Tuesday, April 3, 2012

Sidang Gombrang Gambreng!


Seorang anak kelas satu Tsanawiyah. Dalam sebuah asrama. Ia perempuan, perempuan beranjak remaja yang masih pemalu, penakut, dan terbelit rasa minder. Anak mami dan papi, yang mungkin karena kemami-papiannya Ia sungguh tidak tahan. Ya, dia tidak tahan karena tidak biasa ditahan: selalu dibebaskan, dimanja dengan penuh kasih sayang.

Malam ini, dengan mata bengkak dan pilu Ia keluar dari ruang Mushalla. 
Sudah pukul setengah satu malam. Sedari maghrib Ia tidak beranjak dari tempat itu. Tempat pertama kali Ia menangis sesenggukan: sebelumnya tidak pernah! Ada rasa malu, takut dan benci dalam dirinya. Benci. Benci sekali pada kejadian yang baru saja dialaluinya dengan susah payah.

Ia menuruni anak tangga dan kembali ke dalam kamarnya yang sudah gelap. Ia masih harus mengurusi matras tipis tempatnya tidur setiap malam: dan bukan lagi springbed empuk, guling-bantal tebal lengkap dengan boneka Teddy asli dari Eropa yang besar dan sanggup memeluk badan mungilnya.

Ia mulai menurunkan badannya, merendahkan seluruh bagian tubuh menjadi satu garis lurus: terbaring. Ia masih harus was-was dengan suara jangkrik yang semakin meyakinkannya bahwa ada kesunyian dalam ruangan itu. Ia masih harus was-was, jikalau sewaktu-waktu ada kecoa yang menghampirinya. Atau tikus. Atau lipan. Atau lintah. Atau apa saja yang tidak pernah Ia dapati dirumah mami-papinya.

Dan merekatkan kedua mata. Sudah tak mampu menangis saking bencinya dengan keadaan itu. Hanya berbisik, tegas dan kuat namun tanpa suara, "Anjing!!!".

***

"Fraksi partai pelangi silakan bicara!", seru ketua sidang.

"Ketua harus tegas! Tidak boleh ada lagi kesempatan bicara ketua!", satu suara terangkat. 

Menyusul yang lainnya, "Biarkanlah mereka bicara dulu! Ini negara demokrasi woooiii!!!!".

"Kami hanya mau bicara sedikit saja. Sebagai partai oposisi ketua! Katanya demokrasi, kok begini?!!"

Yang lain berebut bicara: 
"Dipercepat saja ketuaaaa, ini sudah larut malam!"
"Ketua harus tegaaaas!!"
"Tolong jangan seperti binatang! Hormati forum! Hormati orang yang mau bicara!"
"Tidak perlu ketua, ini sudah menyalahi undang-undaaang!!"
"Forum ini tidak sah! Tidak ada lagi demokrasi di sini!!" 

Sang ketua sidang masih terdiam. Ia menaruh jari telunjuk di badan bibirnya. Membiarkan semua orang, siapapun itu, bicara. Berteriak masing-masing. Ia tidak bingung, tidak panik dan masih tenang saja. Hanya dia sedang ingin diam. Mulai ada kerusuhan di pojok ruangan. Mulai ada yang berdiri dan maju ke depan meja pimpinan sidang. Ketua masih diam saja.

"Ibu, tolong lebih tegas bu!", kata seorang lelaki agak tua. Suaranya sudah parau. Mungkin karena itu Ia harus maju ke hadapan meja pimpinan sidang untuk bicara.

Tapi sang ketua masih diam saja. Ia malah melamun. Pandangannya kosong. Bibirnya mulai bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena sebuah ingatan. Ingatan yang membuatnya ingin pingsan!

***

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam itu. Anak remaja kecil, kelas satu Tsanawiyah. Hidup dalam sebuah asrama. Anak mami-papi. Yang harus tidur di atas matras tipis setiap malam: setelah terbiasa tidur di atas spring-bed mahal, bersama Teddy Bear dari Eropa.

Malam itu, menjadi malam yang tidak mungkin dilupakannya. Ia ditampar, dibentak, didorong dan hampir dikeroyok hanya karena alasan yang baginya sederhana dan tidak penting: berbohong.

Di atas matras itu, gadis kelas satu Tsanawiyah dalam sebuah pondok pesantren itu, masih menangis dan tidak habis pikir. Mengapa Ia harus diperlakukan kasar hanya karena masalah yang begitu kecil. Ia menerawang kejadian seharian tadi, masih belum bisa tertidur. Ada kebingungan, dendam, benci dan rindu pada rumah dalam hatinya. Keningnya mylau menyerngit dan mencoba berpikir jernih, adakah memang sebesar itu kesalahannya?

Pagi hari sebelumnya, Ia melenggang seperti biasa menuju ke sekolah. Tempat yang sama sekali tidak jauh dari asrama untuk menginap setiap harinya. Ia membeli sebuah kue pukis rasa coklat yang disukainya, sebagai penggantu sarapan. Ia tidak pernah suka sarapan, makan siang, atau makanan apapun itu di asrama. Tidak enak, baginya. 

Ia memang tak menyadari, ada uang Putri, sahabatnya, di kantongnya. Putri menitipkan uang Rp. 10.000,00 kepadanya. Ia lupa, benar-benar lupa akan akad penitipan itu. Dan dengan mudah Ia gunakan uang tadi untuk membeli kue pukis. Harganya Rp. 500,00. Ia membeli 3 kue pukis. Sehari berlalu. 

Sore harinya, Putri meminta uang itu kembali. Ia baru ingat bahwa Putri menitipkan uang kepadanya. Sore itu sudah hampur maghrib. Putri marah karena uang yang diterimanya tidak sampai 10.000. Ia berjanji akan mengembalikan uang Putri esok harinya. Tapi Putri terlanjur marah. Lalu Ia sedih dan takut telah membuat Putri marah.

Ia masuk ke kamar. Azan maghrib menggema. Saat pengawas berkeliling menyuruh seluruh santru untuk sholat, Ia bersembinyu di bawah kolong meja. Ia tidak mau sholat. Ingin menyendiri dengan rasa takut dimusuhi oleh Putri.

*** 

"Oke, oke, seluruhnya! Saya ketua sidang dalam sidang ini! Diam semuanya! Mohon tenang!!", ketua sidang nampak mulai merasa stres dengan kondisi ruang sidang.

"Ijinkan dulu fraksi kami bicara ibu ketua! kami ingin bicara! kami harus bicara!"

"Oke, fraksi Jerapah, silakan anda bicara. Mohon yang lain diam dulu!", Ibu ketua menjawab.

"Nah, begini ketua. Menurut pasal A ayat 3 ini, kita harus mengutamakan kepentingan rakyat. Kita di sini ada untuk rakyat. Kita mewakili aspirasi mereka untuk memperjuangkan hak mereka, ketua. Sedangkan kenaikan harga bbm ini demi kita ketua. Jika harga bbm tidak naik, maka kita tidak akan lagi di sini ketua! Mohon ketua pertimbangkan nasib para partai jikabbm tidak dinaikkan? Kita akan habis ketua. Dan tidak ada lagi yang memerjuangkan hak-hak rakyat di gedung ini, ketua.."

~

"Kenapa tidak ikut sholat maghrib?"
"Kenapa berbohong, dan bilang sudah sholat maghrib?"
"Kau tahu, sudah melakukan dua kesalahan besar!"
"Pertama tidak menegakkan sholat"
"Kedua, berbohong karena bilang sudah sholat, padahal belum!"
"Kau tahu apa yang semestinya kau dapat dari kesalahan-kesalahan itu, ha?!"

Ia lalu ditampar. Dipelintir bibirnya. Dijambak. DIbentak. Dan semuanya. Semua yang baginya dahulu, berbohong dan tidak sholat menjadi hal biasa.

"Ini sidang terhormat! Kau tidak bisa berbohong di sini. Mengaku salah itu lebih baik, daripada kau harus berbohong! Jangan kau tutupi kebusukan sekecil apapun dengan mulut yang berbohong, beralasan, berdalih, atau apapun! Selanjutnya kau akan tutupi lagi kesalahan-kesalahanmu! Sekali kau berdalih, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan selain berdalih untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya.. "

~

"Bu Ketua! Mohon jangan biarkan mereka berdalih terus bu!"

***

Malam sudah pekat di luar gedung itu. Ribuan mahasiswa di puluhan kota masih terbangun. Melempar batu. Membakan ban. Berteriak. Bernyanyi. Sedang ratusan-ribu rakyat menunggu dengan gelisah..

Ada seorang penjual tahu goreng di depan minimarket mengeluh kepadaku, "Mereka itu mainin kita aja mbak! Bener! SIdang apa kemaren itu sampe jam 1 malam?! Sidang gombrang gambreeng!!"


*****


No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.