Monday, October 22, 2012

Berkarya Lewat Passion (2)

Ada sebuah cerita lain yang dikenang Alif kepada saya. Alif, teman saya yang praktek mengajar itu adalah seorang pemuda yang memilih jalan menjadi pengusaha sambil kuliah. Terkadang di tengah ceritanya kepada saya, Ia menyampaikan keluhannya; betapa rumit jalan yang Ia pilih itu. Dan saya belajar banyak; bahwa keteguhan hati kita dalam memilih suatu jalan akan terlihat dari seberapa keras kepala kita memperjuangkanya. 

Alif belum lama memilih jalan sebagai pengusaha. Usahanya jatuh-bangun-jatuh-jatuh-bagun. Katanya, jatuhnya lebih banyak dari bangunnya. Hanya saja, semakin dalam jatuhnya, semakin tinggi bangunnya. Seperti ketapel. 


Dia punya impian-impian besar hingga banyak orang yang menganggapnya tidak mungkin, bahkan termasuk juga saya. Tapi, cerita yang Ia bagi kepada saya hari itu membuat saya berubah pikiran dan mulai yakin akan keyakinannya.

Kemarin aku ada acara perpisahan sama anak-anak kelas. Kelas yang aku ajar itu termasuk yang paling nakal. Wuh, susah banget bikin mereka diem kalo kita lagi ngajar”, Alif mulai cerita.
Terus, kamu bikin pesta apa waktu perpisahan sama mereka?”, aku bertanya.
Enggak. Aku lagi gak punya duit. Jadi ngobrol aja sama mereka. Aku ajak mereka melingkar, terus aku ngomong..”

Saya nyaris tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak SMK yang isinya laki-laki semua dan ‘nakal’, bisa diam saat Ia bicara. Memang saya akui, Alif punya kelebihan tersendiri dalam menghadapi anak super-aktif. Selanjutnya Alif mengatakan pada saya bahwa Ia bilang terimakasih telah berdesia diajar selama 2 bulan dan meminta maaf atas kesalahan yang mungkin dibuatnya. Setelah itu..

Adik-adik, kalau ada di antara kalian yang nanti sudah lulus SMK dan mau berwira-usaha, ini nomor saya”, saat itu juga Alif menuliskan nomor teleponnya di papan tulis. “Hubungi saya. Akan saya bantu sebisa saya. Kalian harus berkarya. Terserah apapun itu yang akan membuat hidup kalian berubah. Dan memang harus segera berubah.”

Lebih lanjut saya bertanya apakan semuanya mendengarkan apa yang Ia katakan. Alif menjawab santai, “Sedikit yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tapi ada beberapa yang mendengar dengan serius.

Alif masih melanjutkan, “Setelah pertemuan itu ada yang bilang begini; mas, aku kerjo nggone mase ae yo. Mulih sekolah aku langsung merono mas. Nganti mbengi. Yo mas yo? (Mas, aku kerja di tempatnya masnya ya. Pulang sekolah aku langsung ke sana mas. Sampai malam. Ya mas ya?)

Ada juga yang tanya; mas kuliah penting ndak? Aku jawab, ga terlalu penting tapi perlu dan butuh. Sebisa mungkin harus kuliah. Ya, sebagian besar mereka ga pengen kuliah.”

Aku masih termangu mendengar Alif cerita. Dan kepingan-kepingan pembelajaran lainnya.
***
Dua hari setelah Alif menceritakan peristia yang Ia lalui itu, saya mendapat sms dari Alif. Ia mengatakan bahwa ada dua orang yang datang ke kosnya. Mereka berdua ingin punya bisnis cuci motor. Dan Alif menyuruh mereka untuk survey kecil-kecilan dan sekolah dulu yang rajin. Nanti kalau mau kuliah baru serius pikirkan bisnis.

***
Dan betapa terkejutnya saya. Dengan kejadian terakhir yang Alif ceritakan pada saya. Mereka adalah anak-anak, yang sering saya lihat di jalanan dengan motor berasap tebal, ugal-ugalan dan membahayakan orang lain.

Mereka adalah anak-anak yang nyaris tidak pernah berpakaian rapi, dan selalu mendapatkan muka masam dari guru-gurunya setiap pagi. Mereka adalah remaja penuh dengan gejolak yang banyak galau, lebai, ciyus, atau apapun itu.

Tapi, mereka tetap manusia. Manusia, ya manusia. Punya perasaan. Impian. Rasa ingin tahu. Rasa ingin berkarya. Memberi. Mendapatkan eksistensi. Menjadi manusia seutuhnya.

***
Pertanyakanlah lagi, seandainya seluruh energi mereka dikerahkan untuk berkarya; hebat bukan?



No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.