Sunday, April 28, 2013

Belajar



Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Aku sudah berhenti latihan. Lebih memilih menarik napas dalam-dalam, berdoa lalu bersholawat. Ambil napas lagi, berdoa lalu bersholawat. Sudah waktunya.
Prof. Suminto A. Sayuti masuk ke dalam ruang sidang. Sendirian.
“Ini saya penguji utama malah datang duluan”, beliau protes.
“Saya sudah di sini sejak satu jam, pak”, aku sedikit lugas. Sambil merasakan ketegangan yang cukup hebat.
“Ya saya gak mau tau! Kamu sudah mengingatkan penguji yang lain?”
“Belum pak..”
“Na, itu dia! Kamu juga gak mengingatkan saya tadi pagi!”
“Ohya, maaf pak..”
“Maaf! Maaf!”, beliau agak marah. Tapi jujur dalam hati aku lebih tenang setelah dimarahi olehnya. Setidaknya, pembicaraan ini sudah dimulai. Dan aku bisa sedikit meraba bagaimana kelanjutannya.

***

Ujian pendadaran itu berlalu begitu saja. Singkat. Hanya sekitar 55 menit dari waktu 1,5 jam yang ditentukan. Keputusan mereka untuk meluluskanklu juga tidak memakan waktu lama. Bahkan mungkin tidak berdebat.

Tapi ada angin yang dingin berhembus dalam hatiku. Menyejukkan. Aku bilang pada diriku sendiri: ah, kau tetap hebat untukku dan telah melakukan yang terbaik. Siapapun bisa melihat itu, kau telah melakukan yang terbaik.

Aku membuka halaman persembahan dalam skripsiku. Di ruang sidang, sendirian setelah semua selesai. Untuk mama dan ayah, tulisku. Tiba-tiba perasaan bersalah dan takut menjadi temanku detik itu. Menemaniku. Hanya bertiga saja: aku, rasa bersalah dan rasa takut. Aku bersalah karena terlambat, karena tidak menjadi anak yang terbaik bagi mereka, karena tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan. Takut, aku takut tidak bisa menginjak bumi yang aku impikan. Aku takut berjalan pada setapak yang bukan wilayahku. Aku takut tersesat.

***

Pada akhirnya kita akan tahu, siapa diri kita sebenarnya dan untuk apa pula kita diberikanNya hidup di dunia  ini. Persoalannya hanya ada pada waktu yang menjadi pilihan kita: kapankah fase penerimaan atas kedirian kita itu ingin kita  jalani?

Percepatlah, secepat keinginan kita untuk maju, masuk dalam shaf shalat –sebelum terlambat.

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.