Tuesday, September 10, 2013

Permen

 
Awalnya dia bukan siapa-siapa bagiku. Dia hanya teman biasa. Orang biasa yang suka bercanda. Bahkan aku memasukkan namanya dalam daftar orang teraneh yang pernah kutemui. Sampai akhirnya hari ulang-tahunku tiba. Sebagai teman yang baik, dia memberi kado teraneh yang pernah aku dapatkan.

"Selamat ulang tahun!", katanya. Sambil menjulurkan sebuah kado berbentuk permen. Seperti kado anak TK, pikirku.

Tapi aku tidak seberapa merespon. Waktu melambat dalam pikiranku. Mengtingat kejadian-kejadian lucu yang pernah aku lewati bersamanya. Barangkali Tuhan sedang mengajariku hal yang selalu aku remehkan; keceriaan, kebahagiaan, perasaan yang ringan atau bahkan tertawa di tengah kesedihan.

Ya, dia orang yang ceria. Dia tidak pernah sedih, sepertinya. Namanya Putra. Saat kutanya mengapa orang tuanya memberinya nama itu, dia bilang tidak tahu. Menurutnya, hidup seperti kebetulan-kebetulan. Termasuk saat Putra menyatakan perasaan sukanya padaku.

Sekali lagi, aku tidak menggubris ungkapan sukanya. Dia tidak seperti lelaki lain yang begitu sedih saat ditolak atau cenderung bermusuhan saat diabaikan. Dia semakin baik padaku. Dengan polosnya dia berkata, "Tidak penting buatku memiliki, menikahi atau menyeriusi pertemanan kita menjadi pacar. Yang terpenting hari ini adalah aku tau aku menyukaimu, dan aku bahagia. Udah! Gitu aja.. hehehe.."

Saat itu pula aku menganggap Ia tidak serius untuk membawa hubungan kami menjadi pacar. Bagiku, cinta harus memiliki. Aku tidak mau menerima cintanya, karena dia buakn tipe lelaki pejuang yang mengejar cintaku. Aku mau laki-laki yang serius. Titik.

Dan ternyata aku salah!

Aku mengingat bagaimana Ia bersedih seperti anak kecil pada sebuah malam saat aku bialng tidak menyukainya. Esok paginya Ia membawa setangkai mawar putih padaku dan bilang, "Berteman sama kamu udah bikin aku seneng, kok. Jadi kamu ga usah pikirin yang semalem ya. Let it flow..", katanya sambil tersenyum. Aku merasa bahagia pagi itu. Akhirnya, ada orang tulus yang menyayangiku..

Tapi ketulusan itu seperti energi yang mendorongku untuk mencintainya pelan-pelan. Aku tidak tau pasti, kapan aku merasakan degupan cepat yang biasa kurasakan saat jatuh cinta pada lelaki cinta monyetku. Kapan aku memiliki alasan untuk jatuh cinta padanya sebagai tipe lelaki yang aku sukai?

Aku selalu membuang pikiran untuk berhubungan lebih jauh dengannya. Aku selalu nyatakan pada diriku sendiri, bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk memilih. Dan Putra bukanlah lelaki yang tepat untukku.

 Dan ternyata aku salah!

Malam itu, aku sengaja meluangkan waktu khusus untuknya. Untuk kami bertemu dalam makan malam berdua. Aku datang terlambat, dan dia lebih tepat waktu. Ya. Dia selalu datang lebih dulu dariku.

"Maaf telat lagi.. hehe..", ucapku.

"Gak papa. Aku suka nungguin kamu..", katanya.

Setelahnya aku kikuk. Ini ulang tahunku, dan aku mengundur semua acara traktiran dengan teman-teman kampus untuk menemuinya malam itu.

***

"Selamat ulang tahun!", katanya. Sambil menjulurkan sebuah kado berbentuk permen. Seperti kado anak TK, pikirku.

***

Hari ini. Tiga setengah tahun setelah Ia memberikan kado berbentuk permen untukku. Aku tidak bisa melepaskan bayangan kebaikannya yang luar biasa hebat. Ia adalah lelaki paling tulus yang pernah kutemui. Orang yang selalu ramah dan berbahagia pada siapapun. Yang selalu marah atas siap-sikap bodoh yang aku lakukan. Kado itu benar-benar merefleksikan 'anak TK', yang periang, fokus pada yang dimainkannya, serius dalam berteman, santai dan agak nakal.

Aku khawatir, Ia tidak lagi bahagia jika terus mengenalku. Dia periang, tapi aku bisa jadi penyebab utama kemurungannya. Dia pembahagia, tapi aku bisa jadi penyebab utama kemarahannya.

Tapio aku tahu satu hal. Bahwa aku berhak bahagia. Dengan segala ketidaksempurnaan hidup yang kita jalani. Impian yang belum tercapai, hari-hari yang masih kosong dengan lamunan atau deadline-deadline yang berkejaran. Darinya aku tahu satu hal, bahwa aku berhak bahagia. Bahkan saat semua hal seolah tak berpihak pada keinginan-keinginan kita.

Darinyalah aku tahu, bahagia itu mudah. Dan penting.

***

Aku mencintainya.
Aku menginginkannya.
Dan aku selalu merindukan senyumannya.
Tapi terkadang, aku tidak bisa melakukan apapun selain berdoa.
Sekedar untuk melihat senyumannya.

Maafkan aku, Putra.
Kau benar, aku berhak bahagia.
Tidak seperti ini.
Murung.
Takut.
Dan karena itu, kau marah lagi padaku.

***

Kado berbentuk permen itu benar-benar berisi permen. Di setiap permen tertempel kata-kata cinta, penyemangat dan kritik untukku. Semua kata-katanya sederhana. Ada satu tulisam yang paling aku ingat:
Kamu harus terus bahagia. Sebesar apapun masalahnya, hadapi dengan bahagia.

Terimakasih, untuk permennya! Jangan marah lagi, ya!





1 comment:

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.