Friday, July 20, 2012

Hasut (Selamat Berpuasa Tanpa Apologia)

Aku mendatangimu. Di profile-facebookmu. Mencari-cari status yang membuatku dapat terkekeh mengejekmu. Atau mencari rasa iri yang timbul pada setiap status-status bahagiamu.

Padahal keslaahanmu tidak sebesar itu. Menurutku.
 Tapi aku tetap membuka foto-foto di album profile-facebookmu. Aku menelusuri badanmu yang bertambah gendut atau kurus. Lalu mencari foto-foto yang membuatku terkekeh mengejekmu. Atau mencari rasa iri yang timbul pada setiap momen-momen bahagiamu yang terpancar lewat senyuman manis.

Padahal hatimu begitu tidak peduli dengan prasangkaku.
Tapi aku tetap saja mencari-cari komentar-komentar mereka yang mungkin ingin menjatuhkanmmu. Lalu aku buka profile-facebook mereka satu-persatu. Aku mencari siapa yang keren, dan siapa yang tidak keren di sana.

Lalu saat kau cerita soal kekasih-barumu yang kau cintai.
Ah! Sial! Aku palng benci itu. Rasa benci yang tidak perlu dicari-cari. Dan lagi-lagi rasa iri karena kau telah memiliki yang lebih baik.

Lalu saat kau cerita soal bisnismu yang begitu lancar..
Hmm, aku masih juga mencari-cari kelebihan-kelebihanku yang lain ketimbang kelebihan berjualan yang kau punya.

Lalu soal prestasimu.
Tulisanmu yang telah dimuat dalam koran-koran. Novel yang telah terbit. Atau penjelajahanmua ke luar negeri, ke luar pulau, bahkan pertemuanmu dengan orantg-orang yang punya segalanya dari aku.
Dan, aku tersenyjm: mencari pembenaran-pembenaran atas diriku. Pastilah aku lebih baik!

Selanjutnya adalah soal kerapuhan-kerapuhanmu.
Hanya status-statusmu yang menunjukkan rasa sedih, putus asa, dan pesimis --lah yang aku komentari. Aku bilang, "Semangat!", "Pasti kuat!", "Aku ikut sedih..", dan kata-kata lain yang sudah pasti menunjukkan kepedulianku terhadapmu.
Padahal mungkin ada sisi lain di hatiku yang menyulut rasa senang. Rindu dengan kerapuhanmu. Lalu meremehkan.

***

"Rasa hasut itu yang membuatmu tidak bisa tenang, nduk..", ayah bilang.

***

Aku berbalik arah pada diriku.
Aku pasang kalimat-kalimat terbaik agar terlihat bahagia: padahal saat itu sedang iri padamu.
Aku tuliskan keprihatinan-keprihatinan sebagai apologia kesengsaraan mereka yang terkena bencana alam: padahal saat itu tak mau kalah darimu.
Aku buat tulisan-tulisan yang menunjukkan betapa berbakatnya aku: padahal saat itu aku ingin 'mengalahkan' kelihaianmu.

***

"Itu untuk siapa, Dibie? 'mu' -nya itu siapa? Kau ini ada-ada saja..", tanyamu.
"'mu'-nya untuk siapapun..", jawabku.
"Terus 'aku'-nya itu kamu, gitu?", tanyamu lagi.
"Mungkin saja 'aku'-nya itu aku. Tapi mungkin juga kamu..", timpalku.

Kau terdiam sejenak.

"Sudahlah. Sudah saatnya berbenah. Syetan paling suka rasa hasut di hati kita..", kita berdua sama-sama mengatakannya. Dalam hati. Dan menunjukkan kata-kata itu dalam sebuah senyuman.

***

Selamat Berpuasa Tanpa Apologia! :)

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.