Monday, July 2, 2012

Detak

Ada detak yang tak biasa hari ini. Kau datang dengan senyman yang berbeda. Dengan pakaian yang berbeda. Dengan kendaraan yang berbeda. Tapi bukan itu yang paling memberiku detak tak biasa itu.

Aku mendengar jam dinding berdecak lebih keras, semakin meyakinkanku bahwa detak di dada ini benar-benar tak biasa. Kau semakin mendekat. Langkahmu melambat setelah tundukan wajahku mengangkat. Mungkin kau melihatku dengan wajah pucat. Mungkin aku melihatmu tanpa air muka yang terbaca. Entahlah, tapi detak itu berdebum semakin cepat dan keras. Dadaku sesak. Aku mau pingsan!



***

Aku pernah terluka oleh posisi kita dan beberapa faktor yang menikam posisiku.
Aku pernah menangis dengan berang dalam gelap di sebuah sore; hujan yang deras.
Aku pernah terjatuh dan tidak satupun orang menolong, bahkan dirimu.
Aku pernah berlari di tengah malam, bertelanjang kaki dengan segala kesedihan.

***

Kau bahkan pernah, hampir tak bisa melanjutkan kuliah...

***

Suatu hari, kau bilang padaku:
Kita adalah manusia yang melewati ribuan detik setiap harinya. Jika malam hari kau menangis dan mendekapi diri sendirian, dengarkanlah suara detak jam dinding kamarmu berdecak.

Rasakanlah, bahwa waktu terus bergulir. Tak pernah berhenti untuk memberikan ribuan kesempatan di depan matamu. Kuatkanlah kakimu. Melompatlah lebih tinggi.

Cepatlah pejamkan matamu. Esok saat kau terbangun, semuanya akan lebih baik.

***

Kau terus berjalan menuju pintu rumahku. Aku masih menunggu dengan resah. Waktu semakin dekat. Detak jam dindingku tak pernah melambat. Aku yakin kau akan masuk ke rumahku di hari yang tepat.


No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.