Saturday, January 25, 2014

[Cerpen] Roman Picisan Seorang Laki-laki

Ilustrasi Karya: Cahya Maulana (@maulanacahya)
Aku masih ingat dengan malam itu. Kini baru aku tahu, bahwa malam itu seperti malam yang mengambil semua harapanku tentang perempuan itu. Harapan yang bahkan tidak kuketahui sebagai harapan. Karena setelah malam itu, aku terbiasa memiliki hidup yang biasa saja. Berjalan sesuai apa yang ada di hadapanku, tanpa ingin berharap yang lebih. Berharap yang lain. 

Mungkin ini layak untuk kau tertawakan. Ini memang memalukan. Karena bayangkanlah, betapa konyolnya. Seorang anak laki-laki umur sepuluh tahun, menyukai teman sekelasnya, dan ternyata tidak bisa melupakan perempuan itu sampai sekarang. Usia segini. 22 tahun.

Tapi tahanlah napasmu sebentar. Perhatikanlah bagaimana kejamnya hidup yang dikecap oleh perempuan itu di usia yang sebaya denganku kala itu.

Malam itu, adalah malam ujian akhir catur-wulan yang biasa kami hadapi untuk mengumpulkan nilai-nilai baik, supaya bisa naik kelas, supaya bisa berpendidikan tinggi. Aku, seperti biasanya tidak bisa tidur nyenyak kala esok harinya akan menghadapi pelajaran bahasa Indonesia. Aku dan ibu masih terjaga sampai pukul setengah sebelas malam. Ibu terus mendukungku untuk mengulang-ulang lagi cerita atau dongeng yang belum aku pahami. Ya, begitulah aku dalam soal cerita atau dongeng; selalu punya banyak pertanyaan.

Misalnya tentang kisah Si Kancil anak nakal yang suka mencuri ketimun. Aku bertanya banyak hal pada ibu. Pertanyaan-pertanyaan yang jika kuingat lagi di masa ini, adalah cukup aneh. Seberapa pentingkah dongeng-dongeng itu dijelaskan? Misal; mengapa tokoh yang cerdas di novel ini jahat, dan tokoh yang baik adalah tokoh yang bodoh? Apakah kecerdasan akan membawa kita pada kejahatan? Atau pertanyaan tentang ketimun, buaya, atau yang lainnya. Yang sejenis itulah.

Pukul setengah sebelas malam, sebenarnya aku sudah mulai mengantuk. Ibu masih belum mengantuk dan terlihat begitu bersemangat menemaniku.

“Kau mau langsung tidur, atau ibu buatkan lagi susu coklat?” ibu membelai kepalaku dengan lembut.

“Tidak, bu. Biar aku tidur saja setelah selesai cerita terakhir ini..” jawabku singkat.

“Tumben?” Ibu tersenyum kecil menatapku.

Aku menjawabnya dengan menaikkan kedua bahuku, dan melanjutkan membaca dongeng terakhir yang ingin aku pahami.

Rasa-rasanya aku sudah hampir tertidur saat itu. Tapi teriakan ibu membangunkan mataku yang mulai lemat untuk terjaga.

“Masya Allah!” teriak ibu. Sejenak setelah aku membuka mataku dan menguceknya agar tersadar, kulihat ibu bergegas dari ruang tengah ke ruang tamu. Ibu sedikit berlari ke ruang tamu, dan saat itu juga aku berdiri dalam keadaan masih bingung. Aku lihat jam dinding, tepat pukul sebelas malam. Aku berjalan hendak ke ruang tamu, tapi ibu berlari melewati ruang tengah dan menuju kamar bapak. Beberapa saat kemudian bapak terbangun dan keluar kamar sambil berlari mengenakan sarung seadanya.  Bapak keluar rumah dengan segera, dan aku menyusulnya.

Sesampainya di teras, aku baru bisa menyaksikan apa yang membuat ibu berlari panik membangunkan bapak. Mataku terbelalak, dan rasa kantuk itu tak ada lagi sepersenpun. Aku menyaksikan rumah perempuan itu terbakar. Rumah perempuan itu,  yang letaknya berhadapan tepat dengan rumahku. Hanya dipisahkan oleh halaman rumah kami masing-masing dan jalan setapak kecil.

Spontan kakiku berlari ke arahnya, tapi ibu menahanku. Ibu memelukku sambil menangis.
“Jangan ke sana, sayang. Kau tidak seharusnya melihat kejadian seperti itu!” kata ibu sambil memelukku dengan tersedu.

Tapi aku tak bisa melepaskan pandanganku pada rumah perempuan itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus melarikan diri di tengah kobaran api yang menyala-nyala itu. Aku tidak bisa membayangkan seberapa panasnya. Bagaimana sakit asmanya. Dan aku tidak tahu, dan belum bisa mengerti apa penyebabnya. Aku hanya menuruti apa kata ibu.

“Jangan lama-lama kau lihat rumah itu nak.. jangan dilihat..”, katanya sambil mendekapku.

Tapi sesaat kemudian aku lihat banyak orang berlarian, mobil pemadam kebakaran datang, bunyi sirine memenuhi telinga penduduk di kampung kami. Kepanikan tak terbendung.

Hanya satu yang aku pikirkan. Dasar pikiran yang sama seperti saat aku menanyakan apapun tentang dongeng-dongeng yang membuatku tak bisa tidur itu;

KENAPA?!

***

Kau mungkin akan mengejekku dengan terus mengingat perempuan yang aku sukai sejak Sekolah Dasar. Tapi itulah kenyataan yang harus aku tuliskan jika aku memang ingin menuliskan kejujuran.

Awalnya, aku yang sepuluh tahun itu tidak tahu apa itu cinta dan segala macam rasanya. Aku bukanlah anak laki-laki yang tengil dan suka menggoda perempuan-perempuan kecil ketika itu, seperti teman-temanku kebanyakan. Aku juiga tak suka berkumpul dengan preman kampung yang baru saja beranjak remaja, tapi yang dibicarakannya sudah urusan orang-orang dewasa. Dalam pergaulan kampung, aku yang sepuluh tahun itu termasuk anak laki-laki pendiam dan penurut pada ibu dan bapak.

Perbedaan itulah yang membuatku bersimpati pada perempuan itu.

Sore itu, adalah hari piket kami berdua. Di sekolah dasar kami, hari piket berarti merapikan kelas sebelum dan sesudah pelajaran selesai. Sore dengan hujan yang deras, dan bersama lima teman sepiketku. Di antara 5 orang teman itulah, perempuan itu ada dan rutin bekerjasama denganku untuk membersihkan kelas selepas pelajaran usai. Setiap hari selasa.

Sore itu, aku masih belum mengerti apa itu cinta dan segala macam rasanya. Sampai pada suatu detik, ia meminta tolong padaku.

“Bara, tolong aku dong!” panggilnya sambil menahan serok pembersih yang penuh dengan sampah. Sampah-sampah itu ditahanya dengan mengapitkan sapu di atas serok. Agaknya sampah itu akan segera jatuh.

“Sebentar, tahan Ris. Aku ambilkan tong sampahnya.” Jawabku.

“Gimana kalo kamu bawa aja sampahnya. Mungkin kamu lebih kuat..”

“Oke, sini.” Sesaat aku sudah mengangkat serokitu sekaligus sapunya. Aku meraih mereka dari tangan mungil perempuan itu.

“Makasih banyak ya Bar.. Hihi..” Katanya malu-malu.

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Karena kau tau? Tiba-tiba aku tak bisa bernapas! Ya. Saat aku meraih serok dan sapu dari tangan mungilnya itu, aku merasakan degupan luar biasa. Sentuhan tanganku dan tangannya hanya sekelebat saja. Tapi efekya betul-betul tidak bisa aku duga. Dan ucapan terimakasihnya yang ceria itu, membuatku semakin tidak bisa apa-apa.

Aku memang lebih kuat darinya untuk mengangkat seonggok sampah kelas di atas serok itu. Tapi sesaat setelah sampah-sampah itu kubuang, kakiku seperti tidak kuat berdiri.

Begitulah kisah sederhana bagaimana aku merasakan cinta padanya untuk pertama kali. Awalnya aku tidak mengerti apa itu cinta, dan segala macam rasanya. Bahkan sore itu, aku tidak mengerti bahwa itulah rasa cinta. Itulah namanya jatuh cinta.

Saat tugas bersih-bersih kami hampir selesai, hujan turun semakin deras. Sesungguhnya, hal itu bisa diduga karena sejak siang langit di atas kampung kami sudah terlihat gelap. Angin juga sudah bertiup lebih kencang, seperti membawa pesan kesunyian dari hujan.

Empat teman-teman sepenugasan piket sudah sepakat untuk pulang dengan keadaan hujan-hujanan. Kebetulan kampung kami bukanlah kampung yang besar. Pulang dengan kehujanan bersama-sama adalah cukup aman untuk memastikan kami sampai di rumah kami masing-masing. Sebetulnya aku sudah menyepakati untuk pulang bersama dengan kondisi kehujanan. Tapi perempuan itu tidak mau ikut.

“Aku tunggu sampai hujan reda aja deh..” katanya.

“Kenapa? Nanti kamu sendirian lho di sini. Hujannya deres banget. Gak pasti akan reda kapan..” kata teman perempuanku yang lain.

“Gak papa, kalian pulang duluan aja. Kalau ikut hujan-hujanan asmaku bisa kambuh..” jawab perempuan itu singkat.

Kami berenam saling berpandangan sesaat. Kami semua tahu, bahwa jika perempuan itu tinggal sendiri di sini, kami tidak akan bisa memastikan bahwa ia pulang dengan selamat. Tapi kami semua harus segera pulang, biar orang tua kami tidak kebingungan.

“Biar aku yang nganter Riska pulang. Kalian pulanglah dulu..” spontan aku memutuskannya sepihak.

Perempuan itu seperti terkejut, tapi sesaat kemudian dia tersenyum. Empat teman-temanku yang lain menyetujuinya dan mereka pulang dengan bermandikan hujan. Mereka tertawa riang pulang di antara hujan, tidak memedulikan buku yang basah atau kaus kaki yang bau.

“Kita punya alasan buat main hujan! Yeaaaaa!!” teriak teman laki-lakiku di tengah lapangan.

Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Apa yang lebih menyenangkan daripada bermain hujan kala itu? Ah, bermain hujan adalah permainan terindah semasa kita kecil dulu, bukan?

Perempuan itu ikut tertawa melihat teman-teman kami tertawa kegirangan.

“Hati-hati yaaa!” Ia berteriak sambil melambaikan tangan pada teman-teman kami yang langkahnya semakin jauh dari halaman sekolah.

Lalu kami berdua terdiam, sampai perempuan itu yang mengawali pembicaraan.

“Makasih banyak ya Bara.. Hihihi..” Ucapnya penuh dengan nada sumringah.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Karena lagi-lagi dadaku berdegup kencang.

“Memang sakit asma itu sakit ya?” tanyaku dingin. Kurasa saat itu aku memanfaatkan kebiasaan bicaraku yang dingin untuk menutupi perasaan tidak karuan dalam dadaku.

Ia mengangguk. “Rasanya gak enak banget. Seperti ada di ruangan sempit. Gak bisa berpikir. Gak bisa minta tolong. Aku gak mau lagi merasakan yang seperti itu..”

“Tapi apa bermain hujan akan menyesakkan napasmu?”

“Memang enggak, Bar. Tapi setelah bermain hujan kita sering flu. Kalo udah flu pasti kena asma..” tiba-tiba wajahnya murung menjawab pertanyaanku.

“Padahal bermain hujan itu asyik sekali.” Aku berujar dengan datar.

Perempuan itu mengangguk. Tapi ia tidak memilih melanjutkan ratapanku padanya tentang asyiknya bermain hujan. Ia langsung melanjutkan pembicaraan kami dengan ceria.

“Tapi aku suka banget kalo bisa liat pelangi Bara.. Cantiiik banget.. ” tiba-tiba matanya berbinar.

Jika mengingat kejadian itu, aku jadi sadar betapa indahnya perempuan itu untuk dicintai. Bukannya ia balik melanjawab ratapanku dengan ratapan. Tapi justru ia bicarakan tentang indahnya hujan. Betapa cerianya perempuan itu. Betapa murninya rasa syukur yang ia miliki. Jauh berbeda dariku, yang selalu bertanya tentang cerita-cerita ganjil dari dongeng-dongeng. Kritis, sering skeptis, dan tidak bisa seceria perempuan itu.

Dan akupun bisa menyimpulkan demikian, setelah pertemuanku kembali. Saat kami sudah beranjak dewasa.

***

Sejak malam kebakaran itu, aku tidak lagi bisa bertemu perempuan itu. Kabar buruk tersiar ke seluruh kampung. Kata mereka, papa perempuan itu yang membakar rumah mereka setelah mengaiaya istrinya sampai istrinnya tak sadarkan diri. Istrinya tidak mati, hanya terkena luka bakar saja. Tapi istrinya mendekam di rumah sakit jiwa setelah luka bakarnya dipulihkan. Papa perempuan itu dipenjara, dan mendapat penghinaan besar dari orang-orang di kampung kami. Dan perempuan itu dikabarkan dibawa pamannya ke kota, untuk disekolahkan.

Sebagai anak laki-laki berusia sepuluh tahun kala itu, aku tidak sampai memikirkan bagaimana rasa cintaku akan tersambut, atau kapan perempuan itu akan kembali ke kampung kami dan bertemu denganku, atau bagaimana nasib harapanku padanya? Bisakah kami menikah dan membangun keluarga bersama? Bahkan aku tak sampai bisa memikirkan bahwa ibuku pasti melarang kami menikah, lantaran ayahnya telah dikenal sebagai orang yang keji.

Kali itu aku memutuskan untuk tidak bertanya soal apapun, dan memilih jalan aman untuk diam. Aku memilih untuk tidak lagi memedulikan degupan keras yang aku rasakan sore itu. Aku memilih untuk turut menganggap papanya sebagai orang yang keji. Dan aku memilih untuk melupakan perempuan itu.

Tapi nyatanya berbeda.

***

Aku sendiri melanjutkan studiku dengan berkuliah di kota. Ada banyak kota di negeri ini, dan ibuku memilih Kota Jogja. Masuk jurusan sastra Indonesia, karena ternyata rasa penasaranku akan dongeng-dongeng itu berujung pada jurusan ini. Aku tak bisa menceritakan banyak hal tentang perkuliahanku, karena memang tidak ada yang bisa aku ceritakan. Semuanya biasa saja.

Tapi catatan pentingnya, adalah aku belum pernah berpacaran. Sampai sekarang, saat usiaku telah 22 tahun. 12 tahun setelah rasa cinta pertamaku dan kejadian buruk yang menimpa perempuan itu.

Aku suka menulis fiksi sejak SMA. Karena kegiatan menulis, aku menjadi laki-laki remaja yang tidak bisa bergaul dengan lentur pada sembarang teman. Itu cukup membuatku mendapat cap lelaki dingin. Tapi entah kenapa aku suka menyandangnya.

Anehnya, dari hobiku itu aku bisa memproduksi banyak cerita-cerita fiksi. Saat SMA, aku selalu diminta untuk aktif mengisi majalah dinding. Aku diikutkan lomba-lomba penulisan cerpen dan puisi. Dan aku telah meraih sekian prestasi semasa SMA.  Aku tidak sengaja menggeluti dunia menulis yang ternyata aku sukai itu. Hingga kini aku telah bisa menggantungkan hidup pada hobi tersebut.

Dan pencapaianku tidaklah buruk. Aku sudah menerbitkan dua novel dan satu kumpulan cerpen, sampai saat ini. Mungkin karena itu pula dua hari yang lalu aku mendapatkan email dari editor sebuah penerbit yang cukup besar yang bermaksud untuk mengontrakku menuliskan novel ketigaku.

Aku mengirmkan sms konfirmasi sebagaimana yang diperintahkan dalam email itu. Kami janjian untuk bertemu dua hari setelahnya. Hari ini.

***

Pertemuan itu terjadi sore tadi, sebelum aku menuliskan kisah ini untukmu. Ya, siapapun kamu. Aku bahkan tak percaya sore tadi adalah sore yang akan membawaku dalam lingkaran pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan. Setelah sekian lama aku tak terlalu memikirkkan apapun tentang apa yang ada di depan.

Aku pikir, pesangon dari tulisan-tulisankau sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Karier menulisku sudah cukup menjadi ‘istriku’ untuk melalui masa depan yang masih gelap itu. Pikirku, segelap-gelapnya masa depan, toh aku sudah punya karier menulis –dan aku tidak perlu khawatir. Aku menjalani hari-hari dengan biasa saja. Membaca dan mepelajari sastra dengan biasa saja. Mengungkapkan gagasan-gagasan dengan biasa saja, dan hidup biasa-biasa saja: tinggal dijalani saja.

Misalnya nati akan menikah, aku kira aku akan menikah dengan biasa saja. Punya anak dan istri dengan kebahagiaan yang juga biasa saja.

Tapi kenyataannya, aku baru saja melalui sore yang luar biasa.

***

Kami janjian pukul 4 sore di Goebex Caffe. Aku sudah di sana setengah jam sebelumnya, karena memang aku suka menyendiri di tempat itu. Sambil membaca buku, atau menuliskan sesuatu untuk pembacaku. Tapi sore tadi aku memilih membaca buku. Entah kenapa perasaanku sedikit gelisah kala itu.

Pukul 4 kurang lima menit, seorang perempuan berkacamata full-frame berwarna coklat tua menghampiriku. Ia ramping dan penampilannya menarik sekali.

“Hai, Bara..” tangan yang disodorkannya untuk bersalaman mengagetkanku yang sesungguhnya tidak seberapa fokus dengan buku yang kubaca.

Aku balas meraih tangannya yang hendak bersalamana itu. “Hai..” kataku.

“Aku Rianti dari Penerbit Cinta..”

“Oh, ya..” jawabku datar. Lalu, kau taulah.. pembicaraan selanjutnya adalah presentasinya untuk melobiku menuliskan sebuah novel.

Saat pukul 5 sore tiba, pembicaraan kami sudah mulai cair. Mbak Rianti adalah orang yang supel dan mudah mencairkan suasana. Dari pesanannya –jus lemon, terlihat bahwa ia adalah orang yang sangat ceria.

“Oh ya Bar, aku kan sibuk, gak bisa begitu intensif mendampingi kamu ngerjain project ini. Tadi pagi ada anak magang yang baru masuk, dan kayaknya dia tertarik banget sama buku-buku kamu..” dia sejenak menghentikan pembicaraannya karena ingin menyedut seteguk jus lemon di hadapannya.

Aku hanya menunjukan ekspresi bertanya.

“Tadi siang sih aku udah diskusi sama dia tentanhg project ini, dan menurutku sih dia gak terlalu buruk untuk pemula. Sepertinya dia ngefans banget sama kamu. Jadi aku pikir, dia akan jadi penghubung antara aku sama kamu. Gagasanya bagus. Dia pembaca yang baik..” lanjutnya.

“Oke, mbak. Gak masalah.. kalo ada apa-apa, aku email mbak Rianti aja nanti.” jawabku

“Sebenernya aku ngundang dia ke sini. Tapi karena masih harus menajalani pengarahan sampe jam 5 mungkin baru ke sini sekitar setengah enam. Yang jelas aku nyuruh dia nyusul. Kamu gak keberatan kan?”

“Gak masalah mbak. Sama sekali gak masalah..”

Setelahnya, mbak Rianti tampak sibuk menelpon dan membalas pesan-pesan di bbm-nya. Dan ternyata 15 menit setelah pukul 5 sore, perempuan yang dimaksudnya sudah datang.

“Nah, itu dia..” mbak Rianti menunjuk seoprang perempuan yang baru saja memasuki taman parkir.

Melihatnya dari kejauhan membuat perasaanku menjadi sangat aneh. Entah kenapa kegelisahan yang sudah ada sejak sebelum mbak Rianti datang, semakin berkecamuk dalam batinku. Aku seperti pernah mengalami kejadian itu: deja vu. Ada seorang editor berkacama full-frame warna coklat di hadapanku, suasana caffe terbuka yang santai, musik-musik jazz yang terdengar sayup-sayup, jus lemon, dan pemandangan melihat perempuan yang sedang membenahi parkir motornya.

Begitu selesai memarkir motornya, ia mengeluarkan beberapa buku dari tas ranselnya. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat ia mengeluarkan bu-buku yang sudah aku tulis: 2 novel dan 1 kumpulan cerpen. Ada juga dua novel Pramoedya yang sedang aku ulas di blog.

Dia berjalan mendekat ke meja tempat aku dan mbak Rianti duduk. Ada degupan kencang yang sudah sangat lama tidak aku rasakan. Aku memang sudah sedikit lupa dengan wajahnya, tapi aku yakin ia adalah perempuan itu. Dari langkahnya, dari tatapannya padaku, dan buku-buku yang didekapnya, aku tahu itu dia. Dan tiba-tiba aku tak bisa mendengar apa-apa. Semuanya seperti sebuah scene lambat yang bergerak tanpa suara. Entahlah bagaimana wajah mbak Rianti dan apa yang diucapkannya, aku sudah tidak bisa peduli lagi.

Sampai di mejaku, ia menyodorkan tangannya.

“Apa kabar, Bara?” ia mengucapkannya sambil mengajakku bersalaman. Senyumnya mampu menunjukkan bahwa ia sama sekali tak keberatan menjalani hari-hari suram dalam hidupnya. Atau lebih tepatnya, ia berparas seolah-olah ia tak pernah memalui malam yang mengerikan itu. Yang bahkan paling mengerikan dalam hidupku.

“Baik..” jawabku dingin.

“Lama gak ketemu ya? Hihihi.. jangan kaget..” katanya sambil tertawa. Dengan santainya ia duduk di hadapanku.

Aku tercekat, dan tak bisa apa-apa lagi. Bahkan aku tidak tahu bagaimana harus aku menuliskan cerita selanjutnya: apa yang kami bicarakan, bagaimana caraku mengontrol diri untuk tetap biasa saja, untuk tetap dingin dan tetap bicara seadanya.

Sungguh aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus menceritakannya. Kini temaram lampu kamar dan sebuah laptop di hadapanku ini menjadi teman yang tak tergantikan untuk menikmati kegelisahan. Aku tidak bisa lagi bersikap biasa, dan tidak akan lagi menjalani hidup yang biasa. Kuharap kau mau membantuku untuk berdoa.

Semoga Tuhan selalu melindungi perempuan itu. Amin.  


Malang, 28 Desember 2013
Nadia Adibie

9 comments:

  1. Replies
    1. wah, terimakasih banyaak. masih belajar ini :))

      Delete
  2. Replies
    1. Makasih banyak! Makasih juga karena saya jadi pengen nulis cerpen lagi karena baca komentar ini.

      Delete
  3. alur cerita nya jadi BAPER, keren ka..

    ReplyDelete
  4. Penasaran mba sama lanjutannya nanti kayak gimana yah

    ReplyDelete
  5. Keren banget ceritanya....
    Baper aku....
    Pengentau kelannutan caritax....

    ReplyDelete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.