Saturday, December 27, 2008

Setelah Lama Semua Ini




Aku memutuskan untuk membelokkan motorku ke warnet malam ini, sengaja hanya untuk menuliskan ini dan membaginya pada siapapun yang membaca posting ini. Sungguh, banyak sekali hal yang ku dapat dan sangat ingin aku sampaikan di sini.

Pertama-tama, soal bulan desember yang penuh dengan ribuan hikmah dan cerita yang sungguh indah. Biarlah, biarkan hatiku ini menuliskannya di sini sepuasnya. Uang makanku ku korbankan saja, karena setelah Musywil ini, aku selalu merasa kenyang. Tidak seperti biasanya, maklum anak kost.

Bulan ini diawali dengan akhir pekan saat aku mengikuti bakti sosial IMM di dusun Singkil Gunung Kidul. Di sana kutemui banyak sekali warna baru yang mengguyur jiwaku dan membawanya pada kesejukan. Pertama kali aku belajar mengiris-iris daging kurban ala para profesional dan memberi garam pada kuli yang baru saja dilepas. Lalu aku bermain dengan anak-anak TPA yang baru mengenal lagu "Anak Sholeh" saat kami bertandang ke sana, dan aku miris memerhati keadaan itu. Dan saat hari kedua tiba, setelah seharian penuh aku dan Lely berkemelut dengan daging kurban (termasuk memakannya) kami melihat video mengagumkan di sebuah kamera digital milik mbak Yaya. Sebuah dokumentasi yang menginspirasiku untuk menjadi lebih 'hidup' secara tiba-tiba. Terlihat sosok mbak Uun dan mas Eko membantu anak-anak berwudlu, menemani dan dengan sabar menuntun mereka berwudlu dengan benar. Cerita ini pasti sangat sederhana, tapi salam benakku sungguh tak lengkang terlupa.

Lalu minggu selanjutnya saat diajak ke Dlingo, kampungnya Hamdan bersama Lely dan mas Eko. Aku bertemu dengan adik-adik yang punya semangat begitu hebat dan mimpi besar yang begitu ingin mereka wujudkan. Rasanya ingin mengirim email pada mereka, memantau perkempangan perjuangan masjid mereka dari jauh. Dotambah lagi dengan adik-adik kecil yang masih polos dan selalu bersemangat. Betapa malunya sebagai orang dewasa aku tidak punya semangat dan kemauan hebat seperti mereka (anak-anak memang selalu menjadi inspirasi baru). Ditambah lagi dengan kekagumanku pada alam ciptaan Allah yang sungguh indah. Pemadangan dari "bukit bintang" itu bukti keagungan Allah bagi mereka yang berpikir. Sayang sekali, bukit bintang seringkali jadi tempat berpacaran. Aku berinisiatif membangun surau terbuka untuk sholat di sana. Pasti sangat hebat.

Minggu ketiga aku menekatkan diri pergi ke Prambanan untuk ikut-ikutan mengisi materi di Muhammadiyah Boarding School yang baru saja berdiri. Semboyan "bersenang-senang" yang aku dapat dari ESQ aku terapkan untuk memberi semangat pada mereka.
"Untuk apa kita di sini?!"
Dan mereka menjawab, "Bersenang-senang!!"

Waktu di Dlingo Hamdan mengubahnya dengan bahasa Jawa, "Kagem nopo kito teng mriki?!"
"Remen-remeen!!" jawab yang lain.
Kemudian lughatul arobiyahnya juga, "Madza na'malu huna?!"
"Farhan-farhan!!" (Mungkin inilah standar bahasa arab lulusan Mu'allimaat ;P)

Kembali pada minggu ketiga, aku bercerita tentang "mimpi Lintang" dan bagaimana ia tidak mendapatnya. Semua anak yang mengantuk jadi melek. Dan kami bernyanyi sebait lagu:
Mimpi, adalah kunci
untuk kita, menaklukkan dunia!
Berlarilah, tanpa lelah..
Sampai engkau meraihnya!
Sayang sekali aku dan Dhennis harus pulang pagi. Dhen kuliah dan aku penelitian tari. Sesuatu yang jauh lebih menyenangkan bergabung dengan anak-anak lulusan SD dan bermain dengan mereka.

Dan malam ini, baru saja aku pulang dari Musywil. Ketahuilah bahwa ada sebersit haru dalam benakku melihat sebagian yang ikhlas dan bersemangat. Tapi begitu besar kekecewaan melihat sebagian banyak dari mereka yang, entahlah, sangat menyedihkan. Aku percaya Allah mendengar do'aku ini:

Ya Allah,
di sebuah sudut siang tadi ku selami nikmatMu
satu persatu,
Aku larut dalam syukurku ya Allah..
Begitu indah hari-hariku terlewati,
Kenikmatan hadir silih berganti,
keindahan yang tak pernah hengkang sekelumitpu dari mata ini,
Ah, Subhanallah!
Aku merasakan denyut-denyut cinta yang Engkau beri..
Maka, tetapkanlah hatiku padaMu,
Berikanlah kemudahan di setiap langkahku,
Izinkan aku menggapai keridhoanMu,
Cukupkanlah aku dengan sayangMu,
Berikanlah kecukupan taqwa Ya Allah, agar aku bisa bertemu denganMu
di hari yang telah ditentukan. Bersama Mu'min sedunia,
Karena sungguh Ya Allah,
aku begitu merindukanMu...
Amiin!

Malam terasa begitu larut meski baru setengah sembilan. Rasanya semilir angin menawarkan nyenyaknya lelapku nanti di persinggahan para perantau.

Dan tasbih ini untuk syukurku,
Dan pesan ini untuk seluruh saudaraku,
Subhanallah!
Fa bi ayyi alaa i Robbikumaa tukadzzibaan??!


2 comments:

  1. haha. subhanallah. cerita ini ternyata "masih ada". aku malah sudah "lupa" dengan cerita ini. inilah mungkin yang disebut kisah klasik untuk masa sekarang.

    dan kemudian, dimanapun kita, bagaimanapun kita, tapi kita telah menjadi anak panah yang dilesakkan busur masa lalu untuk menemui sasarannya sendiri-sendiri.

    semoga, kita dipertemukan di puncak kesuksesan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentu saja masih sangat ada, dan aku masih belum bisa "lupa" :)

      Delete

berikan komentarmu tentang tulisan saya, di sini.