah mengizinkan, mereka akan hidup bahagia selamanya.”

Hujan kini menangis.

“Saksikanlah tangisan mereka jika memang mereka menangis. Saksikanlah kemarahan mereka jika memang mereka marah. Tapi sekali lagi, sampaikanlah pada hati mereka, bahwa mereka masih saling menunggu. Dan yakinkan pada hati mereka, untuk tetap bersuara sekencang-kencangnya, agar kedua anak manusia itu bisa mendengar hati mereka sendiri.”

Waktu kini memeluk hujan.

“Aku sudah banyak melihat kisah seperti ini. Kau tidak perlu merasa tidak berguna jika mereka menangis saat kau turun nanti. Percayalah padaku, mereka berdua, dan kita akan baik-baik saja.”

Hujan luluh dengan kata-kata Waktu. Seiring pelukan Waktu, ia kini turun di dua kota berbeda tempat kedua anak muda itu sedang berkemelut dengan kegelisahannya masing-masing. Ia mencoba bicara pada hati kedua anak muda itu, dan tiba-tiba kedua anak muda itupun menangis.

Sementara waktu terus berjalan. Dengan ritme yang sama. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat, tidak juga mundur. Waktu memang bukan peramal yang baik. Tapi pengalamannya bisa mengatakan, bahwa kedua anak muda itu memang benar saling mencintai dan akan hidup bahagia selama-lamanya.

“Aku percaya padamu, Waktu.” kata Hujan.

“Aku percaya padamu, Hujan.” kata Waktu.

“Aku percaya padamu..” kata si anak perempuan di sebuah kota, saat hujan tengah turun.

“Aku mencintaimu..” kata si anak laki-laki, di kota lainnya, saat hujan tengah turun.




Malang, 7 Februari 2014
Nadia Adibie

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.