Tuesday, November 5, 2013

Cokelat



Sejak SMP, aku suka menyiapkan cokelat di tas sekolahku. Terutama saat menjelang tanggal 14 Februari tiba. Tapi pertanyaanku selalu sama. Pada siapa cokelat ini harus kuberikan?

Hari-hari berlalu. Aku semakin tidak tahu. Sering ku bagi coklat ini untuk seorang, dua orang atau enam orang teman sekaligus. Setelah habis, aku selalu ingin membelinya lagi. Berbagai macam merek. Berbagai macam rasa.

Saat SMA, cokelat itu pernah melindungiku dari rasa sakit yang menyerang saat terjatuh di halaman sekolah. Saat itu dengkul kananku sobek karena tersangkut besi runcing perkakas bangunan; sekolahku sedang direnovasi. Kala itu aku kesakitan melihat kulit dengkulku yang robek. Sesaat kemudian aku dibopong oleh teman-teman dan guruku untuk dibawa ke Rumah Sakit. Rasa sakit itu sungguh berhenti saat aku menikmati sebuah cokelat kecil murahan yang kucomot dari tas sekolahku dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.

Kakiku dijahit. Tapi rasanya jadi tidak sakit. Rasanya manis.

Sejak itu, kebiasaan memakan cokelat di kala sakit menjadi kebiasaan baruku. Aku menyediakan cokelat di dalam tas sebagaimana pengidap mag menyimpan obat mag mereka. Sebagaimana perempuan yang hobi berdandan senantiasa menyimpan cermin kecil di tasnya. Sebagaimana unta menyimpan cadangan air dalam tubuhnya.

Batuk, pilek, tipus, gatal-gatal, sakit kepala, sakit perut, dan segala macam sakitku selesai dengan cokelat. Jenis apa pun. Merek apapun. Rasa apa pun.

Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai pelit membagi cokelatku pada siapapun. Aku merasa cokelat adalah aku dan aku adalah cokelat. Kami berdua adalah makhluk Tuhan yang tak terpisahkan. Aku mulai cemburu saat ada orang lain yang menyukai cokelat menikmati cokelat di hadapanku. Aku mulai tida suka melihat anak kecil membeli sebuah cokelat murahan di festival hiburan, lalu mereka begitu girang saat menukmatinya.  Aku mulai benci pada mereka yang menjual cokelat dan tidak menawarkannya padaku.

Aku mulai tergila-gila pada cokelat. Aku menyimpan mereka dalam jumlah banyak di kamar tidurku, aku menjaga mereka dalam suhu kamar yang pas agar tidak terlalu keras atau meleleh. Aku bahkan tidur bersama mereka. Aku selalu menikmati mereka di saat-saat sedih, sehingga sedihku hilang. Aku selalu menikmati mereka di kala senang, sehingga aku semakin berbahagia. Dan tetrkadang, aku bicara pada mereka.

Kerinduanku pada ‘si penerima cokelat’ telah beralih pada cokelat itu sendiri. Entahlah.


*Malang, 5 November 2013
*Gambar diambil dari sini 

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.