Wednesday, April 4, 2012

Hijrah


Ya Rasul,
Seandainya engkau berada di hadapanku kini,
Mungkin aku akan segera menangis di bawah lututmu. Hanya untuk sekedar bertanya, "Bagaimana ini ya Rasul? Ya Muhammad?"

Seandainya, saat itu aku berada dalam barisan orang-orang pertama yang beriman, dan harus meninggalkan kota Makkah atas keputusanmu, apa yang akan menjadi komentarku ya Rasul?

Kota Makkah itu kota kelahiranku, nenek moyang dan keluarga besarku. Tapi aku harus pergi meninggalkannya..

Aku tidak tahu ya Rasul, seandainya itu aku, aku akan komentar apa?

Mungkin dengan segala kepengecutanku, aku akan berpikir, --untuk tidak sampai mengatakan kepadamu:

Apa yang dikatakan oleh saudara-saudara kandungku yang belum memahami apa yang aku pikirkan saat itu, ya Rasul?

Mereka mencemoohku, mencaci aku, dan mengatakan betapa tidak setianya aku! Betapa tidak bertanggung-jawabnya aku!

Tapi saat aku tanya padamu, kau menjawab, "Kita harus hijrah.."


***
Ya, kita memang harus HIJRAH!

Setidaknya ya Rasul, dengan segala kemunafikan yang terpendam dalam hatiku, aku masih berusaha membayangkan: apa yang kau pikirkan sampai memutuskan untuk hijrah? Bukankah paman, tanah kelahiran, harta, dan seluruh hidupmu ada di sana, ya Rasul?

Aku masih bertanya-tanya dan tidak mengerti apa yang kau pikirkan saat itu, ya Rasul. Hijrah bukanlah hal yang mudah. Hijrah bukanlah keputusan yang main-main. Hijrah membutuhkan keyakinan yang kuat bahwa langkah ini benar. Hijrah akan membawa pada kesepian, pada posisi tidak nyaman, pada spekulasi yang belum pasti, dan pada hal-hal berat lainnya

Tapi hijrah adalah keputusamu, ya Rasul..

Saat kau benar-benar meninggalkan kota itu, seandainya aku di sisimu, apa yang akan aku pertanyakan? Apa yang aku ragukan? Ah, ya Rasul, memang kau sungguh mulia! Aku tidak sanggup membayangkan keberanian dan ketegaranmu saat itu? Aku pasti masih pengecut dan begitu ragu untuk ikut denganmu atau tidak? Di Makkah ada keluarga, sahabat, saudara, harta, dan semua yang begitu berarti bagiku, ya Rasul..

Tapi kau tetap mengajak mereka hijrah...

Bukankah kau juga punya cinta ya Rasul?
Saat itu aku pasti bertanya: apa kau sudah tidak cinta lagi pada tanah Makkah ini, ya Rasul? Apa kau sudah tidak cinta lagi pada paman dan keluarga besarmu, ya Rasul? Apa kau sudah tidak cinta lagi pada ummat yang masih belum menerima ajaranmu ya Rasul? Apa kau tidak kasihan pada mereka? Pada ketersesatan mereka? Pada kejahiliyahan mereka? 

Tapi nyatanya, kau tetap memutuskan untuk hijrah ya Rasul..

Bukankah kau orang yang amanah dan bertanggung-jawab ya Rasul?
Saat itu juga, jika aku ada di sampingmu ya Rasul, aku pasti akan bertanya: Apa kau tidak mau bertanggung-jawab ya Rasul? Atas apa yang telah disampaikan Jibril kepadamu? Ini berita penting, ya Rasul. Ini berita besar. Dengan cara apapun, sesulit apapun keadaannya kita tidak boleh minggat dari sini ya Rasul! Tolong pikirkan sekali lagi ya Rasul, apa jadinya jika kota ini kita tinggalkan?

Tapi kau tak bergeming: kau tetap hijrah!


***


Tapi hari ini ya Rasul, aku tidak bisa membohongi dunia, bahwa kaulah teladan kepemimpinan siapapun itu. Kaulah manusia pilihan Allah, dengan segala perkataan, perbuatan dan persetujuanmu --etiket-etiket kehidupan berlaku.
Kau ya Rasul, yang sungguh berani meninggalkan kenyamanan. Meninggalkan keluarga, harta, dan tanah airmu! Demi kebenaran! Demi perjuangan yang tidak mudah..
Dan kau menang, ya Rasul! Kau liahtkan padaku, bahwa kau mampu kembali ke kota Makkah dengan kemenangannya..
Dengan pembebasannya menjadi negeri yang suci ya Rasul..
Tempat yang hingga kini dirindui muslim seluruh dunia..

Karena kesemuanya itulah ya Rasul, seandainya kau di sini saat ini. Sangat inginnya aku melihat --meski hanya anggukan kecilmu, saat aku bertanya, "Ya Rasul, saya mau hijrah. Saya mau berjuang untuk yang lebih besar. Bolehkah ya Rasul?"

Karena kesemuanya itulah, aku menjadi yakin ya Rasul. Bahwa cinta yang paling utama bukanlah pada tanah kelahiran, benda, keluarga atau apapun itu. Tapi cinta yang sesungguhnya adalah kecintaanmu pada kebenaran yang kau perjuangkan ya Rasul..

Karena kesemuanya itulah, ya Rasul..
Aku memahami, bahwa tanggung jawab terbesarmu bukanlah untuk memertahankan tanah, harta atau benda apapun itu. Tapi tanggung-jawabmu pada kebenaran! Amanah pada perjanjian pada Allah, bahwa kita adalah khalifah fil'ardlh! Kitalah yang dititipkanNya untuk berjuang bagi kebaikan bumi dan seisinya..

Karena kesemuanya itulah ya Rasul,
seandainya kau ada disini, aku ingin menangis di bawah lututmu: ingin mengumpulkan segenap keyakinan.


Ya Rasul, aku mau hijrah! Bismillahitawakkaltu'alallah! Aku mau HIJRAH!


(Yogyakarta, 4 April 2012: Sehari sebelum HIJRAH)

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.