Wednesday, April 11, 2012

Sunnatullah

Terserahlah, kau mau bilang kau atheis, tidak percaya Tuhan, atau bagaimana?
Atau kau hendak bilang padaku; katanya Tuhan Maha Baik, lalu mengapa kita miskin?
Dan kemudian kau akan bilang; yah, munkin ini yang terbaik untuk kita, bisa jadi jika ini tidak terjadi pada kita, akan ada keburukan yang lebih besar yang akan kita dapat..
Kemudian kau nasehati aku; ini buruk, ini baik, kau berubah, kau begitu hebat, kau busuk, kau munafik, atau apapun itu! 



Terserah dan terserah! Apapun itu.. Terserah!
Aku hanya ingin bilang; Tuhan sudah menetapkan kententuanNya semenjak awal penciptaan kita. Semuanya. Semuanya.
Kesemuanya itu begitu mudah bisa kau saksikan dalam sebuah adegan memakan, lalu kau kenyang. Adegan minum, lalu dahagamu hilang. Adegan dicubit, lalu kulitmu merasa sakit. Ya, kesemuanya itu dapat kau jumpai dengan mudah dan dengan sangat mudah..

Kesemuanya itu sebenarnya sudah kau dapat dari buku-buku fisikamu; bagaimana partikel-partikel benda langit itu bergerak, meledak dan membentuk planet-planet. Bagaimana kesemuanya itu telah menjadi hukum sebab akibat: hingga hanya bumi yang paling mungkin kita singgahi untuk hidup ---bahkan tidak satu planet lainpun, yang tak mematikan.

Kesemuanya itu sederhana, sudah ditetapkanNya. Dan kesemuanya itu rumit, karena beginilah kita, manusia. Hanya setitik ilmu yang kita tahu dari sesamudera ilmuNya..

Dan inilah yang aku tahu kawan. Bahwa tak ada yang tidak mungkin sebagaimana juga tidak  mungkin kita tahu semua yang Tuhan tahu..

Maka untuk apa kau bilang ini nasibmu, itu nasib dia, dan beginilah aku --tidak mungkin berubah? Toh kau jadi begitu sok tahu dengan setitik ilmumu dari sesamudera ilmuNya untuk memiliki sangkaan-sangkaan yang sama sekali kau buat sendiri?!

Yah, janganlah kau sok tahu. Bahwa inilah nasibmu, inilah jalan yang harus kau tempuh, inilah yang maksimal yang bisa kau lakukan dengan nada berpasrah sambil menyimpan rasa iri dengan orang lain! Itu sok tahu kawan, itu sama sekali rasa sok tahumu.

Kau tahu kawan, aku masih bertanya-tanya dalam titik kebodohanku dihadapan Tuhanku: apakah benar dugaanku bahwa alien itu jin? Tuhanku bilang dalam kitabNya, makhlukNya adalah jin dan manusia yang ditugaskan untuk menyembahNya. 

Seperti halnya 1000 tahun yang lalu tidak ada yang tahu bahwa kita bisa terbang selama satu jam dengan jarak tempuh Jakarta-Bengkulu, kan? Apa kau bisa memastikan saat ini alien itu jin atau bukan? Yah, belajarlah terus..

Tidak ada yang tahu soal Alien-alien itu, sebagaimana pula tidak ada yang tahu siapakah kau setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun lagi: Maka Teruslah Belajar!

***




No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.