Saturday, October 6, 2012

Perjuangan Tak Terhentikan

 Pernah suatu hari aku kelelahan melalui lorong-lorong kecil-gelap kota Jogja. Saat sekolah dulu. Berlari kecil mengejar waktu adzan maghrib, supaya tidak dapat poin pelanggaran. Sebuah perjuangan kecil, melakukan perubahan kecil, tapi dengan totalitas besar. Tidak ada yang tahu dan kuceritai saat itu; setiap pulang seorang diri, aku sering ditemani seorang teman khayalan. Dia bilang, ini langkah kecil untuk perubahan besar!
***

Aku masih belum bisa merumuskan keadaan ini. Kita seperti ada di tengah waktu yang tidak kita kenali. Mungkin karena kita terkotak-kotakkan oleh sejarah yang sering menggunakan kata “periodesasi”. Dan lalu, sekarang kita ada di periode apa?

Hehh! Tak perlu banyak berpikir sekarang kau ada di waktu yang mana!”, kata teman khayalanku.

“Lalu?”, tanyaku.

“Lihat gedung KPK malam tadi! Lihat betapa banyak orang yang terus berjuang! Lihat bayi-bayi yang tersenyum menyambut matahari pagi ini! Hatinya tenang; banyak yang memikirkan tanah tempatnya akan besar..”

Dan kemudian hening.
***


Aku masih ingat guru-guru sejarah kita dulu sering memberi tahu bagaimana para founding fathers berkejaran siang-malam dengan cita-cita kemerdekaan. Aku masih bisa membayangkan bagaimana Bung Tomo menolak penjajah habis-habisan. Masih bisa membayangkan betapa terkagum-kagumnya nenekku dengan sosok Soekarno yang berteriak, Merdeka! Aku masih ingat bagaimana mahasiswa berseliweran sekali dua kali di layar kaca, lalu menjelma menjadi jasad tak bernyawa setelahnya. Aku masih ingat pemberitaan sosok Munir yang mati di atas pesawat garuda.

Masih mendebum dalam dada saat ingat seorang pelajar tewas dalam sebuah tawuran, dan pelajar masih terus disalahkan karena itu! Bukan gurunya! Bukan menterinya! Bukan sekolahnya! Yang setiap hari tidak menganggap apa yang mereka punya, dan terus memaksakan apa yang mereka tak suka, walaupun bisa..

Tiba-tiba langit biru di atas kepalaku menggerakkan awannya dengan cepat. Angin berhembus kencang, membawaku pada masa-masa silam. Saat lorong-lorong kecil dan tikus got jadi teman mengejar waktu maghrib setiap petang. Saat hati berdegup karena baru saja rapat, dan ada cinta pertamaku di sana!

***


Ternyata perjuangan ini tak terhentikan. Kita tidak perlu mengusahakan apa-apa yang berlebihan, bahkan seideal apa yang ada di kepala kita. Ternyata seleksi Tuhan terus bekerja dalam hati setiap orang. Dan kita tak perlu bersusah payah merencanakan –cukup terus berjuang dan bergerak. cukup mengikuti nurani untuk berpihak. Cukup membicarakannya dengan sekeompok kecil pertemanan kita masing-masing. Dan melakukan apapun yang bisa, apapun yang kita suka, apapun; yang berupa seleksi Tuhan dalam hati kita masing-masing.

Jokowi sudah menang, padahal tak didukung partai-partai besar. Partai bukan lagi tolak ukur sebuah kemenangan sosial.
Antasari memang berhasil dijebloskan. Tapi Novel dan KPK hari ini terus mendapat dukungan keras.
Soekarno memang pernah diasingkan, dari keburukan yang memang terjadi, maupun fitnah-fitnah yang keji. Tapi merindukan pemimpin tegas telah terus menggema dalam telinga hati kita masing-masing.
Tan Malaka yang pernah ditengggelamkan sejarah. Sekarang telah diingat, didengungkan, diteladani, dibela, disyukuri, dan dilanjutkan!
Kekerasan memang pernah terjadi, tapi nafas perdamaian terus menerus tercuat dalam status-status facebook dan siulan twitter.

Blog. TV. Koran. Situs. Facebook. Twitter. Foto. Video. Musik. Konser. Rapat. Jumpa pers. Doa dari pasar. Demonstrasi. Dan semuanya. Apapun itu.
***

Perjuangan ternyata tak terhentikan. Ayo! Bergabunglah dengan kesederhanaan hati dan kesukaan kita masing-masing!
Perjuangan teryata tak terhentikan. Kuburkan rasa iri, dengki pada teman!
Perjuangan ternyata tak terhentikan. Masuklah dalam barisan! Hiruplah bau kemenangan!
Perjuangan tak pernah terkalahkan. Karena seleksi Tuhan terus ada dalam hati setiap orang.


***

yang terdiam dari suara
sabar jiwaku, sabar seluruh bangsaku
aaah perih tangismu, perih jiwamu
tersisihkan oleh kawanan hitam
semua telah lelah menanti
[pidato Ir. Soekarno]
bersuara untuk mereka, raja negeriku
kau telah lama terdiam
perubahan jerit hatiku, cermin jiwamu
berikan terang untuk masa depan wooo
[pidato Ir. Soekarno]
berpegangan semua saudara
tegar berdiri dalam mimpi yang satu
perubahan untuk tanahmu, tanah airmu
untuk negeri dan mimpi bangsamu

NOAH ~ Raja Negeriku


 
 Saya.
(Yogyakarta, Oktober 2012)    






No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.