Tuesday, March 13, 2012

Impian

Untuk Dhennis dan Fitri..

Entah kenapa sebuah musim hujan di sekolah itu tidak pernah bisa aku lupakan, bahkan masih sangat hangat untuk aku selami, lagi dan lagi. Aku sudah sangat sering menuliskannya. Mulai dari tanah yang basah, lapangan sepi setiap sore tempat aku berpikir, hingga lorong-lorong kecil yang harus dilewati dengan berlari selepas maghrib, karena sudah terlambat masuk asrama. Semuanya lekat. Dekat. Seperti baru saja terjadi kemarin hari..


Mungkin karena getirnya saat-saat itu, saat di mana aku merasa menjadi diri yang cukup berarti. Bukan karena harapan eksistensi yang aku dapatkan setelah melakukan semuanya, bukan juga karena banyak kawan atau berani melawan, tapi karena aku mulai punya impian. Momen itu adalah saat di mana aku belajar bermimpi, dan mengawali jalan hidup yang terus dijalani hingga sekarang. Saat itu, kami bertiga, ingin melakukan perlawanan kecil terhadap kestagnanan organisasi yang ada di sekolah kami. Sangat sederhana, kami ingin meluruskannya menjadi organisasi yang semestinya dan membuat sekolah kami bisa memiliki keluasan jaringan, yang harapannya akan membawa kemajuan. 

Saat itu aku merasa bekerja sangat maksimal. Sehabis-habisnya tenaga dikerahkan. Keringat, tangis sedih campur dan haru jadi satu. Setiap waktu. Berpikir keras. Bertindak seberani-beraninya. Meski sekarang tak ada yang mampu mengenangnya, mungkin hanya aku sendiri dan dua sahabatku tadi. Ya, semua itu terbaca sangat sederhana..

Hingga akhirnya kini, aku menyadari bahwa impian yang kita pupuk adalah jalan hidup yang kita pilih. Akhir-akhir ini banyak yang bilang padaku, bahwa idealisme itu ada saatnya kokoh dan ada saatnya harus kita kesampingkan selama tidak terlalu menyalahi cita-cita kita. Bagiku jawaban tadi hanya akan jadi bau busuk di suatu hari, dan terlalu diplomatis. 


"Bagaimana kami harus melawan, aku sendiri butuh pekerjaan?"

Mengapalah pekerjaan dan perlawanan harus kita pisahkan? Impian mengajarkanku jalan kehidupan. Bahwa banyak pilihan-pilihan yang harus dijalani dalam hidup. Menjadi jalan hidup. Entah itu setiap detik yang terlewat setiap harinya, tujuan, ibadah, apalagi hanya sekedar pekerjaan.

Napas yang terengah-engah pada setiap malam hari itu, kini menjelma menjadi tangisan-tangisan yang harus kuat aku terima dan engahan itu juga yang mengingatkanku, bahwa segalanya itu mungkin. Segalanya pasti baik-baik saja. Tuhan Maha Segalanya, Pemilik Segalanya juga termasuk jalan hidupku. 

Terimakasih kawan..
Tawa kita hari itu, saat mengejek kegilaan kita itu, menjadi kekuatanku saat ini!  

6 comments:

  1. Replies
    1. afif kan? berilah nama dan alamat email buat ucapan terimakasih saya :)

      Delete
  2. haloo, masih ada yang belum bisa comment di sini??

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. ngetes terus aja nih Dzar.. yang asyik dunk komennya :)

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.