Sunday, May 6, 2012

Gemblengan (Dari "Sunctum")

Saya mungkin sama dengan sebagian kalian yang tidak menyukai aksi perpeloncoan dan kekerasan, tapi saya sangat menyukai penggemblengan. Ya, kita juga berpendapat sama dalam hal 'merasa tertekan' saat sedang digembleng. Tapi maaf, bagi saya, berpikir bahwa hanya 'tidak ada yang dapat merubah saya selain diri sendiri', ternyata Tuhan pertegas dalam kitabNya bahwa Dia tidak akan menolong kita kecuali kita menolong diri sendiri.


Saya merasa Tuhan Maha Adil dengan menetapkan sunnatullah tentang 'pertolongan' bagi masing-masing kita. Siapa sungguh-sungguh berusaha terbebas dari kendala apapun dalam hidupnya, maka Allah berjanji untuk menolongnya: janji Tuhan yang sangat berbeda dibanding dengan janji manusia tentunya.

Dalam sebuah film yang mungkin tidak terlalu booming di Indonesia, Sunctum, saya sangat mengagumi   Mr. James Cameron, yang juga menyutradarai Avatar dan Titanic, atas rasa "tidak menyerah yang dibawakannya". Film ini menyajikan kisah yang mengagumkan dari para peneliti goa di satu daerah di Papua Nugini. Pemandangan awalnya indah, seolah tidak akan banyak yang terjadi serumit lanjutan film itu sendiri. Beberapa orang yang terlibat dalam penelitian itu mati karena sebuah badai dan hujan yang mengguyur mereka yang berada di dalam goa. Goa yang ujungnya bukan sungai besar, tapi lautan yang luas. Goa yang sangat dalam.

Pada beberapa menit terakhir scene film ini memerlihatkan dua orang peneliti yang tersisa: mereka adalah sepasang anak dan ayah. Mereka telah berjuang untuk tetap hidup di tengah bencana dalam goa yang membuat saya sesak melihatnya. Sebagai seorang penonton normal, saya sangat lega saat mereka berdua menemukan sebuah lubang keluar dari goa menuju ke hutan. Sangat disayangkan tekstur dari dinding goa seberti guci dari dalam, sehingga hampir atau bahkan memang tidak mungkin bagi mereka untuk memanjati dinding-dindingnya.


Saya memikirkan sesuatu yang diucapkan oleh si anak.

"Baiklah, ayah. Kita bisa menetap sementara di sini sambil menunggu pertolongan. Mereka pasti sedang mencari kita"

Tapi sang ayah berpikiran sangat berbeda, dan menjawab ujaran anaknya, "Kita tidak boleh mengandalkan mereka. Mereka pasti berpikir kita sudah mati. Kita tidak bisa menggantungkan nasib pada mereka. Tidak ada jaminan mereka akan menjemput kita. Kita harus cari jalan lain, menyelam lagi, dan menemukan jalan keluar".

Si anak menurut. Mungkin si anak berpikir sama sepertiku: malas melanjutkan perjalanan dan lebih suka menunggu pertolongan, atau minimal berteriak minta tolong. Tapi, saya jadi berpikir lagi setelahnya, bahwa apa yang disebutkan oleh tokoh ayah adalah jauh lebih benar dan berani ketimbang pikiran pengecut saya.

Dan saya menikmati film itu sampai selesai, sambil menyunggingkan senyum. Bahwa Tuhan tidak akan menolong kita, jika kita tidak bergerak menolong diri sendiri. Semoga setiap tempaan problem yang menghantui kita setiap malamnya, dapat menjadi gemblengan bagi kita, agar semakin kuat dan hebat bertahan.

Selamat menikmati segala macam Gemblengan!





No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.