Tuesday, January 7, 2014

Opera

Malam ini saya terbangun karena sakit perut, lalu tak bisa tidur lagi. Sampai tulisan ini diunggah, perut saya masih tidak enak dirasa. Tadi, sebelum saya memutuskan menyalakan komputer ini, saya kepikiran tentang acara-acara hiburan di televisi kita. kebanyakan dari mereka adalah acara ringan di atas panggung dengan konsep yang sangat menghibur. Kabarnya, rating acara-acara semacam itu meraih angka yang fantastis. Barangkali memang kita sudah terlalu penat dengan berita korupsi, kecelakaan, pembunuhan, terorisme yang tidak jelas, dan lain-lain itu, ya?

Tentu saja saya bukan Farhat Abbas yang akan mengutarakan pendapat bahwa acara-acara hiburan tersebut tidak mendidik --itulah kesimpulan saya tentang pendapat Farhat Abbas.

Di tengah lampu kamar yang sudah gelap, saya bertanya dalam hati. Apa tawa dan canda mereka di layar kaca itu asli, atau lebih tepatnya; selalu asli?

Pikiran saya mulai lari kemana-mana. Saya ingat, beberapa tahun yang lalu saya pernah membuat sebuah pertunjukan drama bersama teman-teman sekelas saya untuk memenuhi persyaratan kelulusan mata kuliah kajian drama. Saya akui, proses menyajikan sebuah drama dengan durasi yang tidak terlalu lama, lebih-kurang satu setengah jam, memang sangat menyenangkan. Tapi di samping rasa senang itu, saya juga banyak mengingat rasa lelah. Latihan yang dimulai selepas waktu maghrib sampai hampir tengah malam, yang dilakukan 3 hari dalam seminggu selama kurang lebih 3 bulan, adalah pengalaman tak terlupakan bagi saya. Terlebih saya bukan termasuk orang yang sangat menggeluti dunia drama, peran dan sejenisnya. Dan terlebih lagi, saya terpilih memerankan sosok seorang ibu yang anaknya sedang sakit.

Kesan singkat saya dari drama kampus yang pernah kami sajikan adalah luar biasa. Ya: benar-benar luar biasa. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa dalam menyajikan suatu pertunjukan peran yang hanya berdurasi tidak sampai 2 jam itu, membutuhkan persiapan yang lama dan melelahkan. Dan saya akui, setelah selesai pertunjukan kami, saya merasa seperti terbebas dari serangkaian kekangan waktu yang menjerat: entah itu waktu latihan, naskah percakapan, penghayatan peran, konsentrasi pada sosok 'ibu' yang saya perankan, vokal yang harus jelas, hingga kostum dan make-up.

Dan sejak itu saya jadi mengerti dua hal. Pertama, tidak ada yang instan di dunia ini, bahkan yang dari luar terlihat mudah sekalipun. Kedua, dunia pertunjukan menuntut kita untuk 'melepaskan kedirian' kita selama berada di atas panggung.

Kedua hal itulah yang saya pikirkan saat menanyakan: Apa tawa dan canda mereka di layar kaca itu asli, atau lebih tepatnya; selalu asli?

Memang jawabannya adalah tidak. Saya membayangkan jika saya jadi mereka, betapa lelahnya memenuhi kontrak waktu untuk mengisi berbagai macam acara, bahkan saya sering melihat beberapa artis yang muncul pada pagi-siang-malam sekaligus. Saya mempertanyakan; bagaimana cara mereka tetap berwajah ceria, memunculkan tawa yang terbahak lepas, jika seandainya sedang ada masalah berat yang melanda mereka.

Tentu saja mereka adalah artis profesional yang sudah berpengalaman dalam soal 'berwajah lain' saat hati sedang merasa lain.

Mungkin memang begitulah seharusnya "opera" dijalankan. Dan mungkin memang begitulah yang harus kita lakukan jika sebuah kontrak sudah kita setujui dengan materai dan tanda tangan. Dan mungkin memang itulah langkah benar yang mau tidak mau harus kita jalankan.

Dunia ini
Panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah

Jika kehidupan kita serupa opera, maka inilah yang harus kita lakukan. Saya sering mengkhawatirkan diri saya jika suatu hari nanti saya menjadi seorang ibu, misalnya. Saat saya menjadi seorang ibu, sudah pasti saya harus mendidik dan mengurus anak saya, apapun kondisi dan perasaan saya. Saya tidak bisa lagi hanya selimutan di atas kasur, menuruti rasa galau saya seperti saat kuliah dulu. Artinya, apapun kegalauan yang saya rasa, saya harus tetap menjalankan peran saya sebagai seorang ibu.

Bahkan saya terpikir, seharusnya sejak saya masih kuliah saya tetap fokus untuk memerankan tokoh 'mahasiswa', apapun yang saya rasakan dan apapun keadaanya.

Nah! Bingo!

Dunia ini panggung sandiwara, yang ceritanya banyak berubah. Kemarin saya mahasiswa, hari ini saya seorang kakak yang sibuk mengurus adik yang masih TK, lalu saya masih punya impian dalam karier menulis, lalu suatu hari saya akan menjadi seorang istri, ibu, nenek, dan mati. Pertunjukan selesai jika waktu itu tiba.

Persoalan selanjutnya adalah sebaik apa kita memerankan opera ini? Maka saya kembali pada kesimpulanpertama saya tentang bermain drama, bahwa membawa peran dengan baik membutuhkan latihan yang gigih dan fokus, yang benar-benar tidak instan, bahkan yang dari luar terlihat mudah sekalipun.

Barangkali benar; bahwa semakin baik peran yang kita jalankan, semakin baik pula nilai kita di mata Tuhan.

Bingo!


4 comments:

  1. persis seperti yang dikatan dosen SosKom saya dulu, "Hidup manusia adalah permainan dramaturgi. Kita bermain peran dari keadaan ke keadaan."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya MasMoe. Begitulah yg saya dapatkan dari belajar mementaskan drama.. :)

      Delete
  2. fake it until you make it?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin bukan berpura-pura. Tapi berdrama. Membawakan sebuah peran. :))

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.