Saturday, July 7, 2012

Kutipan Teks dari Muhammad Abduh: Kembali pada Toleransi dan Kebebasan Islam

Tulisan ini hanya kutipan teks dari buku Muh. Abduh yang berjudul, "Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen". Saya ingin menuliskan ulang dan membaginya, karena begitu kagum dengan isi teks ini. Saya merasa, kita perlu meneladani pembaharu Islam di masa silam untuk mengembalikan semangat berilmu dan beradab yang telah mereka lakukan berabad-abad yang lalu.

Mengapa harus tulisan ini? Karena tulisan ini menggambarkan suasana. Penggambaran suasana selalu bisa kita nikmati dengan membayangkannya ada di depan mata kita. Membuat semangat kita lebih bergemuruh. Dan cita-cita kita dapat kembali, untuk menjelajahi seluruh angkasa, seperti yang diajarkan oleh orang-orang dalam tulisan ini.

***

Sekarang saya hendak mengajak para pembaca dan membawa kembali ke zaman silam, kita berhenti sebentar di hadapan para khalifah Bani Umaiyah dan para pemuka Bani Abbas serta wazir-wazir menteri-menteri mereka, yang ketika itu didampingin fuqaha dan ahli-ahli filsafat, imam-imam ajli Hadits dan para mujtahid, sementara para pujangga dan ahli-ahli sejarah, para tabib dan dokter, sarjana-sarjana ilmu pasti dan falak, ilmu bumi dan pengetahuan alam berada di sekelilingnya, masing-masing sibuk menghadapi tugasnya sendiri-sendiri. Setiap seseorang selesai dari pekerjaannya, ia mendatangi teman sejawat dan mengulurkan tangannya, ahli fikih akan bersalaman dengan ahli filsafat, ahli Hadits dengan sarjana ketabiban, mujtahid dengan sarjana ilmu pasti, satu sama lain menganggap temannya segaia penyokong dalam tugas yang sedang dihadapinya.

Demikian pula yang kita dapati bila kita memasuki gedung ilmu atau tempat studi, mereka sedang muzakarah atau berdiskusi. Kita lihat Imam Bukhari pengumpul Hadits itu sedang berada di depan Imran bin Haththan, orang Khawarij dan menerima Hadits darinya, sementara 'Amar bin Ubeid, pemuka Mu'tazilah di muka Hasan al-Bashri, pemimpin ahli sunnah dari golongan Tabi'in dan belajar kepadanya. Dan ketika Hasan ditanya orang tentang muridnya, beliau menjawab; "Orang yang anda tanyakan itu seakan-akan diasuh malaikat dan dididik oleh para Nabi, jika ia mengerjakan sesuatu yang ia kerjakan terus menerus sampai selesai, dan pekerjaan yang dikerjakannya ia laksanakan sebaik mungkin. Bila ia menyuruh atau melarang sesuatu pekerjaan, ialah yang lebih keras mematuhi suruhan atau larangannya itu, lahirnya menyerupai bathinnya sebagaimana bathinnya tiada berbeda dengan lahirnya!"

Ketika melayangkan pandang lebih jauh, kita jumpai Imam Abu Hanifah sedang mempelajari pokok-pokok ilmu tauhid dan fikih dari Imam Zaid bin Ali, pembangunan mazhab Zaidiyah dari golongan Syi'ah, sikap mereka tidak obah bagai dua saudara yang serumah, walau pendapat dan pendirian masing-masing tidak selamanya sama. Demikian kita melewati barisan yang berlainan vak dan bidang tetapi satu tujuannya, yaitu ilmu pengetahuan. Mereka masing-masing menaruh keyakinan sebagaimana dinyatakan oleh sebuah Hadits bahwa "berpikir sesaat lebih utama dari beribadah sealam 60 tahun".

Para Khalifah itu adalah pemuka-pemuka agama dari golongan mujtahid dan menggenggam kekuasaan dan dipatuhi oleh bala tentara, sementara para fuqaha, ahli-ahli Hadits dan filsafat serta imam-imam mujtahid lainnya merupakan pemimpin-pemimpin agama yang termasuk dalam barisan prajurit khalifah. Agama berada dalam kejayaan, dan keimanan dalam puncak kekuasaan, sementara ulama dan para ahli yang kita sebutkan tadi, sama mengecap kesenangan dan kebahagiaan di bawah lindungan mereka, hidup makmur dan menikmati kebebasan berpikir, tiada bedanya antara yang beragama Islam dengan penganut agama-agama lain. Maka di sanalah baru pembaca yang budiman akan dapat berkata sambil menunjuk kepada kaum muslimindan para pendukung agama itu: "Rupanya di sinilah dapat ditemukan toleransi sesungguhnya terhadap ilmu pengetahuan, di sinilah pula agama menunjukkan rasa santun dan kehalusan budi, serta di sinilah diketahui betapa agaman itu dapat cocok dengan peradaban. Para ulama dan cendekiawan telah mencontohkan macam ragam kebebasan berpikir, dan dari merekalah datangnya jiwa perdamaian antara akal dan perasaan, atau sebagaimana kata mereka, antara akal dan hati nuraninya".

Pembaca dapat menyaksikan bahwa sekali-kali tiadalah pertentangan antara ilmu dengan agama, hanya kadang-kadang terdapat perbedaan pendapat di antara ahli-ahli dari kedua golongan tersebut, sebagaimana lumrahnya orang-orang yang mempunyai pikiran bebas, yang tak hendak terkait oleh belenggu dan tiada ditimpa oleh penyakit taklid. Di antara mereka tiadalah ditemui hina-menghina atau caci-mencaci, dan tiadalah terdengar dari mulut salah seorang tuduhan bahwa orang lain itu zindik, kafir, ahli bid'ah atau sebagainya. Pendeknya tiada seorangpun di antara mereka akan dapat berencana, entah kalau ia mengucilkan diri dari lingkungan jama'ah dan merusak ketertiban umum. Maka pada ketika itu tak obahnya ia sebagai satu anggota tubuh yang ditulari penyakit lepra, hingga ia harus dipotong demi menjaga keselamatan tubuh umumnya!

***

Dari Sebuah Buku

Judul : Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen
Penerbit: CV. Diponegoro, Bandung, Indonesia
Cetakan ke: 2

Judul Asli: Al-Islam wan Nasharanniyyah fil'ilmi wal Madaniyah
Terbitan: Mesir, 1373 H
Kata Pengantar: Muhammad Rasyid Ridha (Penerbit dan Pimpinan Majalah Al-Manar)

*Tentang Muhammad Abduh, klik di sini.

2 comments:

  1. Wah, kayaknya Mbak Nadia Adibie bisa diundang di DeJure (Diskusi Jum'at Sore) untuk jadi narasumber atau pembahas. Kalau mau menghubingi Mbak Dibie lewat apa ya?? Pengen sekali mengundang anda. Ohya, DeJure diselenggarakan di Kantor LaPSI atau Rumah Baca Komunitas (Jl. Pak Rebo 119 Onggobayan RT 3 RT 30, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah, baguss sekali masnyaa :) insya Allah kalau diskusi selalu welcome :) sukses besaar yah komunitasnyyaaa !!! :D

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.