Saturday, July 7, 2012

Membaca Pikiran Syekh. Moh. Abduh

Saya pernah ingat bahwa Moh. Abduh adalah salah satu guru dari KHA. Dahlan saat belajar di timur tengah. Darinyalah KHA. Dahlan belajar modernitas dan menyuguhkannya di Indonesia dalam bentuk gerakan-gerakan pencerahan. Beliau yang mengajarkan bahwa ummat Islam membutuhkan pencerahan.

Sebenarnya, pencerahan ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW, dilanjtkan dengan khalifah dan sampai ilmuwan Islam di abad pertengahan. Tapi pencerahan ini kemudian terbaca menyusut, menyusul kemudian tersebarnya sekueritas dalam budaya manusia. Akhirnya, yang mengurus ilmu pengetahuan adalah ilmuwan. Dan yang mengurus agama adalah agamawan. Lalu selesai. Padahal sesungguhnya, yang demikian bukanlah yang dicita-citakan agama, yang tertuang dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan sabda nabi.


***

Saya tidak sengaja menemukan sebuah 'harta karun' yang begitu membuat saya tergopoh-gopoh ingin tahu dan lalu ingin langsung menuliskannya. Buku itu berjudul "Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen". Asli karangan Syekh Moh. Abduh dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Dalam buku ini, Muhammad Abduh menunjukkan bagaimana pergolakan antara ilmu dan agama terjadi dalam agama Masehi. Lalu dilanjutkan dengan pokok-pokok ajaran Islam yang berkaitan tentang ilmu dan peradaban. Asyiknya, beliau juga menuliskan bagaimana kondisi ummat Islam dewasa ini (buku terbit pertama pada tahun 1373 H).

Beliau melakukan kritik terhadap berbagai kalangan yang menyebutkan bahwa Islam menyukai perang, dan terkesan teroris.Tapi beliau juga melakukan kritik terhadap kalangan ummat Islam, yang sedang menjangkit. Moh. Abduh menjelaskan bahwa penyebab sikap statis ini adalah karena sekolompok orang yang memang menginginkan kemunduran ummat Islam. Yang membuat ummat Islam terfokus pada diri sendiri, ketaqwaan pribadi kepada Allah dan mengartikan makna tawakkal sebagai pembiaran kemunduran sosial dalam lingkup masyarakat. Muh. Abduh sampai pada tulisan sebagai berikut;

"Nah, itu dia siasat aniaya, dan siasat yang mementingkan diri sendiri! Itulah yang menyebabkan orang-orang menyukai barang-barang campuran yang tidak diketahui asal-usulnya. Itulah pula yang menyebabkan kaum Muslimin ditinggalkan dari cita-citanya buat menjelajahi lapisan langit, tinggal bergaul dengan makhluk hewan dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan." (Hal. 142, Ilmu dan Peradaban, Muh. Abduh)
 ***

Saya bergetar. Dan terus berusaha memahaminya. Lalu akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa akibat dari "siasat aniaya" itu tadi yang membuat kita, sebagai ummat Muslimin cenderung lebih lemah, cenderung meiliki cita-cita yang lebih rendah, cenderung minder pada peradaban. 

***

Muhammad Abduh juga melanjutkan pemaparannya tentang bahaya dari sikap statis ini untuk bahasa, kesatuan ummat, kerukunan masyarakat, terhadan syari'at, terhadap aqidah, dan terhadap pelajar (anak muda). Namun beliau juga memberikan obat terhadap sikap statis tersebut, salah satunya yaitu kembali pada toleransi dan kebebasan Islam (kutipan teks dari Muh. Abduh mengenai hal ini dapat dilihat di sini). Pada akhir buku ini, beliau juga menuliskan bunga rampai pemikiran pemikir Islam ternama, yaitu Abd'ul Muhammad Bin Ruysd Qadhil Qudhah dan Ibn Ruysd.

***

Saya masih ingin mangajukan berbagai macam pertanyaan yang ingin saya sampaikan kepada Muh. Abduh atau ilmuwan lain yang memelajari pemikiran Muh. Abduh: bagaimana dengan ummat Islam di Indonesia saat ini?

Bismillahitawakkaltu 'alallah..
Laa haulaa wa laa quwwataa illa billah..
Astaghfirullahal'adziim..

Al-ilmu nuurun wa nuurullahi laa yahdii lil ma'aasyi..
Mari belajar! :)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
*Tentang Muhammad Abduh: klik di sini.

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.