Sunday, June 9, 2013

Gie


Gie, kau masih ada dalam lembaran-lembaran diary usangku. Kau lucu, sangat mudah kikuk dan pemalu. Pernah, dalam rapat itu teman-teman bilang kita serasi menjadi sepasang kekasih. Tapi kau malah diam, dan wajah putihmu memerah.

Gie, dulu yang aku tahu tentangmu adalah segala hal yang aku inginkan. Kesantunanmu, senyum sopanmu padaku, dan caramu bicara. Kau bicara dengan kata-kata yang terkadang tidak orang mengerti. Tapi itu cara bicara yang begitu indah untukku. Dalam sebuah sms, bahkan kau mengatakan terimakasih karena aku telah membawakan kue untuk teman-teman kita. Ah, kau adalah lelaki terlembut yang pernah kutemui.

Gie, namamu mirip dengan tokoh film terkenal yang dibintangi Nicolas Saputra. Soe Hok Gie. Dialah lelaki pemberontak yang hebat. Tapi kau bukan dia. Kau berbeda. Dia pandai berkata indah dan membuat puisi, dan kau sama sekali tidak. Kau sering bilang, akulah si pembuat puisi. Tapi tidak kau lanjutkan perkataanmu. Hanya saja bagiku: akulah si pembuat puisi untukmu.

Gie, kau aneh. Sungguh aneh. Dalam sebuah perjalanan di acara pernikahan temanku, aku melihatmu pada kali pertama. Kau tampak lugu, dengan sepatu pantofel hitam dan baju batik yang murahan. Aku tahu kau bukan orang eksentrik: kau pemalu. Potongan rambutmu sangat sederhana. Padahal menurutku, rambutmu berpotensi dibuat seperti rambutnya Ariel Noah masa kini.

Gie, tahukah kau? Pada acara pernikahan temanku itu, aku masih di dalam mobil. Aku menyetir mobilku. Mobil hadiah ulang tahun dari ayahku. Saat itu aku sedang mencari tempat parkir. Suasana ramai. Banyak mobil yang harus mengantre untuk mendapat jatah parkir. Mobilku masih belum bisa bergerak. Dan kau menyebrang.

Gie, tahukah kau saat itu aku bingung dengan apa yang aku rasakan. Aku juga bingung dengan apa yang kau lakukan. Kita belum saling kenal, Gie. Tapi kenapa waktu itu kau menatapku, dan aku menatapmu? Bertatapan seolah kita telah saling mencintai dalam waktu yang lama. Saling memandang seperti kita sudah saling kenal dan begitu dekat.

Gie, aku bingung. Tapi aku menikmatinya. Sesaat kemudian kau tundukkan wajahmu; kau salah tingkah! Oh, Tuhan! Tidak dapat dipercaya kenapa kau bisa menatapku seperti itu. Sesat kemudian akupun tak bisa menahan degupan jantung yang begitu cepat. Aku memjamkan mata erat-erat. Dan aku perlu menarik napas sejenak untuk mengembalikan konsntrasiku.

Begitulah kau, Gie.
Kau selalu tahu kapan aku membutuhkanmu. Kau sering menuruti aku yang cerewet. Kita menelusur seluruh tempat indah di kota ini, sesuai permintaanku. Kita sering bermain scrable, atas permintaanku. Kita sering makan makanan fastfood, atas permintaanku. Kita pergi sampai malam datang. Bertemu saat pagi belum tersengat panas matahari yang meninggi. Kau diam saja, Gie. Kau selalu diam saja. Dan aku, membuat puisi untukmu setiap hari. Menuliskan cerita tentangmu dalam sebuah novel, cerpen, bahkan drama kampus.

Gie, terkadang aku iri pada perempuan lain yang diberi puisi oleh lelakinya. Mereka begitu bahagia dengan kata-kata indah yang diciptakan kaum adam. Tapi kau justru terus tersenyum dengan kata-kataku yang serba blak-blakan. Wajahmu tetap memerah. Kau tetap pemalu. Kau tetap hanya menatapku. Kau tetap diam, dan menurutiku. Kemudian menurutiku. Dan menurutiku lagi.

***

Gie, ini tentang perasaanku malam ini. Berkecamuk. Aku merindukanmu, tapi terlampau malu mengatakannya. Tanpa kata-kata rindu darimu terlebih dulu. Aku tersenyum padamu, saat wajahmu datar dan membuatku bingung. Tanpa senyuman darimu terlebih dulu. Aku tertawa sendiri atas kisah lucu yang kuceritakan sendiri pula untukmu. Tanpa tawa darimu terlebih dulu. Aku bingung, tapi aku tak mau orang lain selain dirimu.

Gie, suatu hari kau mengatakan sesuatu. Hal yang sudah kuduga sejak lama, sesungguhnya. Kau bilang kau tak sanggup terus denganku. Karena terlalu 'berkuasa'-nya aku dalam hubungan ini. Kau bilang ada perempuan lain yang lebih biasa dari aku. Kau bilang ada perempuan lain yang impiannya tidak sebesar aku, hingga tak harus membebanimu. Ah, ya! Keberadaanku memang membebanimu sepertinya!

Tapi aku tidak mudah nmelepaskanmu semudah itu, Gie. Kau harus tahu itu. Kau tidak bisa melakukannya padaku. Hanya tatapanmu yang membuatku terhenti. Hanya senyummu yang mengundang deguban hebat dalam dadaku. Hanya dirimu yang aku mau, Gie. Walaupun tak jelas, apa yang sebenarnya aku inginkan darimu!

Gie-ku, yang pemalu. Terimakasih telah mengatakan, "Kau tak sendiri. Ada Aku!" dalam sebuah pesan singkat.
Aku tak membalasnya. Aku tahu kau hanya melakukannya untuk menghiburku. Walaupun harapanku kau benar-benar akan melakukannya.
Gie, aku menangis malam ini. Mengingatmu, yang tak sampai kuraih.







No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.