Sunday, May 6, 2012

Mengaji

-- menyederhanakan kata "ilmu"

Mungkin anda sering mendengar pengajian yang sering ditampilkan di layar televisi, atau pengajian dengan ustadz-ustadzah di mesjid, mengaji sendirian di rumah, atau menonton ceramah secara online. Semua aktivitas itu sangat akrab bagi kita, untuk terangkum dalam satu kata: pengajian. Tapi bagi saya, mengaji itu berbeda.

Ayah saya, sering mengingatkan saya, "ngajinya jangan ditinggal, harus diperbanyak". Mungkin anda merasa kata 'ngaji' dalam kalimat ayah saya itu berarti membaca Al-Qur'an. Tapi bukan itu yang dimaksudnya, karena dengan kalimat tersebut, ayah saya sebenarnya mengingatkan untuk berguru pada ahli yang fokus untuk mendalami sebuah ilmu agama. Ayah sering menyebut 'ngaji qur'an' dan 'ngaji hadits' untuk didalami masing-masing dari ahli tafsir Al-Qur'an dan ahli tafsir Hadits. 

Kemudian hari ini, kata 'mengaji' atau 'ngaji' sangat sering saya gunakan dalam berbagai hal. Saya menganggap Karl Marx, Max Weber, Gramsci, dan ilmuan sosial lainnya telah ngaji kondisi sosial dan menceritakannya kepada kita. Saya juga sering mengingatkan adik-adik bidang perkaderan di semua lini saat acara (tentu saja sebelum saya mengundurkan diri) dengan mengatakan, "kita wajib ngaji Qur'an, tapi kita juga harus ngaji realitas sosial, ngaji Sistem Perkaderan yang sudah di susun --semakin dalam kita mengaji, semakin paham apa yang harus kita lakukan". Dan saya begitu merasa sangat dekat dengan aktivitas keilmuan saat menyebut, mendengar atau mengingat kata 'mengaji'.

Maka inilah kisah saya, sepanjang diskusi dengan seorang teman bisnis. Kami baru saja membahas sebuah sistem usaha dengan mengacu pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang konsultan bisnis bergelar sarjana, dan hanya sarjana saja: buakn magister, bukan Ph.D apalagi profesor. Anehnya, kami merasa buku konsultan tersebut lebih bermanfaat, realistis, bisa diperhitungkan dengan cermat, dan mudah dipahami penjelasannya, jika dibanding dengan sebuah buku manajemen ekonomi dari seorang profesor (di luar kemungkin kami yang salah beli buku).

Saya lantas berpikir, sebenarnya yang mana yang ilmu? Mengapa gelar profesor tidak bisa memberi akibat yang lebih positif ketimbang konsultan yang lulusan S1? Dan mungkin anda bisa membantu menjawab pertanyaan ini: mengapa Einstein, Bill Gates, Mark Zuckerberg, atau Steve Jobs punya sejarah meninggalkan atau minimal tidak menyukai pendidikan formal? Setidaknya dalam sudut pandang bisnis, saya menumukan arti dalam sebuah ilmu dari kata 'mengaji'.

Mengaji bukan sekedar menciptakan identifikasi dan rumusan masalah dalam sebuah penelitian lalu meneliti dan menyimpilkannya dengan bahasa-bahasa spesifik, tapi juga terjun langsung dalam sebuah suasana yang dipenuhi pikiran mendengar, melihat dan melakukan sendiri secara langsung. Mengaji membuka pandangan kita tentang problem yang timbul dalam sebuah suasana, dan menerjunkan tujuan untuk menyelesaikan problem-problem yang bagi kita harus segera diselesaikan. Mengaji harus langsung kepada ahlinya, tidak setengah-setengah dalam mencari teorinya. Tidak main-main pula untuk melihatnya. Mengaji dikerjakan tidak untuk mencari gelar, pengakuan, pekerjaan, dan kenaikan gaji, tapi hanya untuk menegakkan prisnip-prinsip keadilan dari Sang Maha Ilmu. Mengaji punya semangat mencerahkan. Menenangkan hati karena kita tahu apa yang harus kita pilih dan lakukan. 

Ya, inilah mengapa saya mengingatkan: mari kita mengaji, agar mengerti apa sebenarnya yang sedang dan harus kita lakukan! :)  










No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.