Wednesday, April 25, 2012

Catatan Terakhir untuk IPM

Saya ingin menegaskan ini pada siapapun anda, baik pengurus, angggota, simpatisan, pengkrtitik, yang atheis, yang fundamentalis, atau siapapun dan apapun aliran anda. Sekali lagi, saya hanya ingin menegaskan!

Sebelumnya saya ingin bercerita untuk anda yang belum memahami latar belakang tulisan ini dibuat. Beberapa bulan sebelum saya menulis ini, saya adalah seorang bocah tengil yang dititipi amanah menjadi seorang ketua bagian perkaderan di sebuah organisasi pelajar Islam dengan skala nasional. Saya sangat berbangga bisa belajar banyak hal di sana, namun posisi tadi telah saya lepaskan terhitung sejak beberapa minggu terakhir. Saya tidak perlu membahas mengapa saya lepaskan itu, tapi saya hanya ingin berbagi soal kader. Kader apapun yang anda pahami, di manapun, dan bagaimanapun konteksnya. Kader adalah penerus perjuangan, itu benar! Kader adalah pencetus pembaharuan, itu benar! Kader adalah yang menguasai medan pertempuran untuk bertempur, benar! Kader harus bisa jadi contoh, itu sanagt benar!

Tapi saya tidak ingin pula membahas definisi kader. Saya hanya akan bercerita tentang sebuah slide-show power point. Saya sudah membaca slide ini dari senior saya, mbak Norma Sari Wardana, yang telah menyederhanakan materi "Falsafah Perkaderan" pada sebuah malam yang larut, selarut saya yang bingung membaca materinya. Namun slide itu ternyata tidak hanya sampai di situ saja, karena saya tidak langsung memahami isinya, apalagi mengaplikasikannya pada pelatihan, pembicaraan, aksi sosial, atau apapun itu.

Hari ini saya menertawakan diri saya sendiri, dan siapapun yang mencoba mengaplikasikan sebuah falsafah. Kalimat "mengaplikasikan sebuah falsafah" adalah kalimat yang menggelikan, karena falsafah bukanlah petunjuk praktis mendapatkan hasil yang dapat diukur dengan angka begitu saja. Bukan resep masakan yang bahannya sudah ada tinggal diolah dan diselesaikan. Bukan puzzle yang harus ditempatkan sebagaimana-mestinya untuk mendapatkan sebuah hasil. Apalagi sebuah petunjuk praktis mendapatkan sesuatu dalam beberapa detik, seperti permainan-permainan magis. Bukan!

Dalam sebuah slide-show buatan mbak Norma malam itu, saya tertohok dengan satu slide saja yang berjudul "Tujuan Pengkaderan". Ya, pengkaderan. Bukan perkaderan. Pengkaderan adalah sebuah proses praktis, karena diawali dengan afiks yang menunjukkan kata kerja: benar-benar aplikasi atau praktek. Berikut kalimat-kalimat tersebut satu-persatu saya tuliskan:

  1. Mencetak kader yang menyadari bahwa dirinya adalah Abdullah (Abdi, hamba, penyembah Allah) dan khalifatullah (pemimpin, pemegang amanah keduniaan selama masih hidup).
  2. Mencetak kader yang menyadari akan REALITAS SOSIAL dan melakukan usaha-usaha perubahan atas segala kondisi yang tidak benar atau adil.
  3. Mencetak kader yang bersedia bergabung dengan sebuah gerakan, ikatan, atau organisasi dan menjadi pembaharu dalam gerakan tersebut.

Saya merenungi satu-persatu dari setiap kata dalam tiga poin tadi. Dan saya berkesimpulan, bahwa poin-poin yang disebut Tujuan Pengkaderan tadi TIDAK BOLEH TERTUKAR. Saya mulai dari angka tiga, jika anda masih berpikir, bahwa sebuah organisasi melakukan pengkaderan untuk menyiapkan penerus-penerusnya di masa yang akan datang dalam struktur-struktur formal organisasi.

Pertama, jika kita mengawali dari poin ketiga: mungkinkah sebuah organisasi, yang katanya, berdefinisi sebagai sebuah kelompok tertentu yang bergerak mencapai satu tujuan, tidak menyadari realitas sosial apa yang Ia hadapi?  Ya, pasti semua akan amburadul karena setiap personel organisasinya tidak satu tujuan, bahkan mungkin tidak punya tujuan.

Kedua, jika kita mengawali dari poin kedua: apakah mungkin kita bisa melakukan keberpihakan terhadap sebuah sengketa/masalah sosial, jika beberapa orang yang memikirkan itu, tidak tahu apa tujuan hidupnya, tidak menyadari untuk apa Ia hidup dan untuk siapa semua yang ada dalam hidupnya? Jelas semua akan kacau, karena poin kedua itu tidak didasari pada kesadaran tujuan hidup di poin pertama.

Terakhir, seandainya kita mulai proses diskusi dan pencarian perkaderan terbaik dengan mengurutkannya dari poin pertama hingga ketiga, tanpa kita rubah susunannya, maka jadinya akan begini:

  • Kita akan tahu mengapa kita diciptakan, untuk siapa, untuk apa, kita tahu benar apa yang menjadi tugas kita dan apa yang harus kita lawan. Kita niatkan segalanya untuk beribadah mencari keridhaan Allah, kita sadari bahwa kita adalah satu-satunya makhluk yang dititipkaNya bumi, dan seisinya: yang artinya, kita bertanggung-jawab atas segala bentuk kerusakan alam maupun manusia, dan bertugas membenahinya.
  • Saat kita mulai belajar tentang semua kejadian yang ada di lingkungan sekitar kita, maka dengan sendirinya kita akan tahu: yang mana yang harus kita bela, yang mana yang harus kita lawan, jika tahu untuk apa dan siapa kita hidup. Menyadari semuanya, tidak hanya yang kita bilang urusan agama saja. Kau kira kau tidak bertanggung jawab atas apa dan berapa yang kau makan dan kau kencingi, ha?!
  • Dan jika dua hal tadi sudah kita capai, alangkah indahnya kita bersatu untuk mengorganisir diri mencapai semua yang kita impikan. Di sinilah tempat di mana kita telah melewati proses yang panjang dalam pencarian dan pemikiran: aksi! 

Tapi apalah daya saya, tidak bisa menggapai itu semua di IPM. Saya bukan menyerah, tapi saya hanya tidak mau buang-buang waktu. Justru saya terlalu pasrah jika tetap berada di sini. Terimakasih untuk semuanya. Yang terakhir, semoga tulisan ini masih layak dibaca dan direnungkan..

Inilah catatan terakhir saya. Persembahan terakhir saya. Untuk di tempat ini.
Bagi siapapun anda yang membaca ini, yang tidak pernah mengenal IPM, semoga tulisan ini bermanfaat untu me-reschedule apa yang anda lakukan nanti, esok, dan seterusnya..

Selamat merayakan umur 50-an, IPM! :)

12 comments:

  1. Mencerahkan sekali mbak, tulisannya!
    "Kader adalah laksana anak panah Muhammadiyah, yang siap dilesatkan kemanapun ia berada, (KH AR Fachruddin).
    Kunjungi blog sy juga: http://saifuddinzuhrie.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, terimakasih sudah dibaca yah?! insya Allah kita bisa saling mengunjungi blog.. mari saling follow :)

      Delete
  2. :(
    mb dibby,,,
    hiks,,,
    mb dmna sekarang??

    ReplyDelete
    Replies
    1. mohon maaf. ini siapa yaa? kok ga ada nama komentatornya? saya masih di Jogja kok. pasti anak IPM ini.. :) siapapun kamu, makasssiih sudah mampir membacaa :)

      tidak perlu ada tanda ":(", cukup :) saja.. :)

      Delete
  3. Bagus sekali. Saya juga tertarik dan berminat ut terus belajar trkait hal2 Pengkaderan. Saat ini saya trgabung di majlis kader sbuah PCM di Sleman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih kang Nur. harapan saya justru kita bisa semakin banyak belajar setelah membaca tulisan ini.. :)

      Delete
  4. setiap orang boleh berpendapat kan?
    selamat menempuh hidup masing-masing ^_^

    ReplyDelete
  5. wah mantap,. mbk. saya sepakat dengan yang dituliskan mbak dibie,. memang ketimpangan pemikiran menjadi pengganjal bagi kita mbak, begitu juga yang saya alami saat ini,. banyak kader yang kemudian saya simpulkan menjadi tuna sosial atau belum mampu memposisikan diri,. tapi memang tugas kita untuk meradikalisasi palajar menjadi hal yang berat. mbak dibie dengan keluar dari struktur IPM, saya yakin melakukan aksi di luar sana dengan dakwah kultural yang lebih tajam tentunya. Mbk dibie adalah orang yang faham gerakan itu pandangan saya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow.. zulfikarr.. kamu juga keren.. sangat kelihatan kalo tambah kaya ni ilmu dan amalnya.. :)
      tetap semangaaat yaah! aku terus berdoa untuk kemajuan IPM dan Muhammadiyah.. pertahankan modernitas kita :)

      Delete
  6. Saya melihat mbak dibie dan bang Maulana adalah orang yang faham bagaimana dan harus seperti apa suatu gerakan sosial. saya sadari tidak mudah mabk untuk sabar dan bertahan dalam struktur. Bagai saya keluarnya kader sekelas mbak dibie adalah bentuk aksi yang seharusnya menjadi banyak pertanyaan bagi kader2 lain, saya sendiri memahami dan wajar ketika keputusan itu yang dipilih.

    saya sangat sepakat dengan tulisan di atas,.

    ReplyDelete
  7. wah tulisannya bagus mba'

    salam pena!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih banyak.. salam pena dan tetap berkarya ! (^.^)9

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.