Monday, May 14, 2012

Kepasrahan

"Suruhlah dia membaca An-nisa 34, ngaji juga, jangan cuma baca terjemahnya. Pelajari dan renungkan tafsirnya, lalu jadikan bekal untuk menjadi seorang suami. Beritahu dia..", Ayah masih sempat memberikan setumpuk cintanya dengan kata-kata itu di bawah langit maghrib.

Jogja yang lengang. duduk di sebuah jok supir mobil sambil menikmati lelah dari perjalanan jauhnya. Aku melihatnya dari jok sebelah, melihat matanya yang penuh cinta, lalu mengalihkan muka ke depan: memilih menatap lampu-lampu kota sambil menyembunyikan titik-titik air mata yang sedikit.

***

Tuhan, tak ada lagi alasan untuk tidak selalu mengingatMu.. 
Tidak ada lagi kata yang bisa jadi alasan untuk tidak menyegerakan merapat padaMu..
 Dan untuk apalah hidupku jika bukan untukMu, untuk cintaMu, 
yang begitu nyata Kau tunjukkan di hadapanku..

Tuhan,
ini kami, lemah, dan bodoh
ampuni kami, satukan kami dalam ridhaMu,
izinkan perjuangan-perjuangan suci itu terukir dalam setiap nafas kami..
amin 

***

Kekasihku, jikapun tak ada kesempatan dan kekuatan lagi untuk kita di suatu hari,
perhatikanlah ini:
semua yang sudah kita ikhtiyarkan tak akan ada yang sia-sia,
hanya karena satu hal:
kita terus menujuNya, mencari ridha dan sayangNya.

Maka apalah arti kita? Tanpa selimut rahmat itu?

Semoga... :)


No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.