Friday, May 17, 2013

Kereta Api


Sebuah pesan BBM datang, "Bib, aku galau..."  

 Masih dari Dhennis.

"Kenapa?", tanyaku.

"Tertohok sama dokter Sardjito kemaren.."

"Tertohok kenaapa?"

"Ya, dia nantingin aku mau jadi dokter apa besok.."

"Terus jawabanmu?"

"Diem aja X_X"



***

 Aku dan Dhennis memang sering bertemu untuk saling menceritakan masa depan, visi dan impian sejak Aliyah dulu. Aku masih ingat betapa kuatnya Dhennis berjuang dan berdoa untuk masuk jurusan kedokteran.   Tapi dialektika semasa kuliah membuat pikiranku berputar memahami dunia kesehatan beserta antek politik-ekonominya. Dhennis-pun terus berdialog denganku. Kami sepakat terhadap ketimpangan sana-sini yang terjadi di dunia tempat Dhennis akan bergelut.

Aku memahami perasaan Dhennis hari ini. Dia pasti galau. Dia belum menentukan akan menjadi dokter apa di masa depan bukan karena tak punya visi. Tapi justru karena Ia menginginkan "sesuatu" yang belum dia temukan, bahkan mungkin belum ada. Secara sistem, dunia kesehatan seolah memaksa para dokter untuk melakukan kejahatan dengan serempak. Aku tau Dhennis akan tetap gelisah sampai menemukan tempat yang tepat untuk melakukan yang "lebih benar". Sering dalam percakapan kami, aku dan dia sepakat untuk ikhlas pada apa yang terjadi, dan lakukan semuanya sebaik mungkin. Terus berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk melakukan apapun dengan hati nurani. Hati bersih yang selalu ada dalam pelukan Allah..

Pada sebuah pagi, di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, Dhennis mengirimku BBM tentang kegalauannya. Masih tentang "kedokteran"-nya. Siangnya keluarga kami heboh karena biaya opname adikku, Dawai (yang baru saja selesai operasi usus buntu), naik sekitar 4 juta per hari. Aku bolak-balik mengonfirmasi, ternyata paling mahal biaya untuk membeli obat. 1 kali suntik harganya sekitar 1,3 juta. Dan saat aku tanya pada Dhennis, dia bilang sebenarnya "obat mahal" itu mubadzir jika diberikan ke adikku yang masih muda. Ada jalan: meminta mengganti obat paten menjadi obat generik yang harganya hanya ratusan ribu. Semua berjalan cepat. Intinya kami tertipu, dengan kesholehan yang seolah nyata dibalut jilbab dan jenggot para dokter dan perawat-perawatnya.. Ah, soal jilbab dan jenggot lagi.

Aku langsung mengirim pesan BBM lagi ke Dhennis.
"Keluarga kami masih sanggup membayarnya, tapi kenapa harus dengan sengaja memberi obat yang sangat mahal? Tanpa konfirmasi pula.."

"Asumsinya, kamar VIP kalian kan mahal.. Jadi dikasih obat yang mahal karena kalian bisa bayarnya..", Dhennis menjelaskan.

"Terus karena kami bisa bayar, sekalian dirampok gituu?", aku membalas. Protes.

Pembahasan terus berlangsung. Beberapa saat.

"Makasih ya bib, udah ngasih aku PR besar..", Dhennis mengakhiri percakapan kami.
Aku membalasnya dengan emotikon Hug (ekspresi memeluk).

***

Padahal baru tadi pagi kami saling menguatkan tentang hal yang membuat kami galau akhir-akhir ini. kedokteran. Dunia wirausaha yang serba tidak pasti. Perjuangan yang masih panjang. Masa depan yang masih butuh kekuatan hati dan ketabahan. Impian-impian yang bertebaran --dan sedang disusun ulang. Dan segala hal yang menuntut keikhlasan. Menuntut kepasrahan pada tangan Tuhan.


"Kenapa?", tanyaku.
"Tertohok sama dokter Sardjito kemaren.."
"Tertohok kenaapa?"
"Ya, dia nantingin aku mau jadi dokter apa besok.."
"Terus jawabanmu?"
"Diem aja X_X"

Aku tersenyum di balkon Rumah Sakit. Di dalam mama sedang sibuk menyiapkan dawai yang sedang mandi. Pagi yang indah dengan view merapi dan langit yang luar biasa. Aku membalas BBM Dhennis dengan penuh cinta.

"Gapapa bibeh.. Lebih baik salah dalam kebenaran daripada benar dalam kesalahan. Seperti berjalan di dalam kereta..", ketikku.

"Berjalan di dalam kereta?", balasnya.

"Iya.. Yang terpenting keretamu punya tujuan yang benar. Walaupun kamu hampir terlempar dari kereta, tersesat, bingung, terjatuh, itu ga masalah. Pengalaman akan membawamu menuju tempat ternyaman di dalam kereta yang bertujuan benar.." ketikku.

"({}) --emotikon Hug", balasnya.

"Itu lebih baik bib, dari pada kamu sekarang jelas mau jadi dokter apa, tapi jelas-jelas juga kamu dalam sistem kereta yang salah tujuan..", aku melanjutkan.

"Tenanglah, kita punya Tuhan yang akan menunjukkan jalan sampai kita menemukan gerbong eksekutif dengan pelayaanan terbaik, sangat nyaman, dan penuh keyakinan bahwa kita berada di rel yang benar.."

Hening beberapa saat.

Dhennis membalas lagi.
"Terkadang aku butuh nasehat sederhana yang menguatkan.. :)"

Aku tersenyum. Karena sebenarnya akupun sedang sangat membutuhkan nasehat itu. Terimakasih Allah, untuk segala yang terbaik pagi itu. Untuk Dawai yang cepat sembuh, Hanna yang cerewet, Dila yang baik hati, dan Dida yang gokil!

***

Keretaku terus melaju. Mencari jalan yang aku yakini benar. Dan di dalam kereta, aku tersenyum sendiri. Mencari tempat ternyaman, sambil bilang: makasiiih Allah!! :)







No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.