Wednesday, January 1, 2014

Apa yang Sedang Kamu Gelisahkan?


Dari sekian banyak yang saya baca, dengarkan, dan bahkan saya alami, saya berkesimpulan bahwa kegelisahan bukanlah sesuatu yang aneh. Tentu saja terutama bagi kita yang masih berusia muda (walaupun saya sedang gelisah pada usia saya yang semakin menua). Tapi memang benar, kita ini masih muda. Bagi yang senasib dengan saya; setidaknya kita belum menikah, belum punya anak, sudah lulus kuliah, dan bebas memilih jalan apa yang harus kita tempuh. Ya, mungkin kata "bebas memilih jalan yang harus ditempuh" itu bagi sebagian besar orang hanyalah kata lain dari pengangguran.


\Apa yang sedang kamu resahkan?

Sejak semester-semester akhir saya berkuliah saya memang tidak suka berpikir saya akan bekerja sebagai seorang karyawan. Tapi pertanyaan-pertanyaan dari banyak sekali orang setelah mendengar kelulusan saya adalah selalu dan selalu tentang: kerja dimana sekarang?

Memang saya bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi semakin hari saya semakin menyadari bahwa pertanyaan itu sangatlah wajar. Karena memang kita selalu memiliki kegelisahan masing-masing, bukan?

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Dari sekian banyak yang saya baca, dengar, dan alami sendiri, saya berkesimpulan kegelisahan bukanlah hal aneh. Ia adalah hal wajar. Memang banyak dari sarjana-sarjana yang senasib dengan saya ini merasa begitu gelisah mencari pekerjaan, mencari suami, mencari kemapanan hidup di usia muda dan keinginan-keinginan lain yang menggalaukan dari hari ke hari.

Buktinya, para alumnus universitas selalu memberikan ucapan: welcome to the real world pada adik-adik kelasnya yang baru saja diwisuda. Maka saya bertanya-tanya: apa itu the real world?

Apa yang sedang kamu resahkan?

Pada bulan-bulan terakhir sebelum diwisuda, saya memang selalu mengatakan dengan sangat tegas pada diri saya sendiri: jangan khawatir pada apapun! Jangan jadi sarjana yang lebih penakut dari lulusan SMA atau SMP atau bahkan SD! Mereka saja berani menghadapi hidup, kenapa kamu harus takut?!  Kerjakan apa yang ada di hadapan matamu dengan usaha yang terbaik, dan hadapi papaun setelahnya!

Tapi nyatanya kegelisahan itu tetap datang. Pun saat saya sudah benar-benar berpikir harus melakukan yang terbaik yang ada di depan mata saya. Dan tidak terlalu berpikir pusing tentang pekerjaan yang saya inginkan. Dan saya bertekad dengan memulai yang terbaik dengan yang saya miliki saat ini.

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Saya menggelisahkan diri saya yang belum bisa melakukan yang terbaik. Itu hal buruk bagi saya. Itu hal yang membuat saya khawatir pada apa yang akan dan telah terjadi pada diri saya. Tapi, saya sering frustasi setelah merasakan perasaan-perasaan aneh itu. Saya katakan pada diri sendiri; selemah itukah saya? Sepenakut itukah saya?

Apa yang sedang saya gelisahklan?

Saya sedang gelisah pada segala hal yang ingin saya lakukan. Saya sedang gelisah karena saya menyadari selama ini terlalu banyak merencanakan tanpa melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Saya menggelisahkan diri saya yang tidak tahu banyak tentang peraih-peraih nobel sastra dunia, dan karya-karya mereka yang fenomenal. Saya menggelisahkan ide-ide yang meulap ke atas awan tanpa ada dokumentasi dari diri saya sendiri untuk membuatnya, setidaknya lebih kekal dalam benak saya. Saya menggelisahkan hari-hari yang kosong, yang saya sia-siakan tanpa membaca banyak selama menjadi mahasiswa. Saya menggelisahkan diri saya yang tidak memulai menulis banyak sejak tahun 2008 atau 2009 saat saya masih memiliki efektivitas tinggi mempelajari sastra.

Tapi sebelum menuliskan catatan ini, saya ingat bahwa saya masih muda. Dan kegelisahan itu, adalah wajar adanya.

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Saya kini punya obat bagi kegelisahan saya sendiri. Setiap merasa gelisah, saya selalu yakin kegelisahan ini datang karena kesadaran-kesadaran tentang hal-hal yang tidak kita lakukan di masa lalu. Dan karena kesadaran itu, saya bergelisah untuk mengerjakan apapun yang belum saya kerjakan itu.

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Saya sedang gelisah untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan. Saya sedang gelisah untuk melakukan yang jauh lebih baik lagi. Saya sedang gelisah untuk bergerak membaca apapun, menuliskan apapun.

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Saya juga sering mengobati diri dengan cara lain, mengingat saya terhitung jarang membuka kitab suci semasa semester-semester akhir. Lalu dengan bodohnya, saya baru mengingat kitab suci saat sedang gelisah. Tapi tak apalah, lumayan saya masih ingat. Saya berdoa sehabis shalat, lalu saya mohon petunjuk pada Allah sambil memegang Al-Qur'an. Saya membuka Al-Qur'an dengan acak, lalu membaca ayat yang saya buka itu. Apapun isinya, saya menganggapnya sebagai petunjuk.

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Saya lalu bergelisah untuk lebih banyak membaca kitab suci, dan saya bergelisah karena ingin menjadi hamba kesayangan Tuhan.

Ada hal sederhana yang saya dapatkan saat di asrama dulu. Berusaha yang terbaik, berdoa yang kuat dan tawakkal sepasrah mungkinm kepada Allah. Dan saat saya mulai meresapinya lagi di masa ini, betapa dalam makna ketiga kegiatan itu.

Berusaha yang terbaik..
Berdoa yang kuat..
Tawakkal sepasrah mungkin kepada Allah..

Apa yang sedang kamu gelisahkan?

Selamat tahun baru 2014!
Mari kita berhenti merencanakan, dan mulai melakukan! Mari percaya, bahwa itulah obat dari kegelisahan!


Salam  Cinta,
Nadia Adibie

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.