Tuesday, July 10, 2012

Bila Harus Berdarah (Untukmu)

-- Fiction (1)

 

Tahukah kau, dulu aku pernah bangun sebelum subuh dan hanya memandangi wajah seseorang yang cuma bisa kurindukan dalam diam?
Aku mengaguminya, seperti dewa yang begitu tak punya kelemahan.
Aku memujanya, lalu pujian-pujian itu tak sampai langit-langit mulutku. Aku menelannya kembali.

Tapi, tidak saat denganmu.


Aku pernah mencoba bicara dengannya, terbata-bata.
Aku tidak mendapatkan kata apa-apa saat ia memanggil namaku. Padahal hanya menyapa.
Aku juga tidak sanggup menahan air mata saat ia mengirimku sebuah sms, "Terimakasih untuk kue-nya! sering-sering ya! :P"

Tapi, tidak saat denganmu.

Aku pernah bermimpi akan keliling dunia bersamanya. Aku pernah menyulut harapan tanpa kata-kata untuknya. Aku tersenyum saat seandainya memang mestinya aku tersenyum. Dan sisanya: air muka yang datar. Aku tak pernah mau mengungkapkannya.

Suatu hari dia pernah mengajakku jalan-jalan. Hampir mati rasanya mendapatkan telepon sehabis sholat subuh. Tapi kau tau? Aku menolaknya! Karena dan hanya.. hanya karena tak sanggup jika harus ada di sampingnya dalam waktu yang lama.

Tapi, tidak saat denganmu.

Suatu hari ibu datang padaku, menangis. Dan saat itu juga aku harus pulang. Pulang sepenuh-penuhnya. Ayahku sakit, dan aku tidak mungkin lanjut berkuliah. Aku hanya mengirim sepucuk surat untuknya.
 "Maaf, aku harus pergi. Semoga tidak ada takdir yang salah dari Tuhan."

***

Tidak, saat denganmu.
Aku tidak menemukan apa-apa yang membuat adrenalinku nyaris meledak di hadapanmu.

Tapi, lebih dari itu..

Akhirnya hari ini telah datang!
Aku tidak hanya terbangun sebelum subuh, tapi juga tak bisa tertidur sepanjang waktu. Aku mengagumi semua kelebihan dan kekuranganmu. Aku sanggup berlama-lama di sampingmu meski lelah telah menggerayap. Aku rela pergi denganmu dalam keadaan sakit. Aku terus menginginkan sms darimu selalu ada, saat kita sedang tidak bersama. Aku bersedia diajak jalan-jalan atau ke manapun itu asal kau yang memintanya. Dan. aku mampu bertahan tidak beranjak ke manapun, dan tak mungkin sanggup mengucapkan selamat tinggal dalam sepucuk surat.

Hanya ingin menuliskan, "Semoga kau adalah takdir Tuhan.."




2 comments:

  1. Tulisanmu menginspirasiku dibi,,,, makasii kawaann,,,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. wah, makasih juga ya sayaaang, udah mau mampiirr.. :) sering2 yah? hihi :))

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.