Thursday, October 23, 2014

Nostalgia Rasa


Sudah lama aku tidak menuliskan apapun di halaman blog ini. Terima kasih buat kalian yang masih mau membuka, membaca, mengomentari atau hanya sekedar menjenguk beberapa tulisanku.

Kini sebuah kisah baru tengah dimulai. Tidak baru, sebenarnya. Sudah berjalan beberapa bulan. 

Tuesday, May 27, 2014

Kerja Sederhana


Saya sedang mempercayai bahwa kerja cepat dan buruk lebih baik dari pada bekerja bagus tapi lambat.

Apa pekerjaan kita? Sesederhana apa cara kita melakukannya? Secepat apa kita mendapatkan jumlah yang banyak, tapi buruk?

Saturday, February 8, 2014

Gadis Pantai dan Cintanya Pramoedya

Kembali pada resolusi saya, one book one post. Saya mengaku mengalami fase tertentu yang membuat saya tidak bisa menuliskan ulasan-ulasan buku yang saya baca, langsung setelah saya membacanya. Dalam pembacaan dua buku terakhir --Gadis Pantai dan Sang Alkemis, tepat setelah menyelesaikajn halaman terakhir, saya mengalami fase blank dan tidak bisa mengomentari apapun yang ada dalam kedua novel tersebut. Saya tidak tahu, apakah ini wajar atau saya yang malas menulis. Tapi apapun itu, saya akan tetap menjalaninya. Saya akan tetap menjalankan rencana saya. Karena bagaimanapun, saya merasakan hal yang lain semenjak merencanakan membaca buku dan menuliskan ulasannya, yang membuat saya selalu terpaut pada fiksi. Semakin saya banyak membaca mereka, semakin dalam pemahaman saya tentang apa dan bagaimana fiksi kita.

Friday, February 7, 2014

[CERPEN] Cerita yang Tersimpan Antara Hujan dan Waktu



Ilustrasi gambar diambil dari sini
“Aku tak mau turun dulu. Aku akan menunggu sampai mereka baik-baik saja,” ucap Hujan merendahkan suaranya.

Waktu tersenyum. Hujan masih murung. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 “Turunlah. Dengan lembut..” kata Waktu.

Saturday, January 25, 2014

[Cerpen] Roman Picisan Seorang Laki-laki

Ilustrasi Karya: Cahya Maulana (@maulanacahya)
Aku masih ingat dengan malam itu. Kini baru aku tahu, bahwa malam itu seperti malam yang mengambil semua harapanku tentang perempuan itu. Harapan yang bahkan tidak kuketahui sebagai harapan. Karena setelah malam itu, aku terbiasa memiliki hidup yang biasa saja. Berjalan sesuai apa yang ada di hadapanku, tanpa ingin berharap yang lebih. Berharap yang lain. 

Monday, January 20, 2014

Tidak Sekedar Cinta di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Takdir, barangkali serupa kereta yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dikendarai oleh masinis dan ditentukan oleh waktu. Kita menaikinya karena membeli sebuah tiket dan telah mempersiapkan diri, ke manapun tujuan kita, saat kita sudah berada dalam kereta maka nasib kita ditentuka oleh masinis, waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Terlebih saat kita menjadi seorang penumpang dalam sebuah pesawat, pun tiket sudah terbeli, nasib kita benar-benar ditentukan sang pilot, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara keduanya.

Tapi takdir sedikit berbeda bagi seorang Zainuddin, tokoh utama dalam karya besar Hamka; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Tuesday, January 7, 2014

Opera

Malam ini saya terbangun karena sakit perut, lalu tak bisa tidur lagi. Sampai tulisan ini diunggah, perut saya masih tidak enak dirasa. Tadi, sebelum saya memutuskan menyalakan komputer ini, saya kepikiran tentang acara-acara hiburan di televisi kita. kebanyakan dari mereka adalah acara ringan di atas panggung dengan konsep yang sangat menghibur. Kabarnya, rating acara-acara semacam itu meraih angka yang fantastis. Barangkali memang kita sudah terlalu penat dengan berita korupsi, kecelakaan, pembunuhan, terorisme yang tidak jelas, dan lain-lain itu, ya?

Tentu saja saya bukan Farhat Abbas yang akan mengutarakan pendapat bahwa acara-acara hiburan tersebut tidak mendidik --itulah kesimpulan saya tentang pendapat Farhat Abbas.

Di tengah lampu kamar yang sudah gelap, saya bertanya dalam hati. Apa tawa dan canda mereka di layar kaca itu asli, atau lebih tepatnya; selalu asli?

Thursday, January 2, 2014

Biasa tapi Luar Biasa-nya Dengarlah Nyanyian Angin karya Haruki Murakami


Saya baru saja memulai resolusi saya sendiri, yaitu one book one post on blog. Saya sendiri memulai resolusi ini dengan perasaan gelisah karena merasa tidak membaca apa-apa selama ini. Bagaimana mungkin kita bisa menulis tanpa membaca? Bagaimana mungkin kita bekerja tanpa makan?

Tapi saya cukupkan kegelisahan itu. Sebagaimana tulisan saya sebelum ini yang bertemakan kegelisahan, saya memutuskan untuk "stop palnning and start doing" sebagai obat kegelisahan.

Hanya ada yang sedikit aneh pagi ini. Semakin membaca saya semakin gelisah. Kenapa ya?

Oke, cukup curhatnya.

Saya ingin mengulas sebuah novel dari Haruki Murakami berjudul Dengarlah Nyanyian Angin. 

Wednesday, January 1, 2014

Apa yang Sedang Kamu Gelisahkan?


Dari sekian banyak yang saya baca, dengarkan, dan bahkan saya alami, saya berkesimpulan bahwa kegelisahan bukanlah sesuatu yang aneh. Tentu saja terutama bagi kita yang masih berusia muda (walaupun saya sedang gelisah pada usia saya yang semakin menua). Tapi memang benar, kita ini masih muda. Bagi yang senasib dengan saya; setidaknya kita belum menikah, belum punya anak, sudah lulus kuliah, dan bebas memilih jalan apa yang harus kita tempuh. Ya, mungkin kata "bebas memilih jalan yang harus ditempuh" itu bagi sebagian besar orang hanyalah kata lain dari pengangguran.