Monday, January 20, 2014

Tidak Sekedar Cinta di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Takdir, barangkali serupa kereta yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dikendarai oleh masinis dan ditentukan oleh waktu. Kita menaikinya karena membeli sebuah tiket dan telah mempersiapkan diri, ke manapun tujuan kita, saat kita sudah berada dalam kereta maka nasib kita ditentuka oleh masinis, waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Terlebih saat kita menjadi seorang penumpang dalam sebuah pesawat, pun tiket sudah terbeli, nasib kita benar-benar ditentukan sang pilot, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Tapi takdir sedikit berbeda bagi seorang Zainuddin, tokoh utama dalam karya besar Hamka; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
 Ya, saya belum menonton filmnya karena berbagai hal. Mungkin pilot yang membawa saya dalam perjalanan 'menginginkan menonton film itu' harus terus terbang di udara karena tidak berdamainya ia dan waktu. Saya menunggu di atas sini, hanya untuk didaratkan pada keinginan itu. Beruntung saya menemukan novelnya dalam penantian pendaratan ini. 

Novel indah, bagi saya pribadi selalu tentang ketakutan dan harapan. Semakin mencolok keduanya bertabrakan, maka semakin menariklah ia untuk dibaca. Tapi hal ini memang sedikit berbeda dari buku Haruki Murakami yang saya baca beberapa waktu lalu; harapan seperti hanya 10 persen, dan ketakutan 90 persen. Tapi catatannya, teknik Murakami itu sempurna.

Ketakutan dalam novel ini diwakili oleh takdir sejak lahir yang dibawa Zainuddin, yang datang dari Mengkasar --tanah kelahiran ibunya menuju Minangkabau --tanah kelahiran bapaknya. Tidak mendapatkan tempat yang layak, dipisahkan dari Hayati --perempuan kecintaannya, dikutuk adat yang membuatnya tak punya masa depan barang setetes airpun, ditinggal menikah oleh Hayati, dan tidak punya siapa-siapa. Sedangkan harapannya, hanya berupa cinta yang terbalas, yang akhirnya hancur saat baru sekuncup yang tumbuh. Ah, keputus-asaan dalam novel ini begitu banyak, dan seterusnya, sampai akhirnya Zainuddin tidak bisa lagi bertahan hidup karena kematian Hayati yang telah ditolaknya, saat ia sudah jadi orang di kota.

Hamka punya diferensiasi yang kuat dalam menyajikan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Ia punya gaya Minangkabau yang khas. Kekasih saya bilang, sejak dahulu tanah Minang merupakan tanah yang lekat dengan puisi-puisi lama, yang artinya berbahasa dengan indah sudah jadi budaya. Dan saya rasa, Hamka dan Andrea Hirata merupakan bukti kuat betapa Melayu punya keunggulan berbahasa.

Saya mengagumi Hamka sebagai seorang Buya dalam menuliskan tafsir Al-Azhar yang membuat saya serasa berguru pada seseorang yang sangat bijaksana. Saya mengagumi Hamka sebagai seorang ulama yang cerdas, tegas, dan memiliki pendiriannya sendiri dalam bersastra. Saya melihat hal-hal tersebut justru dalam kalimat-kalimat pendahuluan yang ditulisnya sendiri. Bacalah ini.

Sesungguhnya bagi seorang golongan agama, mengarang sebuah buku roman, adalah menyalahi kebiasaan yang umum dan lazim pada waktu itu. Dari kalangan agama pada mulanya, saya mendapat tantangan keras. Tetapi setelah 10 tahun berlalu, dengan sendirinya heninglah serangan dan tantangan itu, dan kian lama kian mengertilah orang apa perlunya kesenian dan keindahan dalam hidup manusia. 
 ..........
 Kedua, ialah kesempatan diri sendiri "bercermin air", melihat diri sendiri di zaman yang telah dilaluinya; jelas kelihatan dua hal yang mempengaruhi jiwa. Pertama sentimen yang bergelora. Kedua, tekanan suasana, sebab kemerdekaan masih dalam cita-cita, dan penjajahan masih menekan segala lapangan hidup, supaya hal itu tetap kelihatan, maka ketika membacanya kembali, jalan cerita dan perasaan pengarang, yang  menjadi inti buku, tidaklah dirobah-robah. Sebab dia adalah puncak kekayaan jiwa yang dapat diciptakan di zaman sebelum suasana merdeka. (Pengantar cetakan ke-5 di halaman 5 dalam cetakan ketigabelas, penerbit Bulan Bintang)

Lihatlah bagaimana seorang Buya berbicara tentang penjajahan dan kemerdekaan. Karena bagi saya secara personal, kisah Zainuddin-Hayati bukanlah sekedar kisah cinta biasa, tapi ia adalah kisah tentang realitas adat istiadat yang dibangun oleh nenek moyang kita sendiri, sebuah gagasan yang meneriakkan kata "merdeka, merdeka, dan merdeka!", yang menampakkan korban dari penjajahan adalah tidak hanya perut kita yang lapar, atau rumah kita yang dibakar, atau kemiskinan, tapi juga kebutuhan utama kita: HARAPAN.

Terakhir, seorang teman pernah mengisi tab-mention saya. Katanya kurang lebih begini: saya pernah dengar tulisan Pram penuh dengan pemberontakan dan kebencian, sedangkan Hamka penuh dengan cinta dan kesantunan. 

Lalu, saya membalas mentionnya dengan emoticon senyum seperti ini: Bagi saya, Hamka dan Pram sama-sama berontak dan penuh cinta. :)) 

JIka kau sudah menonton film-nya, percayalah kau tetap akan menemukan 'Harta Karun' dalam novelnya. Semoga Allah senantiasa merahmati Buya Hamka, dan menempatkannya dalam Surga Firdaus di akhirat nanti. Aamiin.

Terimakasih, Buya..



4 comments:

  1. Jadi penasaran sama novelnya...

    ReplyDelete
  2. wah gara-gara filmnya novel saya jadi korban. dipinjam secara bergilir, lalu sekarang entah dimana. mahasiswa oh mahasiswa :D

    ReplyDelete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.