Tuesday, August 14, 2012

Mendoakanmu

Fiction (2)


Putra menyibakkan kakinya ke tanah. Ia berusaha menendang pasir-pasir kecil yang begitu ringan. Napasnya terhenti. Ia menyesal. "Sial!", katanya.

Kekesalan ini terlampau berlebihan jika harus diceritakan. Cerita yang mungkin hanya akan jadi bahan tertawaan. Kenapa?

Karena lagi-lagi suaranya tercekat di depan Dian, perempuan pujaannya. Bagaimana mungkin ini tidak ditertawakan? Ia telah mencoba berbagai cara; nonton, makan, menjemput Dian dalam malam saat kendaraam umum sudah habis, hingga membawakan payung saat Dian tidak membawanya di kala hujan. Dan apa saja!

Tapi suara itu tetap tercekat. Ratusan kali direncanakan. Ratusan kali dicoba. Ratusan kali gagal.

Putra masih berjalan dengan lunglai. Senja menyaksikannya dengan tertawa. Setan-setan berdatangan berebut menghasut, "Putra bodoh! Pengecut! Banci!", dan semua-muanya.

***

"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?", tanya Putra suatu hari.
Tapi Dian hanya diam. Menikmati deguban hangat di hatinya. Bayangan tentang Roy yang terus menghantuinya di suatu masa, tidak bisa dia lupakan. Pertanyaan Putra rasanya jadi tidak penting.

"Mungkin karena aku perempuan..", Dian menjawab asal-asalan. Yang dipikirkannya adalah hal besar. Mengapa Putra hanya menanyakan hal sekecil "pengungkapan"?

"Jadi menurutmu, perempuan tidak boleh mengatakan cinta lebih dulu? Jadi lelaki-lah yang harus memulainya?", Putra menanyakan hal yang bagi Dian semakin tidak penting.

Dian tersenyum. Ia menyibakkan rambutnya yang sepundak. Melirik Putra dengan tatapan lembut. Putra tak kuasa merasakan deguban hebat. Putra hampir pingsan!

"Aduh, Put. Kenapa ga penting banget sih pertanyaanmu. Tau ga? Menurutku ga penting mengungkapkan atau engga. Yang penting buatku saat itu adalah mendoakannya. Dan ternyata dia dipanggil Tuhan secepat itu. Aku nyesel juga sih, ga ngomong. Tapi toh itu yang diinginkan Tuhan. Tuhan pasti mengirimkan bulir cintaku kalau memang aku berjodoh dengannya. Nyatanya engga. Dia ga merasakan hal yang sama. Syukur, kan? Coba kalau aku udah jadian sama dia, atau gimanalah.. terus dia mati secepat itu. Apa aku ga tambah sedih?", Dian menjelaskan dengan lembut, tapi tegas.

"Kamu masih mencintainya, Di?", tanya Putra lagi.

"Aku masih mendoakannya..", Dian menjawab lebih datar.


***

2 tahun berlalu.
Dian baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Adzan sudah menggema. Ia bersiap mengambil air wudlu. Tapi Ia tahu harus mengecek hand phone-nya dulu. Ternyata benar: sebuah sms.

Aku mencintaimu. Lebih dari kemarin.
Karena aku terus mendoakanmu.
Cintailah aku lewat doamu, sayang.
Terimakasih telah sabar menunggu :)

Dian tersenyum. Setiap pagi Putra mengirim kata-kata yang sama. Tapi mendoakan adalah hal terindah yang bisa mereka lakukan saat ini. Untuk saling menguatkan. Dan terus memerjuangkan waktunya agar segera tiba..

***


*Video: Revolvere Project pertama. Bisa dilihat linknya di sini.



3 comments:

  1. wew, lembut banget mba..
    ini cerpen ato ada versi utuhnya? Jadi pengen lanjutannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya damaaai.. ini cerpen pendek banget kali yah? hihi. cuman sepotong cerita untuk mewakili kata "mendoakanmu" Damai.. alhamdulillah kalau mau lanjutannya.. dua tokoh itu sedang muter2 di kepalaku buat dijadikan satu buku :D

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.