Friday, October 19, 2012

Berkarya Lewat Passion (1)


 Tulisan ini adalah tulisan pertama saya untuk gerakan Indonesia berkibar. Tulisan yang cukup singkat untuk dilanjutkan lebih banyak lagi. Berbagi gagasan. Berbagi semangat. Masih banyak lilin yang harus kita nyalakan! :)


Sebenarnya, saya ingin sekali menyebutkan letak di mana sebuah sekolah yang ingin saya ceritakan. Tapi, seorang teman yang menginformasikan hal tersebut tidak mengizinkan saya untuk menyebutkannya. Meskipun begitu, saya yakin cerita ini dapat memberikan manfaat buat kita para pejuang Indonesia Berkibar. Dan semoga, selalu memberi inspirasi untuk memajukan pendidikan kita. Amin!

***

Teman saya adalah seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Seperti biasa, mahasiswa semacam dia harus mengikuti sebuah aktivitas yang disebut PPL, atau  yang pada intinya adalah prakter mengajar di sekolah-sekolah. Sebut saja namanya Alif.

Nah, kisah inipun dimulai. Uniknya, teman saya itu seorang mahasiswa yang punya sambilan bisnis. Tapi, dia lebih suka disebut sebagai pengusaha yang punya sambilan kuliah. Karena beberapa hal, dialah satu-satunya peserta praktek laki-laki selain 9 orang teman lainnya yang perempuan semua. Padahal, sekolah tempatnya praktek adalah jenis SMK yang muridnya laki-laki semua.

Saya mulai banyak mengetahui beberapa hal tentang sekolah tersebut saat Alif mulai mengeluhkan begitu sulitnya membaut lembaran-lembaran RPP (Rencana Prakter Pembelajaran), yang sudah pasti familiar di telinga teman-teman mahasiswa kependidikan. Alif cerita bahwa Ia memiliki segudang ide untuk mengajarkan bahasa Inggris dalam berbagai model, namun guru pembimbingnya (yang juga merupakan guru mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah itu) kurang respek terhadap ide-idenya. Awalnya saya sependapat dengan teman saya, namun pada akhirnya saya berpikir lain.

Soal RPP ditunda dulu. Kali ini soal kelompok band yang ada di sekolah tersebut. Menurut cerita Alif, Ia menemukan seorang guru kesenian yang lebih banyak memberikan perhatian pada sekelompok siswa yang memiliki hobi nge-band di sekolah tersebut --setidaknya jika dibandingkan denga guru-guru yang lainnya. Guru tersebut cerita pada Alif, bahwa Ia adalah seorang guru baru di sekolahnya. Awalnya sekelompok anak band ini tidak dipercaya, dihargai, terlebih difasilitasi. Suatu hari, guru kesenian tersebut mendapat informasi bahwa ada lomba nge-band tingkat provinsi. Dan singkatnya, mereka mengikuti lomba tersebut dengan dibantu seorang guru kesenian tadi.

"Mereka menang dapat juara harapan. Seharusnya dari awal kreativitas mereka didukung. Untung ada guru kesenian itu", Alif menjelaskan pada saya.
"Guru kesenian itu termasuk guru baru, dan membawa beberapa hal baru juga di sekolah. Tapi sayang, hal baru sulit diterima di tengah sekolah dalam budaya yang agak tertutup ini", Alif melanjutkan.

***

Lalu saya mengingat sebuah materi pelatihan untuk pelajar yang pernah saya dapat dalam sebuah organisasi. Mereka bilang, Pendidikan Transformatif --yang juga sering kita dengar dalam buku-buku Paulo Freirre. Pendidikan yang punya pengaruh pada kondisi sosial dan perubahan sosial.

Saat Alif bercerita pada saya, saya mengingat sebuah peristiwa yang belum lama. Deni, seorang korban jiwa tawuran pelajar. Banyak pihak yang menuding, ini karena pendidikan karakter yang belum terpenuhi atau guru, lingkungan orang tua yang buruk atau apapun itu.

Tapi saya yakin. Deni, dan teman-temannya, para teman dari teman-temannya, dan temannya lagi, dan temannya lagi; memiliki passion yang sungguh dapat berbuah karya yang begitu besar! Pendidikan transformatif bukan cita-cita lagi. Perilaku yang kita anggap negatif terjamin akan berkurang.

Kita hanya butuh sebuah kesempatan. Yang kita berikan. Untuk mereka, berkarya lewat passion-nya.


(Yogyakarta, Oktober 2012) 

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.