Sunday, March 11, 2012

Menuai Jalan Baru

Saat menulis artikel ini, saya sedang berada di sebuah cafe global donat Amerika. saya sampai di cafe ini saat hari masih sore dan saya yang berdua dengan seorang teman menaiki sebuah sepeda motor butut. sebenarnya sepeda motor biasa jua parkir di cafe ini, tapi malam hari saja. dan motor butut kami itu, berjejeran dengan sekitar tiga mobil di sebelahnya; meski tidak bisa dibilang mewah, namun cukup membuat orang lain perhatian dengan kepercayaan-diri kami memarkirkan motor butut di tengah mobil-mobil agak mewah.


nah, tiba saatnya kami memesan donat yang menawarkan paket “1 donut 1 beverages”. beberapa minggu terakhir kami sering ke cafe ini, tersebab ada paket yang menurut kami murah dibanding biasanya. kami juga rela merogoh gocek lebih untuk ‘membeli’ tempat yang nyaman saat membicarakan  bisnis kami. tapi sore ni berbeda. 

minuman panas yang pada beberapa hari sebelumnya, bahkan baru tadi malam kami pilih tidak bisa masuk dalam paket yang ditawarkan. teman saya bertanya dengan polosnya, “kok tadi malem bisa mbak?”. saya hanya tersenyum, sambil mendengar teman saya dan si mbak frontline yang berdebat, dan akhirnya kami tidak mendapatkan minuman yang biasa kami minum dengan paket harga yang sama. sebelumnya teman saya sempat minta minuman saja, tidak pakai donat, tapi saya menolak.

saya masih diam sampai kami duduk dan teman saya mengoceh. saya memilih diam, dan membiarkan dia bicara sampai dia bertanya mengapa sikap saya aneh. lalu saya jawab dengan tenang, “kita satu-satunya pelanggan yang naik motor tadi. keapa kamu harus eyel-eyelan sama waiternya soal minuman panas itu? apalagi membatalkan donatnya, mereka hanya akan mengejek kita dalam hati!”

dan teman saya hanya menjawab, “kamu terlalu mementingkan harga diri..”
saya balas, “kamu terbiasa dengan pasar tradisional yang biasanya, si penjual akan rugi kalau si pembeli membatalkan. ini perusahaan kapitalis, mereka gunakan gengsi dan pengotakan kelas-kelas sosial sebagai strateginya..”

dia terdiam. ya, saya sedang bingung juga. dalam sebuah organisasi massa, saya berjuang untuk mendatangkan orang-orang hebat untuk bicara; profesor dan doktor-doktor, tapi tak ada apresiasi. mereka lebih mengapresiasi seorang teman yang bisa mendatangkan seorang anggota dewan untuk program nasional yang ada duit transportnya. ssaya bilang: Angie juga dapat uang transport dari perusahaan Nazarudin!

ya, inilah jalan baru. jalan yang harus dicari kebenarannya.

No comments:

Post a Comment

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.