Monday, June 4, 2012

Euforia Tubuh Hidup, Pesta Jiwa Mati

Suatu hari, saat kau menemukan keadaan ini, segeralah tutup matamu dan kembalilah pada tubuhmu. Jika tidak, kau mungkin akan tertinggal dari tubuhmu, atau jiwamu meninggalkan tubuhmu. Jangan biarkan Tuhan memberikan jiwa lain yang mungkin lebih layak menggerakkan tubuh sempurna yang diberikanNya..

***

Saat itu aku sedang berkaca di sebuah toilet moderen di sebuah mall. Tidak semua orang di kota ini terbiasa dengan toliet sejenis. Orang desa terbiasa melakukan aktivitas buang air kecil di toilet jongkok, tapi di sini siapapun mesti duduk jika hendak buang air. Cermin di toilet ini juga terkesan mewah bagi sebagian orang, dan biasa saja bagi sebagian yang lain.

Aku bisa membaca mereka satu persatu. Meski ini aneh.

Biasanya aku tidak suka memerhatikan satu orangpun yang tidak ku kenal. Pacarkupun sering aku cueki. Tapi keanehan ini memang sudah sejak pagi: aku perhatian pada pacarku. Aku perhatian pada semua orang. Aku meneliti mereka. Hari ini, aku seperti bukan diriku.

Aku mulai merasa pusing berada di toilet ini. Aku juga tidak tahu mengapa dari tadi aku hanya berdiri di depan cermin, melihat orang yang tengah mencuci tangan, mengobrol, foto-foto, atau memarahi anaknya. Sedari tadi aku hanya melihat dan mengamati. Sesekali melihat wajahku di depan kaca. Tanganku lekat menempel marmer dingin yang menghiasi meja wastafel. Aku hanya diam. Seperti tak punya tenaga untuk bergerak, atau menjawab kata "permisi" dari semua orang yang lewat.

Tiba-tiba aku ingat aku harus segera pergi karena kakak sedang menunggu di sebuah tempat makan di luart toilet ini. Tapi entah kenapa kakai, tangan, kepala, hingga seluruh jariku tidak bisa digerakkan. Tapi mataku masih bisa melihat gambar pantulan gambar badanku di cermin. Aku ingin mereung dan merengut bingungpun tak bisa.

Lalu aku merasa bahwa yang terlihat di cermin hanyalah seonggok tubuh. Sejatonya tubuh itu bukan milikku. Tubuh itu yang diberikan Tuhan untukku, sebagai tempat untuk mewujudkan semua yang sulit dijelaskan: perasaan, kemarahan, kebingungan, cinta, kata-kata, dan semuanya. Tubuh itu bhukan milikku. Nantinya pada suatu hari, tubuh itu akan hancur dan aku tinggalkan. Nanti suatu hari, ada masa di mana tubuh itu menua dan tidak sanggup menampu jiwaku lagi. Jiwaku akan pergi.

Apakan sekarang saatnya pergi?

***

Aku tersadar dalam kesunyian sebuah toilet mewah tempat banyak tubuh berlalu lalang oleh jiwanya masing-masing. Tapi jiwaku bahagia bisa kembali ke tubuh ini. Namun mungkin tubuhku tidak begitu suka dengan jiwaku.

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.